From St. Petersburg With Love

Judul artikel ini memang plesetan dari salah satu seri film James Bond, From Russia With Love. Masih berhubungan dengan film James Bond, kota St. Petersburg juga pernah digunakan untuk sebagian scene film James Bond ‘Golden Eye’ yang di bintangi Pierce Brosnan pada tahun 1995. Kota cantik ini sungguh membuat saya jatuh cinta. Meskipun kota ini tidak sebesar dan semegah Moscow, dalam beberapa hal St. Petersburg terasa lebih menyenangkan bagi wisatawan.


Saya tiba di St. Petersburg sekitar jam 19:20 setelah menempuh perjalanan sekitar 3,5 jam dengan kereta Allegro dari Helsinki Finland.  Setelah turun dari kereta, seluruh penumpang kereta langsung di arahkan ke pintu keluar stasiun Finlyandsky, di stasiun ini tidak ada hall kedatangan, kawasan stasiun ini dijaga ketat oleh tentara Russia bersenjata lengkap. Setelah semua penumpang keluar dari gerbang, tentara segera menutup pintu besi, sepertinya jalur kereta internasional dari dan ke Finland ini merupakan area steril yang tidak boleh dimasuki sembarang orang.

Di depan pagar stasiun, banyak pengemudi taksi yang menawarkan jasa. Tapi saya teringat obrolan dengan salah seorang penumpang kereta saat hendak turun, pesan dia jangan ambil taksi dari depan stasiun, tarif nya gila-gilaan dan banyak kasus pemerasan. Saya bilang ke pemuda tersebut, saya punya apps taksi online Yandex, jadi saya akan pesan taksi dari aplikasi tersebut. Tapi saat saya mau pesan taksi online, ternyata pulsa SIM card Beeline saya sudah habis. Saya dan istri kemudian menuju Departure hall, untuk mencari ATM dan barangkali ada toko yang menjual pulsa. Setibanya di Departure hall, ternyata tidak ada mesin ATM dan toko sama sekali.


Saya lalu mencari ATM dan pulsa diluar stasiun. Di pertengahan bulan April ini, salju masih menyelimuti banyak bagian kota St. Petersburg. Saat saya berjalan keluar stasiun, turun hujan salju. Setelah berkeliling beberapa saat, saya menemukan counter Beeline di seberang stasiun. Saya kemudian membeli pulsa 100 rubel agar bisa mengaktifkan kembali internet. tak jauh dari situ juga ada mesin ATM, saya mengambil uang tunai rubel untuk bekal selama 2 malam menginap di St. Petersburg. Saya kemudian menjemput istri di stasiun kereta dan memesan taksi, hanya 2 menit taksi pesanan kami tiba. Kami lalu menuju hotel Ibis St. Petersburg Centre. Perjalanan taksi sekitar 20 menit dengan tarif 700 rubel.


Setelah check in dan beristirahat sejenak, sekitar jam 9 malam kami jalan-jalan di sekitar hotel Ibis Centre ini. Hotel ini terletak di sisi stasiun kereta Moscovsky, stasiun untuk kereta yang menuju Moscow. Tidak jauh dari hotel ada KFC, kamipun makan malam di sana. Setelah makan, kami melanjutkan jalan-jalan di sekitar area hotel, di tengah hujan salju yang masih turun. Udara dingin membuat kami tak bisa berlama-lama berkelilling disini dan akhirnya memutuskan kembali ke hotel sekitar jam 10 malam.

Pagi hari 15 April 2017, kami meninggalkan hotel dengan tujuan pertama kawasan Nevsky. Kawasan ini adalah tujuan wisata utama di St. Petersburg, karena di kawasan ini terdapat banyak obyek wisata utama yang jaraknya berdekatan dan dapat ditempuh dengan jalan kaki. Sebetulnya dari hotel ibis, kita bisa menuju kawasan ini dengan naik metro, tapi dari info yang saya baca, metro di St. Petersburg kurang aman bagi wisatawan, banyak copet, jambret dan tukang palak di kereta maupun stasiun. Apalagi beberapa hari sebelumnya ada serangan bom di salah satu stasiun metro St. Petersburg, plus, sebelumnya saya sudah kecopetan di metro Athens. Jadi kami memutuskan ke kawasan ini dengan naik taksi online Yandex. Naik taksi hanya sekitar 15 menit dengan tarif 500 rubel.

