Time Travel: Destination Palembang 1972

Hobi saya ngebolang mungkin sudah terbentuk sejak saya balita. Saat saya berusia 2,5 tahun di tahun 1972, orang tua saya mengajak saya berwisata ke Palembang dan Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Meskipun saat itu saya baru berusia 2,5 tahun, samar-samar ada beberapa bagian dari perjalanan wisata tersebut yang terekam dalam memori saya. yang paling saya ingat adalah bibir saya jadi bengkak karena makan nanas saat naik kereta api dari Palembang menuju Tanjung Enim 😀

Picture1

Dalam perjalanan wisata tersebut, ayah saya membawa kamera foto dan kamera film 8mm. Saya ingat, saat saya kecil ayah saya beberapa kali memutarkan rekaman film wisata kami di Palembang, dengan proyektor film 8mm yang di proyeksikan ke dinding, kami meyebutnya dulu film tembok 😀 Sekitar tahun 1978, saat saya SD, proyektor milik ayah saya rusak, sehingga saya tidak pernah lagi melihat dokumentasi film wisata kami ke Palembang, bahkan saya sempat terlupa bahwa ada dokumentasi keluarga kami dalam berbagai roll film 8mm.

Picture2

Setelah ayah saya wafat tahun 2016 lalu, saya beres-beres rumah orangtua, dan menemukan satu kantong plastik berisikan roll-roll film 8mm, namun karena tidak punya proyektornya, saya tidak tahu isinya film apa, saya simpan saja roll-roll film tersebut di rumah saya. Sampai akhirnya pada bulan Februari 2018, saya melihat ada yang pasang iklan di internet, menjual proyektor 8mm dalam kondisi baik.

Picture3

Setelah saya beli proyektor tersebut, saya langsung test beberapa film 8 mm yang ada di kantong plastik tersebut. Ternyata isinya sebagian adalah dokumentasi keluarga kami sekitar tahun 1971-1972. Ada film saat kami berwisata ke Binaria Ancol, Taman Ria Monas, Kebun Binatang Ragunan, Pekan Raya Djakarta, Kebun Raya Bogor, Wisata ke Bandung dan juga Wisata ke Palembang dan Tanjung Enim.

Picture4

Yang mengejutkan buat saya, kualitas film 8mm tersebut masih sangat baik gambar dan warnanya, sayangnya resolusi proyeksi di dinding tentu tidak bisa setajam resolusi film digital masa kini. Setelah mencari informasi di internet, saya menemukan salah satu production house yang melayani jasa transfer film 8mm ke file digital mp4 maupun format DVD. Namun prosesnya cukup lama, karena film 8mm tersebut di scan satu persatu. Akhirnya setelah menjalani proses transfer selama hampir 2 bulan, film-film 8mm tersebut berhasil di konversi menjadi file digital dengan resolusi film yang cukup baik.

Picture5

Video lengkap perjalanan kami ke Palembang dan Tanjung Enim pada tahun 1972 dapat dilihat di tautan berikut ini:  Dokumentas Video Palembang-Tanjung Enim 1972  (https://youtu.be/ECP6L2vcu20)

Picture6

Saya ingat, dulu ayah saya menceritakan perjalanan kami dari Jakarta ke Palembang dengan naik kereta api dari Jakarta ke Merak, disambung dengan kapal ferry dari Merak ke Bakauheni dan kemudian disambung kereta lagi dari Tandjung Karang ke Palembang. Dari still picture yang di ambil dari film 8mm, terlihat suasana stasiun kereta api Tandjung Karang pada tahun 1972.Dari still picture film terlihat juga interior kereta api dan pramugari kereta api di masa itu dengan seragam yang tidak kalah keren dari pramugari pesawat udara.

Picture7

Di Tanjung Enim, kami berkunjung ke rumah keponakan ayah saya, terlihat suasana perumahan di kota Tanjung Enim pada saat itu. Kami juga berkunjung ke kantor pusat Perusahaan Negara Bukit Asam, yang memiliki taman dan kolam teratai cantik di halaman depannya.

Picture8

Dari Tanjung Enim, keluarga kami melanjutkan perjalanan ke Palembang, mengunjungi keponakan ayah saya yang tinggal di daerah Sekip Pangkal, Palembang. Selama di Palembang kami berkunjung ke kompleks Pertamina di Plaju, tahun 1972 itu kompleks perumahan Pertamina di Plaju baru dibuka, tampak sangat modern dan rapi kompleksnya. Dalam rekaman film yang dibuat ayah saya, juga terlihat suasana sungai Musi, dengan landmark terkenalnya jembatan Ampera pada tahun 1972, terlihat juga pangkalan oplet di kaki jembatan Ampera.

Picture9

Melihat dokumentasi film 8mm ini sungguh membuat memori saya yang sempat lama hilang, kembali melekat. Sangat bersyukur rasanya memiliki rekaman film dimasa saya kecil, melihat kembali suasana kota Palembang dan Tanjung Enim di tahun 1972 yang begitu asri, bagaikan berpetualang ke masa lalu dengan mesin waktu 🙂

Picture10

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s