Walk Like An Egyptian

Minggu 3 September, setelah sarapan pagi, kami naik bis meninggalkan hotel El Wady El Muqoudas. Tujuan pertama pagi ini adalah patung lembu emas di kaki gunung Sinai. Dalam berbagai kisah diriwayatkan, saat Nabi Musa pergi selama 40 hari mencari wahyu illahi, sebagian bani Israil mulai tidak sabar. Mereka kembali menyembah berhala dan membuat patung lembu dari emas. Saat Nabi Musa kembali dari gunung Sinai, beliau sangat marah dan menghancurkan patung lembu emas tersebut.

Namun sebagian orang meyakini, patung lembu emas itu masih ada di kaki gunung Sinai. Kami dibawa ke lokasi patung lembu tersebut, yang terletak di kawasan perbukitan. Setelah tiba disana, saya perhatikan ada dinding tebing yang bentuknya menyerupai bentuk lembu, ada kepala dan matanya, ada badan dan sepasang kaki depan. Use your imagination lah.. 😀

Entah batu berbentuk sapi itu karya alam atau pahatan manusia.. Saya pribadi berpendapat, ini lokasi yang di pas-pasin dengan kisah Nabi Musa. Wallahu alam.. di dekat lokasi ini juga ada sebuah makam yang diyakini sebagai makam Nabi Harun (Aaron). Versi lain menyebutkan makam Nabi Harun berlokasi di Petra, Jordan. Kemudian kami melanjutkan ziarah ke makam Nabi Saleh, yamg  terletak di dekat kota St. Catherine.

Harun

Selanjutnya perjalanan wisata kami menuju Cairo. Jarak antara St. Catherine ke Cairo cukup jauh, sekitar 240km, yang ditempuh sekitar 4-5 jam perjalanan. Di tengah perjalanan kami mampir di sumur Nabi Musa. Lokasi ini merupakan tempat dimana Nabi Musa dan kaumnya beristirahat dari kejaran pasukan Firaun.

DSC_3649

Diriwayatkan, Nabi Musa membuat 12 buah sumur di lokasi ini, namun saat ini hanya ada 3 sumur yang tersisa. Sebagian sumur lainnya telah mengering, yang masih ada airnyapun terlihat kurang terawat. Lubang sumur berkedalaman sekitar 3 meter dari permukaan tanah, saat ini airnya tidak layak minum. Sumur ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari laut.

Dari sumur nabi Musa, kami melanjutkan perjalanan menuju Cairo, melewati terusan Suez. Terusan Suez ini boleh dibilang menjadi pembatas wilayah antara wilayah Mesir di benua Asia dan wilayah Mesir di benua Afrika. Sayang saat kami melewati terusan Suez ini tidak ada kapal laut yang sedang melintas. Kendaraan bermotor melalui ‘kolong’ terusan Suez, melalui terowongan sepanjang 1.640 meter.

Sekitar jam 1 siang kami berhenti di restoran untuk makan siang. Menunya ayam bakar ala Mesir. Potongan ayamnya sangat besar, sampai ada teman yang bilang ini sih kalkun.. 😀 Setelah itu kami melanjutkan perjalanan panjang ke Cairo. Sekitar jam 5 sore kami memasuki kota Cairo, dan langsung menuju tepian sungai Nil untuk dinner cruise.

Kapal yang kami naiki untuk dinner cruise ini tidak terlalu besar, kapasitasnya sekitar 300 penumpang. Kapal mulai bergerak sekitar jam 6 sore menyusuri sungai Nil. Begitu kapal bergerak, penumpang sudah boleh mengambil makanan buffet yang tersedia di atas kapal. Buat saya makanannya biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Yang istimewa adalah hiburan di atas kapalnya. Selama kita makan, dihibur dengan musik tradisional mesir, dengan perkusi yang riuh. Setelah sekitar 4 lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi pria, kemudian tampil seorang belly dancer, memeriahkan suasana di atas kapal. Belly dancer ini tampil selama 2-3 lagu.

Kemudian tampil Sufi dancer. Awalnya tampil penari bocah lelaki sekitar usia 12 tahun. Setelah beberapa lagu dia menari, kemudian tampil penari Sufi pria dewasa yang lebih entertaining, kostum yang dia kenakan dihiasi lampu-lampu kecil, sehingga saat dia berputar-putar, bagaikan gasing yang menyala 😀 Setelah sufi dancer ini, kembali tampil belly dancer dengan kostum yang berbeda.

DSC_3792

Dinner cruise ini berakhir jam 9 malam. Saat kami turun dari kapal, sudah ramai calon penumpang shift kedua yang antri naik kapal. Rupanya kapal untuk dinner cruise ini berlayar 2-3 kali dalam semalam.

