Wisata Masjid Singapura

Singapura tidak hanya punya deretan toko dan butik sebagai surga belanja. Negara mungil ini mempunyai lebih dari 70 masjid dan beberapa masjid dapat menjadi alternatif objek wisata. Bulan April 2017 lalu kami berkesempatan mengunjungi enam masjid Singapura lima diantaranya merupakan masjid – masjid tua di Singapura.

1. Masjid Al-Falah

Berlokasi di Bideford Rd #01-01, Cairnhill Place, sepelemparan batu dari Orchard Road, jalan tersibuk Singapura dan berdekatan dengan stasiun MRT Somerset.
Masjid dengan daya tampung 1.500 jamaah  memiliki suasana nyaman, disitu juga tersedia Al-Falah Café.

Ruang shalat wanita terletak di lantai dua, untuk mencapai lantai dua disediakan lift. Ruang utama masjid dilengkapi kipas angin besar membuat sejuk ruangan.
Al-Falah yang berarti sukses menempati gedung Chairnhill Place lantai I No. 1 dengan membayar sewa $ 1,7 juta untuk 99 tahun sewa. Masjid secara resmi di buka 25 Januari 1987.

2. Masjid Sultan (3 Muscat Street)

Masjid Sultan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan asing setelah ditetapkan sebagai bangunan bersejarah oleh Pemerintah Singapura di tahun 1975. Masjid dibangun pada tahun 1826 dengan struktur bangunan awal oleh masyarakat Jawa yang menjadi pedagang di Singapura.
Masjid  awalnya dibangun untuk Sultan Hussein Syah ( Sultan Pertama di Singapura), lalu Sir Stanford Raffles memberikan $ 3.000 untuk memperluas bangunan.

Dengan bangunan kubah warna emas dan dominasi warna kuning khas kerajaan Melayu masih sangat kokoh berdiri hingga saat ini.
Dengan dilakukannya berbagai perbaikan serta perluasan masjid, saat ini masjid diperkirakan dapat menampung 5.000 jamaah. Kalau sedang tidak digunakan untuk tempat sholat ruangan sering menjadi tempat acara seperti ceramah agama dan belajar mengaji.

3. Masjid Abdul Gafor

Masjid yang terletak di Dunlop Street ini adalah masjid unik, terletak di tengah pemukiman Little India dan ditetapkan sebagai monumen nasional Singapura pada tahun 1979. Masjid yang didominasi warna kuning dan hijau ini dibangun oleh kaum muslim India Selatan pada  tahun 1907 dan telah beberapa kali mengalami pemugaran. Pemugaran terahir selesai tahun 2003. Di sebelah masjid ada bangunan semacam asrama/pondok pesantren dan di halaman masjid sudah ada garis batas suci untuk melepas sandal/sepatu bila ingin masuk area masjid.

Uniknya masjid yang dubangun Syech Abdul Gafoor Shaik Hayder memiliki beberapa nama, yaitu : Abdul Gafoor Mosque, Abdul Gaphore Mosque, Abdul Gapore Mosque, Dunlop Street Mosque dan Indian Mosque. Arsitektur masjid sangat megah, mulai dari pinttu masuk dengan hiasan ukiran kayu hingga kaligrafi penghias interior ruang shalat. Terdapat pula menara adzan berbentuk heksagonal (persegi enam) yang menjulang.

4. Masjid Hajjah Fatimah

Masjid yang dibangun tahun 1846 berada di taman Kampong Glam (4001 Beach Road), jarang-jarang anda menemukan masjid yang mengambil nama seorang wanita. Masjid Hajjah Fatimah dinamai sesuai dengan nama seorang wanita Melaka yang menikah dengan seorang Sultan Bugis kaya berasal dari Sulawesi yang menyumbangkan dananya untuk pembangunan masjid.

Dulunya, tanah masjid merupakan rumah pribadi kediaman Hajjah Fatimah. Suatu hari, sebuah insiden kebakaran terjadi, namun Hajjah Fatimah berhasil lolos tanpa luka sedikitpun di tubuhnya. Atas rasa syukurnya dia menjadikan tanah tersebut untuk dibangun sebuah masjid.
Masjid ini dijadikan Monumen Nasional pada tahun 1973, memiliki arsitektur yang mencerminkan perpaduan antara unsur Islam dan Eropa dengan kubah berbentuk bawang, area wudhu yang menyerupai rumah khas Melayu dengan interior yang dihiasi ukiran kayu Melayu-Muslim tradisional.

