Wisata Ngalam Dalam 36 Jam

Tidak hanya Nostalgia Kolonial di kota terbesar kedua Jawa Timur serta aneka kuliner mengundang selera, kota Malang dalam dialek lokal biasa dieja terbalik menjadi “NGALAM” juga memiliki Kampung Wisata Pelangi Jodipan yang mendunia.

Kereta api Bima jurusan Gambir – Surabaya pp membawa saya dari Surabaya menuju Malang di akhir Desember 2019 lalu. Malang tidak lagi sesejuk dulu, meski demikian Malang tetap idaman tujuan wisata apalagi dengan semakin lengkapnya fasilitas serta obyek wisata di kota Batu, kota yang berjarak 20 kilometer sebelah barat kota, sebut saja desa Sidomulyo yang kerap dikenal sebagai desa sejuta bunga, petik buah apel, Museum Angkut, Jatim Park 1, 2, 3 dan masih banyak lagi.

Malang memiliki luas wilayah lebih dari 110 kilometer persegi dengan penduduk 900 ribuan orang. Menguak sedikit suasana kota Malang tempo doeloe cobalah berjalan kaki mengelilingi  Alun Alun Kota. Sisi Barat Alun Alun berdiri Masjid Agung atau Masjid Jami bangunan tahun 1875 sudah direnovasi berkali-kali sehingga meninggalkan wajah aslinya begitu juga gedung Societeit Concordia tempat berkumpulnya orang Belanda sempat dibakar saat perang kemerdekaan, pada tahun 1970 di lokasi yang sama di bangun sebuah gedung anyar yang dijadikan sebagai pertokoan Sarinah dan menjadi pusat perbelanjaan pertama di kota Malang.

Di perempatan Alun Alun Utara berdiri Gereja Protestan  (GPIB Imanuel) bermenara tunggal yang bersebelahan dengan Masjid Agung dibangun tahun 1861, berjalan sedikit ke arah  Utara dari gedung Sarinah ada Gereja Katolik  Hati Kudus Yesus atau Gereja Kayutangan (1905) dengan dua menara bergaya Gothic, sebuah karya indah dari arsitek MJ Hulswit yang juga menghasilkan karya Gereja Kathedral Jakarta. Depan gereja, wahana kuliner Toko Oen siap menerima  penikmat kuliner nostalgia.

Toko Oen tetap mempertahankan ciri bangunan tua serta sajian masa lalunya lihat saja dalam daftar menu, tersedia cookies khas Belanda seperti kattetonge (lidah kucing) serta kaastengel (batang keju) lalu eskrim andalan Oen Spesial serta makanan utama steik lidah, wienerschitzel dll. Selain itu urusan kuliner lokal-pun tidak kalah beraneka ragam dijumpai sebut saja nasi rawon Tessy, kue lumpur bakar khas sidoarjo, tahu telor “ria” timur Alun Alun, tahu campur Telkom “pak Sukir” hingga mie bakso “President” yang berlokasi fantastis bersebelahan rel kereta api aktif.

Kampung Pelangi Jodipan, adalah kampung wisata berupa sederetan rumah warga di tepi Sungai Brantas yang menampilkan dinding dengan aneka warna menarik dan tidak monoton. Jika pada umumnya rumah hanya dicat dindingnya saja, di kampung ini dinding serta atapnya bahkan jalanannya turut serta dicat warna warni mencolok. Adalah mahasiswa dari sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Malang melihat keberadaan hal yang potensial  di kampung Jodipan dalam hal ini lokasi yang memiliki pemandangan dan tempat yang bagus untuk berfoto. Melihat kondisi yang kumuh menjadi hal yang harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum diubah menjadi lokasi tempat wisata, maka dari itu mereka mencari sponsor dan melakukan penggalangan dana.

Di kampung pelangi ini terdapat banyak spot spot menarik untuk dijadikan latar selfie bahkan tidak kalah menariknya dengan beberapa spot mancanegara,  yang sangat menarik perhatian paling utama tentunya kampung pelangi itu sendiri dari sudut manapun spot spot selfie tidak berbilang, mengitari perkampungan mengingatkan pada perkampungan nelayan di pulau Burano Italia yang terletak tak jauh dari kota Venesia. Rumah rumah nelayan Burano dicat warna warni, biasanya warna yang dipilih para warga sengaja dibedakan dengan warna rumah tetangga sebelah sehingga warna dari tiap rumah tidak akan sama. Asal mula dari warna setiap rumah konon Burano adalah salah satu desa yang memiliki kabut tebal di setiap paginya. Sehingga seringkali nelayan yang pulang melaut kebingungan letak rumah yang mereka tinggali karena kabut yang begitu tebal, mereka mengenali rumah melalui warna cat.

Lainnya lorong payung memiliki nuansa khas sebanding dengan lorong menuju kuil Shinto di Kyoto-Jepang, Fushimi Inari Taisha namanya, keunikan dari kuil Shinto itu adalah deretan gerbang warna merah di pinggir jalan masuk kuil, setara uniknya dengan deretan payung warna warni kampung Jodipan.

Naskah & Foto : Lutfi Djoko D (l.sriyono@gmail.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s