Pendakian ke Gunung Sinai

Setelah melewati imigrasi Mesir di perbatasan Taba, kami melanjutkan perjalanan sekitar jam 2 siang. Perjalanan dari Taba menuju St. Catherine di tempuh sekitar 6 jam. Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk makan siang sekitar jam 4.30 sore, di sebuah restoran Korea di tengah gurun pasir. Aneh rasanya makan masakan Korea, dilayani oleh waiter berwajah Arab, di resto bergaya bangunan timur tengah di tengah gurun Sahara yang sepi dan panas 😀

Menjelang sampai di kota St. Catherine, sekitar jam 7 malam, kami di ajak mengikuti Safari gurun. Ini adalah wisata di kawasan gurun dengan mengendarai Jeep 4×4. Satu Jeep diisi 7 penumpang, saya kebetulan kebagian duduk di kursi depan, di bagian belakang 6 orang duduk berhadap-hadapan seperti di angkot. Seru juga naik Jeep di gurun pada malam hari ini. Suasana gelap membuat kita tidak bisa memprediksi jalur di depan, alhasil musti berpegangan erat-erat agar tidak terlempar-lempar di dalam Jeep. Safari Jeep ini hanya sekitar 10 menit saja, tapi lumayan mengocok perut 😀

Dalam perjalanan menuju hotel, tour leader kami menawarkan tour opsional ke Gunung Sinai. Awalnya cukup banyak peserta tour yang menyatakan tertarik ikut tour opsional ini. Kemudian tour leader menjelaskan, tour ini tidak disarankan bagi mereka yang fisiknya kurang fit karena waktu tempuhnya sekitar 7 jam di tengah malam. Penderita sakit jantung dan asma, ataupun mereka yang takut pada kegelapan dan suasana sepi disarankan tidak ikut. Semula, separuh peserta tour menyatakan minat mengikuti tour opsional ini, namun setelah mendengar cerita pemandu wisata, satu per satu kemudian membatalkan niatnya 😀

Kami sampai di hotel sekitar jam 9 malam, dan langsung makan malam di hotel. Setelah makan malam, saya beristirahat sekitar jam 10 malam, hemat tenaga karena mau ikut tour opsional ke Gunung Sinai. Sekitar jam 12 malam, pintu kamar saya di ketuk bellboy hotel, memberitahukan yang berminat ikut ke Gunung Sinai agar berkumpul di lobby hotel. Dengan terkantuk-kantuk saya bersiap-siap dan kemudian menuju lobby. Sampai di lobby, ternyata sebagian besar peserta yang tadinya mau ikut ke Gunung Sinai tidak muncul 😀 Akhirnya hanya 7 orang dari 63 anggota rombongan kami yang ikut.

Sekitar jam 00.30, kami berangkat dari hotel menuju kaki Gunung Sinai. Bis mendrop kami di dekat biara St. Catherine. Dari sini kami harus naik taksi lokal, menuju pangkalan Onta. Perjalanan dengan taksi cukup singkat, hanya sekitar 5 menit. Sampai di pangkalan Onta, kami langsung di arahkan ke Onta masing-masing yang sudah di siapkan. Naik Onta di kegelapan malam ini cukup susah juga ternyata, apalagi pas Ontanya mulai berdiri, kayak mau jatuh rasanya. Naik onta di sini tidak ada sandaran kakinya, jadi kaki kita menggantung aja di sisi badan Onta.

20170903_032636

Warga Bedouin yang mengawal Onta kami mulai memandu Onta menuju jalan setapak sekitar jam 1 malam. Awalnya mereka menuntun Onta di depan, tapi lama-lama kebanyakan mereka berkumpul di belakang, Onta-ontanya dibiarkan jalan sendiri di tengah kegelapan malam.. benar juga cerita tour leader kami, Onta disini sudah hapal jalannya.. 😀 Perjalanan mendaki dengan Onta ini cukup lama, dari pangkalan Onta sampai tempat perhentian di punggung gunung memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan, hanya suasana sepi dan gelap yang terasa, sungguh bikin ngantuk, tapi kita tidak boleh tertidur, kalau tidak ingin jatuh dari punggung Onta.

20170903_024043

Akhirnya sekitar jam 2.30 dini hari, kami sampai di pos akhir Onta. Di pos ini ada warung kopi, biasanya para pendaki gunung Sinai beristirahat disini sekaligus membeli bekal minum dan cemilan. Para penjaga warung di gunung Sinai ini umumnya bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit, rupanya cukup banyak orang Indonesia yang kesini. Sepertinya, dalam perjalanan pendakian ke puncak Gunung Sinai juga sering terjadi dompet pendaki terjatuh, oleh pemilik warung kopi, uang dan identitas pemilik dompet yang terjatuh di tempelkan di dinding warung, ada beberapa KTP WNI dan uang rupiah yang saya lihat di dinding warung ini.

Sekitar jam 3 dini hari kami disarankan untuk memulai pendakian ke puncak gunung, diperkirakan perlu mendaki sekitar 1 jam untuk sampai ke puncak. Dari 7 orang rombongan kami, 3 diantaranya merasa lelah dan tak sanggup untuk mendaki ke puncak, tinggallah kami berempat yang meneruskan perjalanan, itupun 3 diantaranya menggunakan jasa porter warga Bedouin, yang siap menuntun dan mengangkat mereka di lintasan yang sulit. Hanya saya yang memutuskan mendaki tanpa dibantu.

