Jejak Tintin di Kathmandu (Nepal Pt. 1)

Petualangan keluarga kami ke Nepal, yang sering disebut sebagai negeri diatas awan, boleh dibilang perjalanan yang ribet. Ribet karena jadwal libur anak-anak tidak kompak. Si sulung Vira sudah harus masuk kuliah 3 Januari 2017, sedangkan si bungsu Rizki baru mulai libur 30 Desember 2016.  Hanya ada 3 hari yang liburnya bareng, tentunya sayang jika pergi jauh-jauh hanya 3 hari, tidak cukup waktu untuk menjelajahi obyek wisata di Nepal.

Akhirnya diambil jalan tengah, saya dan si sulung berangkat 27 Desember, si sulung pulang 1 Januari. Sementara si bungsu dan istri saya berangkat 30 Desember, dan kembali 4 Januari bareng saya, jadi rata-rata dapat 6 hari di Nepal, kecuali saya, 9 hari.. menang banyak.. hehehe..

Tanggal 27 Desember, saya dan vira berangkat dari Jakarta dengan Malindo Air,  transit di Kuala Lumpur. Pesawat kami mengalami sedikit delay, harusnya berangkat dari Soetta jam 13.15, baru take off selepas iam 2 siang. Pesawat Malindo Air ini cukup nyaman, meskipun termasuk Low Cost Carrier, tapi pelayanannya seperti full service airline, dapat bagasi 30kg, dapat makan dan ada entertainment system di setiap bangku. Perjalanan Jakarta-Kuala Lumpur yang seharusnya ditempuh dalam 2 jam, ternyata harus berputar-putar menjelang KL, karena cuaca buruk.

20161227_153100.jpg

Kami akhirnya tiba di KLIA pada pukul 17.25 waktu setempat. Waktu transit yang seharusnya 2 jam terpangkas menjadi 35 menit saja, kami sedikit berlari dari gate H, naik monorel pindah terminal, karena connecting flight kami ada di gate C31. Sampai di gate C31, proses boarding sudah dimulai.. gak sempet makan deh KLIA.

20161227_175947.jpg

Connecting flight dari KL ke Kathmandu berangkat pada pukul 18.15. Untung di Malindo ini diberikan makan malam, meskipun menunya vegetarian, cukup lumayan mengganjal perut yang lapar. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam 40 menit, kamipun sampai di Kathmandu sekitar pukul 8.50 waktu setempat.

wp-image-1308535565jpg.jpg

Pemegang paspor Indonesia yang memasuki Nepal bisa memanfaatkan visa on arrival (VOA) dengan membayar visa USD 25 untuk kunjungan selama 15 hari.Untuk mengajukan VOA, kita perlu menscan paspor di mesin yang tersedia, dan mengisi beberapa data pribadi di mesin tersebut, mudah kok pengisian form nya. Setelah data terisi lengkap, mesin akan mengeluarkan print out aplikasi VOA, yang harus kita bawa ke loket pembayaran VOA.

Setelah membayar VOA, kami menuju imigrasi dan kemudian di cap paspornya.. sah masuk Nepal!. Setelah mengambil bagasi, saya dan vira membeli SIM Card lokal di counter NCell di bandara . Paket data 2GB dengan masa aktif 1 bulan bisa dibeli seharga NR 1.500. Kurs 1 USD kurang lebih 108 NR. Kalo ke rupiah 1 NR sekitar Rp 125. Untuk beli SIM Card lokal ini paspor kita di copy dan kita di foto untuk data mereka. Bagus lah.. jadi nggak bisa sembarangan orang beli SIM Card. Saat membeli SIM Card tersebut, kami dihampiri oleh penjemput dari Buddha Hotel. Kami menginap di Buddha Hotel, dikawasan Thamel, daerah turisnya Kathmandu, jika kita booking hotel secara online, hotel ini menawarkan penjemputan gratis di bandara. Perjalanan dari bandara Tribuvan ke hotel di tempuh sekitar 20 menit.

Kami sampai di hotel sekitar jam 10 malam waktu Kathmandu. Oh ya, Kathmandu ini beda waktunya 1 jam 15 menit di belakang Jakarta.
Malam2 perut terasa lapar. Saya keluar hotel sekitar jam 11 malam untuk mencari makan, tapi kawasan Thamel sudah sepi jam segitu. Hanya ada satu kedai makanan yang masih buka, jualan Chicken Kebab. Ya wes, beli itu saja seharga NR 200.. rasanya lumayan. Enak juga dingin-dingin begini makan kebab hangat. Kami beristirahat jam 12 malam. Siap-siap.berpetualang di Kathmandu besok.

