Swedish Exotica

Kalau judul artikel ini terdengar familiar, kemungkinan besar anda adalah generasi remaja 80an yang akrab dengan betamax.. hehehe.. ini adalah catatan perjalan saya ke Stockholm, ibukota Swedia, yang buat saya terkesan eksotis dengan sedikit nuansa Asia. Kunjungan ke Stockholm pada 11-12 April 2017 ini adalah kali kedua bagi saya ke Swedia, setelah sebelumnya mengunjungi Malmo pada tahun 2015, namun pada kunjungan sebelumnya saya tidak sampai ke Stockholm.

Sehari sebelumnya saya dan istri berkeliling kawasan city centre Oslo, rencananya pagi hari akan melanjutkan wisata ke beberapa tempat yang belum sempat kami kunjungi di Oslo. Tapi karena sehari sebelumnya kami berangkat dari Sofia relatif pagi sekali, sehingga harus bersiap sejak dini hari, ditambah malamnya keliling jalan kaki sampai jam 11an malam, badan ini protes juga rupanya, sehingga bablas tertidur pulas, bangun sudah jam 9.30 pagi, padahal kereta kami dari Oslo ke Stockholm berangkat pada pukul 1.30 siang, wah.. berarti gak sempat lagi keliling-keliling Oslo nih..

Kelar mandi, sarapan dan berberes, kami checkout dari hotel Citybox Oslo sekitar jam 12 siang dan langsung menuju stasiun Oslo Sentral. Siang ini cuaca cukup cerah dan tidak terlalu dingin, suhu udara sekitar 8 derajat celcius., jalan kaki ke stasiun terasa sejuk dan menyenangkan. Jam 12.30 kami sudah sampai di stasiun Oslo Sentral. Karena masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum keberangkatan kereta, saya dan istri menunggu di Starbucks yang ada di lantai 2 stasiun. Tak lupa membeli bekal makan siang di gerai Burger King di stasiun ini.

Sebelum naik kereta, sempat mau pipis dulu di toilet stasiun, tapi ternyata harus bayar dengan coin Norwegian kroner, sebesar 20 NOK, sementara sisa uang kroner nya sudah di habiskan untuk beli kopi dan bekal makan siang, ya sudah, saya pikir nanti saja pipisnya pas di kereta. Sambil berjalan ke peron kereta, iseng-iseng saya mengkonversi, bayar berapa sih kalau numpang pipis di toilet stasiun tadi, kaget juga ternyata kalau di rupiahkan sekali pipis bayarnya Rp 32 ribu.. emang mahal banget yah negara-negara Scandinavia ini.. 😀

Tepat pukul 1.31, kereta SJ yang kami tumpangi meninggalkan stasiun Oslo Sentral. Meskipun tiket kereta yang kami beli kelas 2, namun gerbongnya sangat bagus dan nyaman. Tiket kereta ini saya beli sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan, sehingga dapat harga lebih murah, sekitar 75 euro atau sekitar Rp. 1,1 juta per orang, jika go show harga tiket nya sekitar 85 euro untuk kelas 2. Meskipun bulan April sudah masuk musim semi, sepanjang perjalanan masih terlihat beberapa tempat di selimuti salju atau bagian danau yang masih membeku. Saya perhatikan, selama perjalanan display petunjuk kecepatan di dinding gerbong kadang menunjukan kecepatan kereta diatas 200 km/jam, padahal ini bukan kereta super cepat macam TGV atau Shinkansen. Perjalanan antara Oslo-Stockholm yang berjarak sekitar 540km di tempuh selama 4 jam 40 menit, dengan perhentian sekitar 4 stasiun.

Sebelum saya berangkat ke Scandinavia, saya mengontak sahabat SMA saya, Bobo, yang tinggal di Stockholm, mengabarkan bahwa saya akan berkunjung ke Stockholm untuk satu malam. Atas rekomendasi Bobo, saya memesan hotel di First Hotel Kungsbron, karena lokasinya tidak jauh dari stasiun kereta dan pusat kota. Sampai di stasiun Stockholm Central jam 6.30 sore, sahabat saya Bobo dan istrinya, Tutut, sudah menunggu kami di platform stasiun. Sudah 6 tahun lebih saya tidak berjumpa dengan Bobo, terakhir bertemu pada reuni SMA pada tahun 2010.