Kami turun tidak jauh dari gereja Savior on The Spilled Blood. Inilah atraksi wisata nomor 1 di St. Petersburg. Gereja yang di bangun tahun 1800an ini sekilas agak mirip dengan gereja St. Basil di Moscow, terutama dengan kubah-kubahnya yang berbentuk bawang dan berwarna warni. Cantik sekali eksterior gereja ini. Kami berkeliling mengambil foto dengan latar belakang gereja ini dari berbagai sudut. Kemudian kami membeli tiket masuk museum gereja ini seharga 500 rubel per orang. Gereja ini sepertinya sudah tidak dipakai untuk ibadah, di dalamnya dijadikan museum. Ornamen-ornamen dalam gereja ini terlihat indah dengan warna dominan keemasan. Di pagi hari ini cahaya matahari masuk ke dalam gereja melewati jendela yang berhiaskan mozaik kaca, membuat cahaya yang masuk menjadi tampak berwarna-warni.

Di depan gereja ini juga ada taman yang cukup luas, Mikhailovsky Garden, sayang taman ini masih di tutup untuk umum karena masih diselimuti salju tebal. Di sisi selatan gereja ini juga terdapat semacam pasar dengan deretan pedagang souvenir, di tepian kanal Griboyedov. Harga-harga souvenir di kios-kios ini relatif murah, souvenir yang dijual beragam, mulai dari topi musim dingin khas rusia, Ushanka, boneka susun matryoska, shawl, pashmina, kalung, anting dan berbagai souvenir lain. 

Harga-harga disini bisa ditawar, umumnya harga jadi turun sekitar 30% dari harga penawaran. Saya membeli Ushanka disini seharga 500 rubel. Enak juga dipakai saat dingin begini, terasa hangat di kepala. Oh ya, umumnya Ushanka yang dijual ada pin lambang komunis, kalo beli jangan lupa pin nya di copot sebelum pulang ke tanah air ya.. 🙂

Dari kawasan gereja Saviour, kami melanjutkan wisata ke Kazan Cathedral. Jaraknya sekitar 800 meter dari gereja Savior. Sekilas, Kazan Cathedral ini lebih mirip bangunan istana atau galeri seni, dengan fasad depan berbentuk pilar-pilar berbentuk setengah lingkaran. Sayangnya saat kami kesana, di gereja ini sedang ada persiapan acara sehingga akses masuk ditutup untuk umum, kami hanya bisa berfoto dari luar saja.

Kami melanjutkan jalan kaki ke Admiralty Building. Ini adalah markas besar angkatan laut Russia. Gedungnya terlihat sangat lebar dan megah, di atasnya ada semacam menara lancip yang tinggi, membuat menara gedung ini sudah terlihat dari kejauhan. Di depannya ada beberapa monumen tokoh Russia, antara lain Nikolai Gogol dan Mikhail Lermontov. Admiralty building ini letaknya berhadapan dengan taman Aleksandrovsky Sad. Saat saya browsing taman ini di internet, fotonya di musim panas, taman ini terlihat berwarna warni dengan aneka bunga, namun saat kami disana, hanya hamparan salju putih yang terlihat sejauh mata memandang, membuat suasana terasa hening dan menyejukkan.

Di seberang Aleksandrovsky sad terdapat landmark St. Petersburg lainnya, St. Isaac Cathedral. katedral untuk umat kristen orthodox ini merupakan katedral terbesar di St. Petersburg, dan juga merupakan katedral dengan kubah terbesar ke empat di dunia. Di depan katedral ini ada loket yang menjual 3 macam tiket, 1 tiket untuk masuk ke hall utama yang berfungsi sebagai museum, 1 tiket untuk menaiki Colonnaded walkway (memanjat atap katedral), dan 1 tiket lagi untuk museum katedral lainnya (di kompleks St. Isaac ini ada 4 katedral), masing-masing harga tiketnya 500 rubel. Saya dan istri memilih untuk membeli tiket masuk ke St. Isaac museumnya. Hall di katedral ini terasa sangat besar, beberapa pintunya merupakan pintu kayu besar yang dipenuhi ukiran. Di museum ini juga banyak memuat riwayat St. Isaac dan Peter the Great.

Di sisi selatan St. Isaac Cathedral ada lapangan yang cukup besar, St. Isaac Square. Kami berjalan kaki melewati lapangan ini menuju monumen Pamyatnik Nikolayu I, yang dibuat untuk menghormati Tsar Nicholas I, penguasa Russia di masa 1825-1855. Patung yang terbuat dari perunggu ini berlokasi di tepian sungai Moyka, di tengah persimpangan jalan yang cukup ramai. Kalau mau berfoto di depan monumen ini musti hati-hati mengingat tidak ada plaza khusus, banyak mobil berseliweran di sekitar monumen ini.

