Beograd, Serbia

Lewat dari imigrasi Romania, mobil saya arahkan ke imigrasi Serbia. Disini petugas imigrasi meminta dokumen green card, saya bilang nggak punya green card, cuma ada visa schengen. Ternyata yang dia maksud adalah surat asuransi mobil sewaan, yang memang warnanya hijau. Sekitar jam 8 malam, kami masuk wilayah Serbia.

Hari sudah gelap. Google map menunjukan ETA di hotel sekitar jam 11.40 malam. Perjalanan dari perbatasan mengikuti alur sungai Danube yang menjadi pemisah wilayah Serbia dengan Romania. Jalanan berliku dan naik turun bukit. Karena jalan yang sempit, gelap dan berliku, mobil hanya bisa saya pacu dengan kecepatan 60-70km jam. Sepanjang jalan sangat jarang bertemu mobil. Sekitar 40 km dari perbatasan, tiba-tiba saya melihat ada batu besar di tengah jalan. Gludak..! Ban kanan depan mobil sukses menghantam batu tersebut.. dan seketika terdengar suara berisik velg roda beradu dengan aspal. Mobil segera saya berhentikan di tengah jalan. Tidak bisa minggir ke trotoar karena memang tidak ada trotoarnya. Pinggir jalan ada besi pembatas dan di belakangnya jurang dan sungai. Saya lihat kondisi ban sudah kempes habis dan velg penyok karena menghantam batu.

Wah…musti kerja bakti  nih. Koper-koper saya keluarin dari bagasi, ambil ban serep dan kunci-kunci ban dari bawah bagasi. Jadi teringat ucapan Diddy kemaren, eh.. malah kejadian musti ganti ban.. mana di tengah hutan, udara dingin 4 derajat dan tidak ada lampu penerangan. Segitiga pengaman saya tempatkan 10 meter di belakang mobil, dan sayapun mulai membongkar ban. Sekitar 20 menit saya bongkar pasang ban, dan selama itu tidak ada mobil yang lewat sama sekali. Baru setelah saya kelar ganti ban, ada truk lewat lumayan ngebut, segitiga pengaman yang saya pasangpun terhempas angin truk tersebut 😀.

Saya kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 11 malam berhenti untuk isi bensin dan isi perut. Akhirnya sekitar jam 00.40 malam, kami tiba di Hotel Jugoslavia di  Beograd. Jarak 540 km dari Bucharest-Beograd total di tempuh selama 10 jam, termasuk berhenti imigrasi, ganti ban dan isi bensin serta makan malam.

Beograd adalah ibukota Serbia, yang dulunya juga merupakan ibukota Republik Yugoslavia, sebelum negara ini bubar dan terpecah menjadi 7 negara seperti saat ini. Hotel Jugoslavia tempat kami menginap merefleksikan sisa kejayaan negara Yugoslavia di masa lalu. Lobby nya besar dan lapang, sudah di renovasi dengan gaya modern. Tapi bentuk hall dan shopping areanya masih bergaya art deco klasik, yang banyak di pakai negara blok timur jaman perang dingin dulu.

Paginya, kami berjalan-jalan di sekitar hotel. Hotel Jugoslavia ini berada di tepian sungai Danube, dan terdapat banyak restoran apung di sungai ini. Pemandangannya cantik. Hotel Jugoslavija ini hotel tua yang mungkin dulunya salah satu hotel terbaik di kota Beograd. Di sebelahnya ada casino terbesar di Beograd. Wilayah tepian sungai Danube ini merupakan salah satu tempat wisata utama di Beograd.

Dari tepian sungai Danube, kita melajutkan wisata ke Gardos, sebuah menara pengawas kerajaan yang dibangun pada abad ke sepuluh. Menara Gardos ini berada diatas bukit. Dari  bukit ini, kita bisa Melihat pemandangan cantik kota Beograd. Menara Gardos ini terletak di sebelah gereja dan taman pemakaman umum. TPU ini cukup unik, karena sebagian yang dimakamkan disini, dibuatkan patungnya diatas nisan makam. Malam-malam kesini seru juga kali ya.. 😀

DSC_0851

Dari Gardos, kami menuju obyek wisata paling terkenal di Beograd, the Belgrade Fortress, atau benteng kota Beograd, yang dibangun di abad 16. Belgrade fortress ini terdiri dari bangunan tembok yang mengelilingi puncak bukit. Di tengah nya terdapat dua bangunan berbentuk Benteng bulat dan di kaki bukit terdapat gereja. Di satu sisinya berbatasan dengan sungai Danube. Untuk berwisata ke Belgrade fortress ini tidak dipungut biaya.

Di kompleks belgrade fortress ini ada sebagian bangunan yang sekarang di jadikan restoran bergaya klasik. View dari restoran ini cantik, menghadap ke arah sungai Danube. Kami mencoba makan siang disana dengan menu appetizer mushroom soup dan main course nya pasta with salmon meat balls. Lezat rasanya dan porsinya cukup besar. Harga makanan disini juga relatif tidak mahal untuk kelas resto klasik, makan berdua sekitar Rp 300 ribuan.

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikut, Sarajevo, ibukota Bosnia & Herzegovina.

2 Comments Add yours

  1. Sutikno Gresik berkata:

    TOP Mas Nelwin.. sekali lagi trims…

    Suka

    1. Most welcome mas Sutikno.. 😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s