Setelah ngobrol sejenak, Bobo mengajak kami ke hotel dulu untuk menyimpan koper, kemudian berjalan-jalan di sekitar Stockholm. Jarak hotel kami dari stasiun hanya sekitar 400 meter, jalan kaki hanya sekitar 10 menit. First Hotel Kungsbron ini cukup unik, seluruh kamarnya ada di lantai basement dengan susunan kamar seperti kabin-kabin di kapal pesiar, namun tetap terasa nyaman dan tidak ada kesan pengap atau sumpek. Untuk hotel bintang 3 di Scandinavia, rate nya cukup bersaing, sekitar 85 euro per malam.

Kami kemudian berjalan kaki ke kawasan city centre. Beberapa hari sebelum kedatangan kami di Stockholm, pada tanggal 7 April 2017 terjadi serangan teroris menggunakan truk, menghantam beberapa pejalan kaki di kawasan Drottninggatan di pusat kota ini. Serangan ini mengakibatkan 5 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka. Karena kejadiannya baru beberapa hari, warga Stockholm masih dalam suasana berduka. Bobo mengajak kami ke lokasi tersebut, dan saat itu ada ribuan orang yang menyampaikan dukacita mereka dengan meletakkan bunga, lilin, kartu ucapan, boneka maupun menulis pesan-pesan duka dan perdamaian di kertas post-it yang di sediakan, untuk di tempelkan di dinding kawasan tersebut.

Setelah mengunjungi kawasan city centre ini, Bobo dan Tutut mengajak kami makan malam di apartemen nya, sekitar 20 menit perjalanan dengan metro dari city centre. Apartemen sahabat saya ini terletak di lantai 2, namun memiliki teras bersama yang cukup luas, jadi lebih mirip dengan landed house daripada apartemen. Malam itu Tutut memasak gulai ayam dengan telur asin yang dibuat sendiri. Senang banget rasanya makan masakan Indonesia rumahan setelah dua minggu di jejali makanan Eropa dan fastfood. Setelah makan, kami ngobrol ngalor ngidul sampai tak terasa sudah jam 11 malam. Karena besok pagi kami akan berkeliling kota Stockholm, Bobo kemudian mengantar kami kembali ke hotel naik metro. Stasiun metro dekat apartemen Bayu ini cukup unik, ada ratusan petistiwa bersejarah dari negara-negara Eropa yang ditulis sambung menyambung di dinding stasiun, termasuk peristiwa mulainya Belanda menguasai Indonesia di tahun 1700an.

Besok paginya jam 7.15, Bayu mengabarkan sudah sampai di lobby hotel, kamipun naik ke lobby sekalian sarapan. Sarapan di hotel Kungsbron ini cukup variatif, bahkan ada beberapa menu makanan Asia. Sehabis sarapan kami berjalan ke central station, untuk naik metro ke tujuan pertama kami, kawasan old town Stockholm, Yttersta Tvärgränd.. bacanya susah banget yah.. 😀 Di kawasan Yttersta Tvärgränd ini kita bisa melihat rumah-rumah pertama yang di bangun di kota Stockholm pada tahun 1600an.

Karena rumah-rumah ini sudah di bangun jauh sebelum ada utilitas listrik, gas dan air, beberapa rumah di kawasan ini nampak mengalami perubahan untuk memfasilitasi infrastruktur masuk ke dalam rumah, bahkan ada yang strukturnya diperkuat dengan tulang-tulang baja. meskipun rumah-rumah ini sudah tua dan berumur ratusan tahun, harga sewa rumah di kawasan ini termasuk yang paling mahal di Swedia.

Tidak jauh dari Yttersta Tvärgränd, terdapat bukit  Skinnarviksberget. Mungkin banyak turis yang tidak tahu kawasan bukit ini, beruntung saya di ajak jalan oleh sahabat saya yang sudah belasan tahun tinggal di Stockholm. Menurut Bobo, bukit ini adalah tempat terbaik untuk melihat pemandangan kota Stockholm. Dari atas bukit ini kita bisa melihat kawasan pelabuhan, pusat kota, gedung-gedung pemerintahan, parlemen (Riksdagshuset) dan gedung City Hall (Stadshus) tempat berlangsungnya acara tahunan Nobel Award, serta jembatan Centralbron yang menghubungkan pulau Sodermalm dan Norrmalm. Saya baru tahu bahwa ternyata kota Stockholm ini terdiri dari puluhan pulau-pulau kecil yang cukup rapat jaraknya. Menyenangkan sekali melihat pemandangan Stockholm di pagi hari dari atas bukit ini, pemandangannya cantik untuk difoto.

