Wisata Muslim ke Australia

Setelah melakukan wisata ‘moslem friendly’ ke Eropa pada tahun 2014, sahabat saya Toriq melanglang Australia pada bulan Agustus 2016 untuk berwisata sekaligus mengunjungi beberapa masjid dan islamic centre disana. Berikut catatan perjalanannya.

Agustus 2016 ada lagi duit lebih, kita berdua kepikir mau jalan jalan ke masjid di negeri barat. Karna duitnya nggak banyak, yang kepikir adalah Ostrali, proses visa ke agen travel dan dapat tiga tahun, kalo gini hasilnya, musti cari lebihan lagi buat pake visa. Kali ini modenya backpacker, walaupun sebenarnya pake koper. Sampai di Melbourne naik Garuda direct flight, pas di bandara makanan istimewa sudah siap dimakan, kita makan rendang. Rendang emang kita beli sebelum terbang, katanya harga makanan di Aussy mahal dan makanan gak boleh keluar bandara, jadi itu nasi dan rendang dua bungkus kita habisin setelah bermalam di pesawat selama 8 jam terbang dengan selingan makan di udara.

Kelar makan rendang sembari di tunggui petugas, kasak-kusuk cari tau naek bus umum, akhirnya ketemu mesin jual kartu. Karena duit dolar pecahan besar semua jadinya kartu yg kebeli kabanyakan, walaupun akhirnya bisa refund di Southern Cross Melbourne. Kartu yg kebeli masing2 100 dolar, yg satu prabayar harian, satunya prabayar per pemakaian. Dari airport naik bus sampai stasiun kereta lanjut ke stasiun Flinders, begitu keluar udaranya sangat dingin.

Westall Mosque
Karena saat itu hari Jumat dan udah liat2 sebelumnya masjid apa yang mau kita kunjungi, yang jadi tujuan kali ini adalah masjidnya orang2 Indonesia. Naik kereta ke Westall, turun dan jalan keluar kanan, koq sepi banget, nggak ada keliatan apa-apa dan perut sangat lapar. Sebelum turun di Westall kita lihat ada restoran halal di stasiun sebelumnya, okelah kita balik aja makan dulu karna waktu masih jam 10 lewat. Naik lagi kereta dam ketemu orang berjilbab warga keturunan TimTeng, kita tanya tentang masjid dan dia nggak tau. Turun di stasiun sebelumnya bernama Clayton ada beberapa resto halal, di stasiun ketemu muslim Indonesia berhijab, ya katanya masjid Westall turun kanan jalan dikit sampai, setelah makan kita ikuti saran tsb, turun kanan, sampai saya tanya balik … kanan embak atau kanan saya ?… hahahaha

Akhirnya nyerah nggak ketemu, baca peta screen shot waktu di rumah juga gak guna, gak bisa di enlarge.. kita coba turun arah kiri stasiun dan bener… nggak jauh udah kerasa ada masjid. Sampai di masjid … loh koq sepi gak ada orang, di belakang masjid ada backyard dan dapur, keliatanya untuk kegiatan pengajian dan kumpul arisan…., kita tunggu 5, 10, 15, 20 menit nggak ada orang datang, akhirnya ada seorang embah dengan pakaian Jumatan.

Si embah sudah tinggal di Melbourne 40 tahun, dia asli Solo. Katanya Jumatan sudah tidak ada lagi di masjid Westall karena sudah di komplain warga, di komplain karena sudah overload, termasuk yang parkir mobil sembarangan. Dan yang Jumatan bukan hanya warga Indonesia situ yang juga nggak bisa diatur. Nggak lama datang orang Pakistan yg mau Jumatan.

Si embah sudah janjian  sama orang Indo yang mau Jumatan dimana gitttuuu. Datanglah teman si embah, bapak muda yang sudah lima tahun disitu berasal dari SumBar. Lanjut ke acara  Jumatan, orang2 Indo disitu patungan nyewa aula di Monash Community Centre, dengan fasilitas parkir dan gedung memenuhi standar untuk ngumpul2 80an orang Jumatan.