Tanggal 28 Desember, setelah mandi pagi, kami sarapan di hotel jam 8.30, di Hotel Buddha ini sarapannya tidak buffet, tapi di buatkan sesuai pesanan. Saya memilih menu sosis ayam, scrambled egg, kentang dan roti panggang. Enak masakannya.

Setelah sarapan, kami di hampiri oleh travel consultant dari hotel Buddha, yang menanyakan kemana saja tujuan kami selama di Nepal. Setelah ngobrol-ngobrol, kami ditawari paket transportasi selama di Nepal. Nepal ini memang masih negara yang agak tertinggal infrastrukturnya. Kondisi jalanan umumnya jelek dan tranportasi umum masih minim. Dari berbagai informasi di internet, memang disarankan sewa mobil dengan supir, agar efektif dan tidak banyak buang waktu menunggu angkutan umum. Akhirnya kita deal pengaturan transport untuk 8 hari sesuai tujuan kamii seharga USD 570, diluar entrance fees. Biaya ini sudah termasuk supir dan bensin. Di Nepal turis tidak dibolehkan menyetir sendiri.

wp-image-1521256498jpg.jpg

Sekitar jam 11, kami mulai city tour Kathmandu. Tujuan pertama Ke Swayambhu Temple, yang dikenal juga sebagai monkey temple, karena disini banyak sekali monyet berkeliaran. Beda dengan monyet di Indonesia yang berwarna abu-abu, monyet disini warnanya agak kecoklatan dan wajahnya agak merah.

Tiket masuk Swayambhu harganya NR 200 per orang. Setelah membeli tiket, kami dihampiri seorang pemuda yang menawarkan jasa pemandu wisata. Semula kami menolak dan bilang akan jalan sendiri, tetapi dia terus membujuk sampai akhirnya saya iba juga, jasa pemandunya NR 500.
Dia kemudian menjelaskan sejarah Swayambhu temple ini, yang merupakan salah satu kuil Buddha tertua di Kathmandu. Kami di ajak berkeliling mulai dari wishing pool, stupa bawah, kedai-kedai penjual singing bowl dan mandala, terakhir ke stupa utama. Di Nepal, hampir semua stupa Buddha di hiasi rangkaian bendera 5 warna yang merupakan simbol dari 5 elemen, api, tanah, air, kayu dan metal. Sebelum di pasang, rangkaian bendera ini di sucikan dulu oleh pendeta Buddha.

Pembaca komik Tintin akan mengenali puncak stupa ini, yang dalam kisah Tintin di Tibet, dilewati oleh pesawat yang mereka tumpangi menjelang mendarat di Kathmandu. Swayambhu temple ini  terletak di puncak bukit, dari sini ada beberapa titik untuk melihat pemandangan keliling kota Kathmandu. Dari sini terlihat jelas jika Kathmandu merupakan lembah yang di kelilingi bukit dan gunung. Kathmandu yang memiliki populasi sekitar 3 juta jiwa terlihat sangat padat, tapi tidak ada gedung pencakar langit, rata-rata hanya bangunan 3-6 lantai.

Sekitar satu jam di Swayambhu, kami melanjutkan perjalanan ke Patan Durbar Square. Sampai disana, karena  sudah jam 1 siang, kami makan siang dulu di mangalbazar, kawasan pasar tradisional di Patan durbar. Kami makan di salah satu restoran lokal dengan menu nasi goreng ayam dan chowmien dan tahu goreng, cukup lezat rasanya. Setelah membayar  makan siang seharga NR 425, kami melanjutkan perjalanan ke Patan Durbar Square.

Harga tiket masuk Patan Durbar Square ini NR 1.000 per orang. Bagi penggemar komik Tintin, Patan Durbar Square ini merupakan lokasi yang wajib untuk dikunjungi. Di kawasan ini ada beberapa strip dimana Tintin, Snowy dan Kapten Haddock berjalan-jalan dalam episode Tintin di Tibet. Kami berkeliling Patan Durbar Square ini dan melihat bangunan kuil dan musium yang ada di komik Tintin. Dua bangunan ini relatif utuh setelah gempa besar yang melanda Kathmandu di tahun 2015 lalu.

