Bhaktapur, Changunarayan, Nagarkot (Nepal Pt.2)

Tanggal 29 Desember pagi, setelah mandi pagi dan berberes, kami sarapan di hotel jam 9. Hari ini wisatanya keluar kota Kathmandu. Mobil sewaan kami berangkat dari hotel jam 10.10, tapi pagi ini kondisi lalu lintas di Kathmandu super macet. Dari hotel melewati pusat kota Kathmandu, perlu waktu 30 menit karena macet sepanjang jalan. Di Kathmandu ini nyaris tidak ada traffic light yang berfungsi. Semua persimpangan di atur manual oleh polisi.

Selepas pusat kota, barulah jalanan agak lancar. Tujuan pertama kami hari ini adalah Bhaktapur, kota tua yang  berjarak sekitar 20km dari Kathmandu. Jaman dahulu, Bhaktapur adalah ibukota Nepal, sebelum akhirnya pindah ke Kathmandu. Namun meskipun jaraknya relatif dekat, perlu waktu sekitar 1 jam untuk menuju Bakthapur dari Kathmandu, karena jalan yang sempit dan jelek.

Kami sampai di Bhaktapur sekitar pukul 11.30, untuk memasuki kawasan kota tua Bhaktapur, wisatawan asing membayar NR 1.500 per orang. Atraksi utama di Bhaktapur adalah Durbar. Mungkin kalau di Indonesia, Durbar ini berarti alun-alun, karena setiap kota di Nepal sepertinya punya kawasan Durbar. Di Bhaktapur Durbar ini ada beberapa kuil hindu yang digunakan warga untuk beribadah. Turis hanya boleh lihat-lihat dari luar.
Saat kami disana, sedang ada persiapan kampanye politik, jadi beberapa bagian Durbar ditutup untuk panggung. Dari kawasan Durbar, kami lanjut ke kawasan kota tua, disini ada musium Bhaktapur dan beberapa kuil kecil. Namun akibat gempa 2015, beberapa kuil ambruk dan sedang di bangun kembali. Bagian dinding luar musium pun retak-retak dan terlihat miring sebagian, untuk mencegah bangunan ambruk, untuk sementara banyak bangunan yang di ganjal balok-balok kayu besar dari luar.

Kami terus berjalan dan tak sadar sudah berada di luar kawasan kota tua. Saat hendak berbalik ke kota tua, saya melihat ada warung yang memasang iklan Juju Dhau. Fotonya gambar mangkuk kecil berisi krim warna putih. Penasaran itu apa, saya masuk ke warung dan bertanya makanan apa itu. Pemilik warung menjelaskan kalau itu yoghurt khas Bhaktapur. Saya pesan satu, dan di ambilkan dari dalam kulkas. Rasanya asam segar, ada rasa jahe dan tahu juga. Karena enak, tambah satu lagi deh.. untuk 2 mangkuk kecil Juju Dhau ini kami membayar NR 100.

Jam 1 siang mulai lapar, kami menuju satu cafe yang terlihat modern di tengah kota tua Bhaktapur, Daily Grind Cafe. Menunya Italian dan American food. Kami pesan American club sandwich dan Chicken Pizza. Ternyata porsinya cukup besar, berdua nggak habis.

Selesai makan, kami mencoba menghubungi supir mobil sewaan, tapi tidak bisa tersambung. Kami coba kembali ke tempat kami di drop di kawasan Durbar, tapi ternyata daerah itu sudah dipenuhi ribuan orang yang menghadiri kampanye politik. Sempat bingung juga gimana nyari si sopir diantara ribuan orang. Akhirnya setengah jam kemudian dia menghubungi saya, katanya tadi hp nya lowbatt, jadi musti ngecharge dulu.. 🙂

Dari Bhaktapur, kami melanjutkan perjalanan ke Changunarayan. Kota kecil diatas  bukit. Disini ada kuil Changunarayan yang merupakan salah satu bangunan yang dilindungi UNESCO. Tiket masuk kawasan ini NR 300 per orang. Untuk ke Changunarayan temple, kita harus berjalan mendaki sekitar 500 meter melewati rumah-rumah penduduk. Sampai diatas, candinya tidak terlalu besar, namun kaya ukiran dan ornamen. Seperti di kuil lain, wisatawan juga tidak boleh masuk ke dalam kuil.