20170903_043625

Perjalanan ke puncak Gunung Sinai cukup menantang, lintasannya terbuat dari trap-trap batu yang disusun, tentu tidak seragam ketinggiannya, ada anak tangga yang hanya sekitar 15-20 cm, ada pula yang tingginya 40 cm lebih. Setiap sekitar 10 menit, kami harus beristirahat untuk mengatur nafas dan mengumpulkan tenaga. Setengah perjalanan, ada satu warung kecil yang menjual minuman, saya membeli minum disini sekaligus istirahat sejenak. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke puncak, setelah sekitar 1 jam berjalan mendaki, termasuk beberapa kali istirahat, akhirnya kami sampai di kawasan puncak Gunung Sinai.

20170903_054034

Bagi saya, pendakian ke puncak Gunung Sinai ini adalah perjalanan ziarah yang menggetarkan. Begitu sampai di kawasan puncak, dalam benak saya terbayang, ribuan tahun lalu di tempat inilah dasar-dasar agama yang kemudian di yakini oleh umat Islam, Kristen dan Yahudi, diturunkan. Di puncak gunung Sinai inilah nabi Musa berdialog dan menerima wahyu dari Allah SWT. Di puncak gunung dibangun masjid kecil dan gereja kecil untuk peziarah yang ingin beribadah.

20170903_043822

Saat saya sampai di kawasan puncak, waktu menunjukan jam 4 pagi, menurut warga Bedouin, sekitar 10 menit lagi akan masuk waktu shalat subuh. Saya kemudian menuju masjid Nabi Musa yang ada di kawasan puncak ini. Di masjid ini tidak ada air, maklum saja ini di puncak gunung dengan ketinggian 2.288 meter, saya bertayamum saja untuk pengganti wudhu, baru kemudian shalat subuh di masjid kecil ini, yang sebenarnya lebih tepat disebut surau.

20170903_044845

Setelah shalat subuh, saya berkeliling di kawasan puncak Gunung Sinai ini, meskipun udara tidak terlalu dingin, sekitar 18 derajat, tapi angin yang kencang cukup membuat badan menggigil. Perlahan terlihat ufuk mulai bercahaya. Bangunan masjid dan gereja yang semula hanya terlihat siluetnya, perlahan mulai terlihat bangunannya.

Sekitar pukul 5.00, pemandu kami mengajak kami mulai turun dari kawasan puncak. Meskipun matahari belum terbit, tapi langit sudah mulai agak terang, membuat jalan setapak yang kami lalui dapat terlihat tanpa bantuan senter, meskipun masih remang-remang.

Perjalanan turun dari puncak Gunung Sinai menuju warung di pangkalan Onta ditempuh jauh lebih cepat, jika saat mendaki kami perlu waktu 1 jam lebih, perjalanan turun sampai di warung ini dapat ditempuh dalam 25 menit saja. Menjelang tiba di warung, terlihat matahari mulai terbit di sisi timur. Sungguh cantik pemandangan matahari terbit dilihat dari Gunung Sinai ini.

20170903_062643

Sampai di warung, rekan-rekan kami yang tadi tidak ikut naik ke puncak terlihat pada sibuk mengabadikan pemandangan matahari terbit. Sambil ngobrol-ngobrol, saya melihat ada sapu yang tergeletak di depan warung. Langsung kepikiran deh, bikin foto naik sapu terbang di gunung Sinai ini. Setelah 3 kali take foto di bantu teman, dapatlah foto sapu terbang ini. No editing lho.. 😀

20170903_053907

Menjelang turun ke pangkalan taksi, warga Bedouin bilang, kalau jalan kaki perlu waktu 3 jam sampai di bawah, sementara kalau naik onta hanya 1,5 jam. Tadinya saya mau turun jalan kaki saja, teringat pesan tour leader saya bahwa kalau turun gunung nya naik onta, buat pria rasanya sakit banget seperti disunat 😀 Tapi karena yang 6 orang pada nggak mau jalan kaki, takut kecapekan, akhirnya saya solider, ikut naik Onta untuk turun gunung.

20170903_064531

Berbeda dengan saat perjalanan naik gunung, dimana badan kita condong ke belakang, saat turun gunung ini otomatis badan penunggang Onta terdorong ke depan, mentok ke tiang kayu pelana Onta. Benar apa yang dikatakan tour leader saya, sakit banget rasanya.. setelah sekitar 20 menit tersiksa di punggung Onta, sayapun menyerah.. saya lalu turun dari Onta dan memutuskan turun gunung jalan kaki. ternyata malah jauh lebih cepat berjalan kaki, kena deh di bohongin orang Bedouin 😀 Saya sampai di pangkalan Onta dekat St. Catherine monastery dalam waktu 50 menit jalan kaki, lebih cepat 20 menit dari rombongan yang naik Onta. Phew, kebayang gimana menderitanya jika saya musti bertahan satu jam lagi diatas Onta.


Jam 7.30 pagi kami meninggalkan St. Catherine monastery menuju hotel. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di hotel. Saat kami sampai, peserta tour lainnya sedang sarapan pagi. Sayapun bergegas mandi pagi dan kemudian bergabung sarapan. Setelah sarapan, sekitar jam 9 pagi kami meninggalkan hotel untuk berwisata di seputar St. Catherine dan kemudian menuju Cairo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s