Namun banyak kuil hindu di sekitar Patan Durbar Square ini yang ambruk dan rata dengan tanah. Saat kami disana, ada 4 kuil yang hanya tersisa pondasinya. Namun sudah dipagari dan sudah ada papan rencana pembangunan kembali. Setelah berkeliling kawasan Patan Durbar Square yang tidak terlalu besar, kami masuk ke bangunan utama, musium Patan. Disini disimpan banyak artefak dan peninggalan kerajaan Nepal. Musium ini terdiri dari 4 lantai, tapi turis hanya boleh naik sampai lantai 3.

Sekitar jam 3.30, kami melanjutkan wisata ke Pasupathinath Temple. Ini adalah kompleks kuil hindu terbesar di Kathmandu. Untuk masuk kesini, HTM nya NR 1.000. Dari loket masuk, kita harus berjalan sekitar 400 meter untuk memasuki kawasan kuil. Disini ada sungai Bagmati  yang merupakan sungai paling suci bagi warga Nepal. Di seberang sungai ini terdapat lokasi kremasi untuk umat Hindu yang meninggal dunia. Saat kami disana ada beberapa jenazah yang sedang di kremasi. Saya kemudian mengambil foto prosesi kremasi tersebut.

Saat saya sedang memotret, seorang pemuda bertanya ke saya, foto-fotonya buat apa, saya jawab untuk dokumentasi pribadi. Dia bilang kalau untuk dokumentasi tidak apa, tapi jangan dipublikasikan, karena itu tidak menghormati yang wafat dan keluarganya. Jadi mohon maaf, saya tidak share foto-foto kremasinya disini. Kami kemudian berkeliling kompleks kuil Pasupathinath ini, tapi karena sebagian besar bangunan di kompleks ini adalah tempat ibadah bagi umat hindu, kami tidak bisa masuk kesana, hanya berkeliling bangunan yang terbuka untuk wisatawan. Memang besar sekali kompleks kuil ini.

Sekitar pukul 16.30, langit mulai terlihat senja, padahal kami masih ada 1 tujuan lagi. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Boudhanath temple. Kuil Buddha ini terletak di tengah kota Kathmandu. Untuk masuk kesini wisatawan membayar NR 250, sedangkan warga yang beribadah tidak perlu membeli tiket.

Boudanath Temple ini merupakan kuil Buddha utama di Kathmandu. Kuil ini sangat ramai dikunjungi warga yang beribadah. Kuil berbentuk lingkaran ini terus menerus dikelilingi umat Buddha yang membawa semacam tasbih, sambil berdoa. Sebagian umat juga menyalakan lilin yang disediakan, ada yang memutari lonceng besar di beberapa tempat, dan ada juga yang membunyikan lonceng-lonceng kecil di sekitar pintu masuk kuil utama. Di sekeliling kuil ini, dipenuhi bangunan toko dan restoran.

Sekitar jam 5.30, hari sudah gelap. Kami kembali ke hotel untuk istirahat sejenak. Jam 7 malam kami berjalan ke kawasan Thamel untuk makan malam. Vira mengajak ke restoran Rosemary Kitchen yang rekomendasinya di Trip Advusor sangat bagus. Saat kami sampai disana, restorannya full house, kami disarankan kembali dalam 20 menit.Sambil menunggu, kami jalan-jalan di sekitar Thamel. Kawasan ini merupakan kawasan turis yang paling popular di Kathmandu, tapi jalan nya kecil-kecil, mungkin mirip kawasan kuta-poppies.

Setelah 20 menit, kami kembali ke Rosemary Kitchen, kami pesan signature dish nya Rosemary Chicken dan Tenderloin Steak. Yumm.. memang enak banget makanan disini, agak mahal untuk ukuran  Nepal, tapi dibanding di Jakarta sih murah ya. Pesanan kami sekitar NR 1.800 termasuk minum dan dessert, sekitar Rp 225 ribu lah. Setelah makan, kami kembali ke hotel,  berjalan kaki ke hotel terasa dingin, suhu udara sekitar 10 derajat celcius.. terpaksa jalan cepat.. sampai di hotel segera molor..  zzz
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s