Dari bukit Skinnarviksberget kita turun ke arah Bellmansgatan, disitu terdapat Mariahissen House, rumah yang menjadi lokasi utama dalam novel laris karangan Stieg Larsson, The Girl With The Dragon Tattoo. Novel ini pernah di filmkan dan menjadi film box office serta meraih piala oscar. Rumah ini unik, pintu masuknya ada di lantai 4. Jadi rumah ini ada di satu sisi jalan, namun akses masuknya dari kawasan seberangnya yang letaknya jauh lebih tinggi, jadi dibuatkan jembatan yang mengarah langsung ke lantai 4 rumah ini. Tentu saja dari lantai dasar ada akses masuk, namun umumnya pengunjung masuk ke rumah ini dari jembatan menuju lantai 4 tersebut. Rumah ini atap dan kubahnya di dominasi warna hitam kelam, berkesan misterius, sesuai dengan tema-tema novel Stieg Larsson yang bergenre suspense thriller.

Dari sana kami kemudian lanjut berjalan kaki ke kawasan Gamla Stan, yang sebelumnya kami lihat dari atas bukit. Dari sini kami menaiki tram untuk menuju museum ABBA. Ya, grup musik pop legendaris asal Swedia ini dibuatkan museumnya sejak tahun 2013 lalu, dan kini menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Stockholm, terutama bagi penggemar musik pop. Di museum ini dipajang berbagai memorabilia yang berhubungan dengan ABBA, dan tentu saja ada souvenir shop yang menjual berbagai pernak-pernik ABBA, mulai dari CD, LP, T-shirt, stationery, dan ratusan items ABBA lainnya.

Tentu saja saya menyempatkan membeli beberapa souvenir ABBA disini, meskipun bukan fans berat ABBA. saya mengagumi karya-karya mereka dan punya CD seluruh album studionya. Di depan museum ini ada papan face in the hole keempat personil ABBA, namun masing-masing ada wajah aslinya yang bisa di buka-tutup. jadi kalau anda sendirian, bisa seolah-olah menjadi salah satu personil ABBA. It was fun! 😀 Saat di museum ABBA ini saya sempat berpikir, kapan ya dibuat museum Europe atau Yngwie Malmsteen..? hehehe..

Dari museum ABBA, Bobo mengajak saya lanjut ke Kungsträdgården (King’s Garden) yang terletak di tengah kota Stockholm. Taman yang tidak terlalu besar ini setiap awal sampai pertengahan bulan April selalu ramai dikunjungi ribuan wisatawan, baik wisatawan lokal maupun turis asing. Taman ini memiliki sekitar 60 pohon Sakura yang ditanam pada tahun 1998, dibawa langsung dari Jepang. Cantik sekali suasana taman ini saat saya kunjungi, bunga Sakura nya sedang mekar-mekarnya, setiap angin bertiup kencang sebagian kelopak Sakura berguguran, seperti hujan kembang. Mirip sekali suasananya dengan musim Sakura di Jepang. Saat kami disana, cukup banyak turis berwajah Asia yang mengunjungi taman Sakura ini.

Sekitar jam 12 siang, saya sudah membuat janji dengan seorang teman saya yang warga Stockholm, Victor. Saya janjian untuk makan siang bersama hari itu. Victor adalah teman sekamar saya saat saya ikut wisata kapal pesiar KISS Kruise III pada tahun 2013, bersama band rock KISS, band favorit saya dan Victor. Kami janjian di kawasan Central Station. Jam 12.15 kami bertemu dan segera mencari makan siang. Kami kemudian memutuskan makan siang di restoran Thailand yang ada di dekat central station. Asik juga nih makan pad thai pedas di cuaca yang lumayan dingin. Kami ngobrol seru soal KISS, dan Victor cerita kalau dia sudah beli tiket konser KISS di Stockholm dan Oslo bulan Mei 2017. Saya cuma bisa ngiler denger cerita dia, karena saldo cuti saya sudah hampir habis, nggak mungkin cuti lagi untuk nonton konser di bulan Mei. Menjelang jam 2 siang, Victor pamit karena harus kembali ke kantor.

Kami kemudian kembali ke Kungsbron hotel untuk mengambil koper yang dititipkan, karena jam 4 sore kami akan meninggalkan Stockholm dengan kapal Viking Line menuju Helsinki. Di hotel, kami menunggu Tutut yang baru kembali dari kerja. Bobo dan Tutut kemudian mengantar kami sampai ke pelabuhan. Sampai di pelabuhan pun kami masih terus ngobrol, sambil menanti panggilan terakhir untuk naik ke kapal. Akhirnya saya dan istri berpisah dengan Bobo dan Tutut, memasuki kapal untuk menuju Helsinki. Semoga ada kesempatan lagi untuk mengunjungi sahabatku di Stockholm ini 🙂

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s