Karena berada di puncak bukit, pemandangan di sekitar Changunarayan temple ini cukup indah. Tapi sayangnya banyak terhalang pohon-pohon besar dan rumah penduduk. Beberapa rumah penduduk di bawah changunarayan temple ini menyediakan rooftop restaurant, view nya malah lebih bagus dari atap-atap rumah ini dibanding dari sekitar kuil. Saat kami kembali turun ke parkiran mobil, ternyata ada satu tempat publik dimana kita bisa melihat pemandangan sekitar  Changunarayan, kamipun mampir kesitu untuk berfoto.

Sekitar jam 4 sore kami kembali ke Kathmandu. Perjalanan pulang relatif lebih lancar dibanding saat berangkat. Jam 5 kami sudah sampai kembali di hotel. Malamnya, kami berbelanja perbekalan untuk hiking besok di Thamel, setelah itu makan malam di Blueberry Kitchen and Cafe. Meski rating Trip Advisornya bagus, saya musti bilang rasa makanan nya biasa aja.. pesanan saya Mongolian Chicken malah terlalu asin.  Yang enak justru dessertnya.. Cheese cake nya sungguh juara. Jam 8 kami kembali ke hotel untuk beristirahat, besok kan mau hiking.

Jumat 30 Desember, kami dipesankan untuk standby di lobby jam 8 pagi, karena lokasi hikingnya diluar kota. Tapi kami baru mulai sarapan jam 8.10, jadi baru siap di lobby jam 8.30. Kami lalu diperkenalkan dengan pemandu yang akan menemani kami hiking, namanya Raam.

Kami berangkat sekitar jam 8.30 dari hotel menuju Sankhu. Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam melalui jalan sempit dan rusak. Sampai di Sankhu, kami diturunkan di sebuah warung yang menjadi titik awal hiking. Kami mulai hiking sekitar jam 9.30, melalui jalan berbatu. Di jelaskan oleh pemandu, jila cuaca cerah kita bisa melihat pegunungan Himalaya saat sampai di Nagarkot.

Titik awal perjalanan di Sankhu memiliki ketinggian sekitar 1.300m, sementara Nagarkot memiliki ketinggian sekitar 2.100m. Satu jam pertama, perjalanan kami cukup lancar, rutenya belum terlalu menanjak. Setelah sekitar 4 km, jalannya mulai menanjak curam, nafaspun mulai tersengal, setap 10-15 menit musti berhenti mengatur nafas dan minum. Tapi pemandangan setelah menanjak ini juga makin cantik.. worth it lah..

Sekitar 2 jam berjalan, kami beristirahat di sebuah restoran di desa kecil. Minum dan makan keripik kentang buat nambah tenaga. Sekitar 20 menit kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Selepas istirahat ini pemandu mengajak kami lewat jalan setapak. Wah.. jalannya sempit dan tanjakan makin curam. Kalau sebelumnya 10-15 menit musti berhenti atur nafas, di jalan setapak ini setiap 5 menit musti berhenti atur nafas dan minum. Ngos-ngosan banget napas ini..

Sekitar satu jam kami berjalan di kombinasi jalan setapak dan jalan berbatu. Jika sebelumnya rata-rata kami berjalan 4-5km/jam, di segmen terakhir ini pace nya turun jadi 3km/jam. Akhirnya sekitar jam 1.10 siang kami sampai di puncak bukit Nagarkot. Jarak Sankhu-Nagarkot sejauh 13km berhasil kami selesaikan dalam 3,5 jam termasuk istirahat.

Sayangnya, siang itu cuaca berawan, deretan puncak.himalaya tidak terlihat, hanya bagian bawahnya saja yang terlihat samar-samar. Tapi inipun sudah cakep pemandangannya buat kami. Sekitar 30 menit kami beristirahat dan berfoto di puncak, sambil menunggu mobil jemputan datang.
Jam 1.30 siang, kami meninggalkan Nagarkot, kembali ke Kathmandu. Sampai di kawasan Thamel sudah menjelang jam 3. Perut sudah keroncongan. Pemandu mengajak kami makan siang ala Tibet, menu utamanya Mo Mo, semacam dumplings berisi sayuran dan daging ayam, dengan saus kari. Saya juga pesan noodle soup khas Tibet, tapi namanya saya lupa.. cuma ingat rasanya.. hehehe..

Sekitar jam 4 kami kembali ke hotel. Meluruskan kaki yang pegal dan ngaso sebentar, sebelum menjemput istri dan si bungsu di Airport yang di jadwalkan tiba jam 8.40 malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s