Kami melanjutkan berjalan kaki menyusuri sungai Moyka. Maksud hati ingin makan siang di chinese restaurant yang ada di kawasan ini, tapi ternyata saat kami sampai disana restoran nya sudah tutup permanen. Akhirnya kami makan siang di Pizza Hut tak jauh dari sana. Ini kali pertama kami makan di Pizza Hut di Russia. Biar aman, kami memesan pizza hawaiaan, dengan topping ayam dan nanas, ditambah chicken wings dan garlic bread. Makan berdua disini sekitar 900 rubel atau sekitar Rp 200 ribu, tidak jauh beda dengan di Indonesia. Selesai makan kami melanjutkan jalan kembali ke kawasan Nevsky, dan mampir ke Starbucks untuk membeli pesanan tumbler putri kami. Sekitar jam 7 malam, kami memesan taksi Yandex untuk kembali ke ibis Centre.

Jam 8 malam kami berjalan dari hotel menuju Mall Galeria, salah satu mall terbesar di St. Petersburg. Jaraknya sekitar 300 meter dari hotel kami. Di mall ini terdapat electronic superstore, department store dan outlet dari produk fashion dan sports ternama. Disini juga terdapat Adidas store, say menyempatkan beli jersey timnas sepakbola Russia dan juga official t-shirt Confederation Cup yang akan di selenggarakan di Russia pada bulan Juni 2017. Sayang belum ada merchandise untuk World Cup 2018 yang juga akan di selenggarakan di Russia. Selesai berbelanja di Galeria, kami berjalan kaki ke arah Moscovsky station, sekalian survei pintu masuk stasiun, karena besok paginya kami akan ke Moscow dari stasiun ini. 

Malam ini salju kembali turun di St. Petersburg, udara dingin memaksa kami kembali ke arah hotel, tak lupa mampir di KFC untuk makan malam. Jam 11 kami tiba di hotel, dan untuk kesekian kalinya.. bongkar susun koper untuk masukin belanjaan seharian ini selama di St. Petersburg. Capek juga seharian jalan di tengah udara dingin, tidur dulu ah..

 

 

4 Comments Add yours

  1. Joko Ngalimanto berkata:

    Hi Mas Nelwin,
    Keberangkatan saya ke russia udh dekat jd deg2an nih hehehhe. Oya mas, emg utk metro nya serem bgt ya? Kog kalo saya baca ceritanya naik online taxy trus? Oya mas juga mau nanya lg ttg beeline, itu sim yg paketan yg mana mas? Saya cari di website rus-sim kog ga ada yg 200rubel yg dpt pulsa 110rubel utk internet unlimited 10 hari, nama paketannya apa mas? Atau beli sim beeline saja udh lgs aktif?

    Thanks infonya

    Suka

    1. Hi Mas Joko..
      Ada beberapa pertimbangan kenapa waktu di St. Petersburg saya nggak naik metro. Pertama, rada ngeri denger reputasi copet dan rampok di metro St. Petersburg. Kedua, masih keinget kecopetan di Athens sebelumnya. Ketiga, waktu itu metro SPB baru kena serangan teroris.. jadi cari aman aja lah.. naik taksi kemana2..
      Sim card beeline saya udah paketnya begitu. Saya belinya pas sampe di hotel, bukan di bandara. Mungkin beda paket yg dijual di bandara untuk turis dan paket yg untuk warga lokal. Soalnya semua text2 yang masuk di hp saya dari operator semua huruf rusia.. gak paham deh.. 😀 pas beli.. pemilik tokonya jelasin itu udah bisa internetan unlimited selama 11 hari…dia juga yang meregister paspor saya dan mengaktifkan sim card dan paket datanya.. saya terima beres.. 😀

      Suka

      1. Joko Ngalimanto berkata:

        Waah, jadi beli nya di hotelnya ya mas. Ok mas tks infonya. Summer di rusia itu sebenarnya masih dingin atau ga yah mas?? Takutnya saltum hehehe….

        Suka

        1. kalo summer di Russia tergantung dimana.. hehehe.. kalo Moscow sih antara 15-25 derajat.. st petersburg sedikit lebih dingin.. kalo Siberia masih single digit.. 😀

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s