Kami kemudian menuju hotel Grand Nile Tower, dulunya hotel ini bernama Grand Hyatt Nile, merupakan salah satu hotel terbaik di Cairo. Hotel ini juga pernah memiliki Hard Rock Cafe Cairo, sayang saat ini HRC nya sudah tutup, sedang persiapan pembukaan kembali di lokasi baru.

Paginya, tanggal 4 September, setelah sarapan, kami di ajak ke musium papyrus. Untuk melihat sejarah kertas papyrus pertama didunia yang dibuat oleh bangsa Mesir 4000 tahun lalu, dan demo proses pembuatan kertas dari tanaman papyrus. Namun ujung-ujungnya biasalah, peserta tour diarahkan untuk membeli produk hiasan dinding dari papyrus ini. 😀

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke kota Alexandria. Dalam perjalanan di atas bus, Pak Ala dari Ele tours Mesir, menghampiri saya sambil membawa birthday cake, lengkap dengan lilin yang menyala 🙂 Hari ini memang ulang tahun saya yang ke 48, senang rasanya mendapat kejutan di hari ulang tahun di negara orang 🙂 Kue ulang tahun pun segera dipotong-potong untuk dinikmati teman-teman peserta tour.

Screenshot_20170925-144021

Kota Alexandria pernah menjadi ibukota kerajaan Mesir pada tahun 1.200 an masehi. Kota yang terletak di tepian laut Mediterrania ini merupakan kota yang strategis karena berhadapan langsung dengan Eropa. Kota ini silih berganti dikuasai betbagai kerajaan, mulai dari kerajaan Yunani, Romawi, Ottoman, Inggris sampai akhirnya menjadi bagian dari Mesir setelah merdeka dari Inggris.

Perjalanan sekitar 3 jam dari Cairo tidak terasa melelahkan begitu kita melihat keindahan panorama pantai Alexandria. Saat kami disana, merupakan hari libur ketiga Idul Adha, jadi kawasan pantai sangat ramai dipenuhi ribuan manusia. Film Indonesia, Ayat-Ayat Cinta, sebagian berlokasi di kota cantik ini.

DSC_4080

Sebelum berkeliling kota Alexandria, kami makan siang dulu di restoran Fish Market. Restorannya cantik, di lantai 2 dengan pemandangan ke arah laut Mediterrania. Tapi makanannya biasa aja 😀, menu nya seekor ikan goreng dan nasi, udah itu aja.. nggak ada salad atau lauk lainnya.

Kelar makan siang kami dibawa ke istana musim panas Alexandria, Al Farouq atau dikenal juga dengan nama Montaza Palace. Istana ini dibangun oleh rajaAl Farouq pada tahun 1800an. Tapi istana ini tertutup untuk umum, kita hanya bisa melihat dari luar pagar saja. Di kompleks istana ini juga ada resor pantai yang terbuka untuk umum.

alexandria-01

Kami melanjutkan perjalanan ke Citadel of Qaitbay, atau benteng Alexandria. Benteng yang terletak di tepi laut ini merupakan icon kota Alexandria. Namun karena waktu kami terbatas, kami tidak masuk ke dalam benteng ini.

Tujian berikutnya adalah kompleks masjid Abu Abbas Al Mursi. Di kompleks ini ada 2 masjid yang letaknya saling berdekatan, yaitu masjid Abu Darda, dan masjid Mursi Abu Abbas Al Mursi. Rombongan kami menuju masjid Abu Darda yaang dibangun pada tahun 1700an. Di halaman masjid ini terdapat makam yang diyakini sebagai makam sahabat nabi, Abu Darda yang wafat pada tahun 652 masehi.

Tujuan terakhir kami hari ini adalah masjid nabi Danial. Di basement masjid ini terdapat dua makam nabi, yaitu nabi Danial dan nabi Lukman. Tidak jauh dari lokasi masjid ini terdapat kompleks Roman Theatre, reruntuhan theater kerajaan Romawi. Jika di bandingkan dengan kompleks Roman theater di Merida, Spanyol ataupun di Roma, Italia, kompleks Roman Theater di Alexandria ini termasuk kecil luasannya.

DSC_4185

Sekitar jam 6 sore, kami meninggalkan Alexandria, untuk kembali ke Cairo. Perjalanan 3 jam di malam hari ini sungguh tidak terasa, karena saya tidur pulas di bis.. 😀Malam terakhir di Cairo ini kami di ajak makan malam di halal Chinese restaurant,  katanya sih ini Chinese restaurant paling enak di Cairo. Memang benar enak makanannya, sayang porsinya sedikit 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s