Dari luar, bangunannya dikelilingi tembok tinggi dengan menara masjid yang sangat indah di desain oleh John Turnbull (desainer asal Eropa). Menara masjid paling menarik perhatian yang menyerupai puncak menara gereja, saat kami berkunjung sayangnya menara dalam tahap renovasi. Selama bertahun-tahun karena fondasinya yang berpasir, menara masjid ini mulai miring ke arah kubah, oleh para pengunjung dijuluki “menara condong” ala Singapura sebagai lawan menara Pisa di Italia.

5. Masjid Omar Kampong Melaka

Sungguh sulit mencari lokasi masjid ini, walaupun dalam peta tertulis bahwa masjid berada di daerah Clarke Quay daerah hotspot wisata malam di Singapura tapi masjid yang terletak di 10 Keng Chow Street masih sulit dicari. Ternyata masjid berada di belakang gedung Departemen Tenaga Kerja Singapura. Masjid Omar Kampong Melaka sebuah bangunan yang sederhana tetapi menarik di tengah bangunan pencakar langit yang modern, inilah masjid yang pertama kali dibangun dan menjadi masjid tertua di Singapura.

Masjid didirikan pada tahun 1820, setahun setelah Sir Stanford Raffles mendarat di Singapura dan beberapa tahun sebelum masjid Sultan dibangun. Sejarah menyebutkan bahwa masjid pertama di Singapura ini dibangun oleh Syed Omar bin Ali Aljunied seorang saudagar  kaya keturunan Arab yang berasal dari Palembang. Putra beliau yang bernama Syed Abdullah bin Omar Aljunied yang kemudian membangun lagi masjid tersebut di tahun 1855.

Nama keluarga Aljunied selain diabadikan sebagai nama masjid juga di abadikan sebagai nama jalan Aljunied Road di daerah yang juga bernama Aljunied serta Syed Alwi Road di Serangon (Syed Alwi adalah keturunan Syed Omar)
Kini masjid Omar menjadi salah satu masjid yang berada di pusat bisnis terpenting di Singapura, dengan kapasitas mencapai 1.000 jamaah.

6. Masjid Jamae (Chulia)

Masjid Jamae juga dikenal sebagai masjid Chulia atau Periya Pelli (Masjid Besar). Masjid Jamae merupakan salah satu masjid tua sejak 1820-an. Dengan gerbang depan dan menara yang khas, masjid Jamea terlihat unik dan mengundang rasa penasaran di tengah nuansa Tionghoa yang mendominasi Chinatown.

Dibangun tahun 1826, Masjid Jamea adalah masjid pertama dari tiga masjid di Chinatown yang didirikan oleh kaum Chulia, muslim Tamil dari Corromandel Coast di India Selatan. Itulah sebabnya masjid ini juga dikenal dengan nama masjid Chulia. Masjid ini adalah satu dari segelintir masjid di Singapura yang membuka kelas agama dalam bahasa Tamil hingga hari ini.
Dianggap sebagai salah satu masjid tertua di Singapura, masjid Jamae mengusung gaya arsitektur yang elektiik, meminjam elemen-elemen dari barat dan timur lihat saja pintu gerbang yang dipengaruhi langgam Indo-Islam India Selatan, sementara ruang shalat mengusung aksen neoklasik, ubin hijau mengkilap ala Tiongkok.

Situs ini wajib dikunjungi bila anda ingin melihat arsitektur awal Singapura dalam bentuk aslinya. Berbeda dengan bangunan keagamaan lain dari abad XIX, masjid Jamae belum pernah dibangun kembali, meskipun sudah diperbaiki dan cat ulang.
Masjid Jamae (Chulia) ditetapkan sebagai monumen nasional pada tahun 1974.

Artikel dan foto oleh : Lutfi Sriyono (l.sriyono@gmail.com)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s