Masjid Negara Surakartahadiningrat

Bertandang dan  mengunjungi obyek wisata kota Solo  tidak akan  ada habisnya. Pada bulan Nopember 2017 lalu disela-sela acara pernikahan anak teman semasa kuliah, saya menyempatkan mengunjungi beberapa obyek wisata.  Pada postingan kali ini masjid seputaran kota menjadi obyeknya.

Informasi sejarah yang saya temukan, tahun 1960 Presiden RI Soekarno menerbitkan surat keputusan yang isinya empat masjid Solo merupakan Masjid Negara yaitu Masjid Laweyan, Masjid Ageng Surakarta milik Keraton Surakarta, Masjid Al-Wustho  milik Pura Mangkunegaran dan Masjid Al-Fatih Kepatihan milik Keraton Surakarta. Menilik sejarah, keraton Solo dan Jogya dulunya satu kesatuan, yaitu Mataram. Tapi karena perjanjian Giyanti maka Mataram terpecah menjadi dua, keraton Surakarta/Solo dan keraton Yogyakarta dan kemudian pecah lagi bertambah dengan Mangkunegaran di Solo dan Paku Alaman di Jogya.

Bangunan dengan mahkota kubah dan dilengkapi menara yang menjulang itu tampak berdiri kokoh, pemandangan itulah yang dilihat saat memasuki lingkungan Masjid Al-Wustho Pura Mangkunegaran yang berada di kawasan Jalan Kartini. Nama “Wustho” diberikan pada tahun 1949 oleh Penghulu Pura Mangkunegaran Raden Tumenggung KH Imam Rosidi. Sebelumnya, masjid hanya dikenal sebagai “Masjid Mangkunegaran”, masjid dibangun pada masa Pura Mangkunegaran diperintah oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegoro VII (1916-1944) namun peletakan batu pertama telah dilakukan sejak tahun 1878.

Keberadaan masjid tua tersebut cukup menarik karena namanya mengandung makna tertentu. Al-Wustho berarti “tengah”, “pertengahan”, disebut demikian karena masjid menempati posisi antara, berada diantara dua ukuran. Yang dimaksud disini adalah “sedang” dalam arti tidak sebesar Masjid Ageng Keraton Surakarta, tetapi lebih besar dari  Masjid Al-Fatih Kepatihan. Bangunan Masjid Al-Wustho dirancang oleh Thomas Karsten seorang arsitektur Belanda karenanya tidak mengherankan  gaya kolonial mendominasi bangunan.

Fisik masjid yang berdiri di atas tanah seluas lebih dari 4.200 meterpersegi ini  selain ruang utama shalat juga tersedia  serambi yang merupakan ruangan depan masjid, di serambi masjid terdapat beduk Kanjeng Kyai Danaswara. Bagian serambi dilengkapi lorong beratap yang menjorok ke depan dikelilingi tembok bercat putih berhiaskan relief kaligrafi Arab. Menara dibangun tahun 1926, digunakan untuk mengumandangkn adzan. Pada waktu itu, dibutuhkan 3-4 orang muadzin untuk adzan secara bersamaan  menghadap ke empat penjuru mata angin.

Eksplorasi  lanjut  ke Masjid Ageng Keraton Surakarta sebuah masjid terbesar  dan sakral di kota Solo di bangun sekitar tahun 1763 di atas lahan seluas lebih dari 1 hektar dengan daya tampung 2.000 jamaah. Lokasi masjid di Alun Alun Utara Keraton, sebelah Selatan masjid terdapat pasar Klewer yang terkenal itu.  Mengutip tulisan pemerhati budaya Fajar Misbakhul Munir bahwa istilah masjid Ageng (Agung) hanya digunakan di Keraton Surakarta dalam lingkup Kerajaan Mataram. Hal ini sesuai dengan salah satu isi dari Perjanjian Giyanti bahwa semua hal yang menyangkut istana Jogyakarta tidak diperkenankan untuk membuat bangunan lebih besar dari bangunan yang ada di Keraton Surakarta. Hal ini yang pula menjadi salah satu faktor mengapa masjid agung di Keraton Jogyakarta dikenal dengan istilah Masjid Gedhe. Luas bangunan Masjid Gedhe pun tidak seluas seperti halnya di Keraton Surakarta.

Terakhir,  Masjid Kepatihan atau Masjid Al-Fatih Kepatihan berada di Kelurahan Kepatihan Wetan Kecamatan Jebres. Masjid dibangun oleh Raden Adipati Sosrodiningrat IV konon pembangunan masjid sebagai mahar lamaran Pakubuwono X kepada salah satu istrinya. Keunikan  masjid ini  di bagian  atas pintu masuk sisi utara dan selatan ada lafal Khulafur Rasyidin (Abu Bakar,  Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), di atas pintu bagian  tengah ada lafal Allah SWT dan  Muhammad SAW juga tulisan tahun pembangunan masjid yaitu  1312 H atau 1891 M.

Ruang utama sholat diletakan mimbar berukir, pada ujung kiri kanan anak tangga ke dua dan ke tiga mimbar  terdapat ukiran berbentuk buah srikaya, filosofinya agar siapapun yang memberikan khotbah hendaknya yang penuh manfaat bagi jamaah sesuai tuntunan dan ajaran  Nabi Muhammmad SAW.

Naskah dan foto : Lutfi Djoko D (l.sriyono@gmail.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s