Jeffcot Mosque
Sampai di CBD dekat kita menginap di Elisabeth strèet, kita ngaso sambil liat2 peta standar turis yang tersedia di hotel. Ada satu masjid di kisaran daerah jalan kaki atau within walking distance. Sebelum kita menuju masjid tsb untuk sholat magrib, lihat kanan kiri resto berlabel halal. Selama jalan jalan di Melbourne CBD, yang keliatan label halal adalah resto asal Malaysia, walaupun dilihat-lihat adalah merupakan keturunan china di Malaysia. Selain itu resto Timur Tengah, entah Arab atau Pakistan, India dan sebangsanya.

Jefcott Mosque merupakan masjid di CBD, kita yang cuma mau ngabisin waktu foto-foto di daerah situ masih sempat untuk tetap sholat di masjid.

Lakemba

Seperti pemberitaan di berbagai media da’wah, dan acara jalan-jalan di TV di rumah, salah satu pusat Islam di Sydney adalah Lakemba. Kami tiba di Sydney pagi hari, dengan menggunakan sleeper bus dari Melbourne, pilihan sleeper bus cuma mau hemat waktu dan uang, artinya kalo pake sleeper nggak perlu bayar hotel dan tiket. Hitunganya beda dikit, cuma ceritanya jadi banyak hehehe. Tetapi capeknya beda, buat stw kayak saya koq rasanya lebih capek, karena tidurnya nggak 100%.

Dari Sydney Central, naik kereta ke stasiun Lakemba dan saat tiba di stasiun Lakemba, udah nampak satu musholla di atas restoran Bangladesh. Itu bukan masjid Lakemba, masjid Lakemba jalan lagi ke dalam 500m. Karena saat itu asam urat saya kambuh, kaki nggak bisa dipake jalan normal, tujuan kita batasi sampai situ saja.

Baru aja beberapa langkah dari stasiun, restoran halal sudah tersedia, ada resto India, Bangladesh, Lebanon dan lainnya. Habis makan nasi kita lanjut ke tujuan utama yaitu musholla. Menaiki tangga ke lantai atas tempat beradanya musholla tsb, terlihatlah suasana santri yang amat khas. Anak-anak mengaji, dengan guru pegang lidi. Ada bahasa melayu terdengar saat itu, seperti biasa anak2 yang diantar orang tuanya ngaji magrib dengan malas-malasan. Saat itu kegiatannya adalah hafalan, satu satu anak maju melantunkan surat pendek tanpa membaca di hadapan gurunya.

IMG-20170430-WA0076

Waktu kita makan di resto kebab samping tempat kita nginap di hotel backpacker Sydney Central, si pramusaji ngobrol. Rupanya si pramusaji ini asli Turki. Dia cerita katanya pernah ke Jakarta tiga kali, dia bilang ngapain ke sini .. ‘kan mahal.. ah si om, kita aja yang murah. Dia cerita katanya ada masjid Indonesia di daerah Sydenham. Belakangan baru tau, patokanya bukan stasiun itu, tapi stasiun Tempe.

Hari terakhir di Sydney, habis check out hotel pagi2, kita ngedrop koper empat biji di bandara. Karena gak punya duit pecahan 10 dolar, bokin ogut maksa nukerin duit ke orang2 yang lewat di parkiran, dia merasa kayak di sini aja hahaha, ada satu keluarga muda papa mama dan dua anaknya yg masih kecil2 kita hadang mau nuker sepuluhan. Dia ngeluarin sepuluhan satu, katanya ambil aja gapapa. Segitu bininya kayak males ngasihnya akhirnya saya pura2 gamau tapi duitnya kita pegang hahaha, so kesimpulanya mereka juga baek sama kita yg berhijab. Jadi kita dapet modal untuk nitip barang di safety box.

Dari airport masih ada sisa duit, karna jadwal pesawat ke Jakarta jam 9 malam transit di KL, yg ternyata ada masalah besar dan akhirnya malah transit di Bali. Masih jam 12an waktu Sydney kita mau habiskan dengan cari makan sambil liat-liat sekitar, kita naek bus asal aja dan berhenti di Bankasia, disitu ada resto dan minimarket.

Di minimarket kita sibuk jajan coklat kecil-kecil, pas di kasir ternyata tuh kasir orang Indo, ngobrol lagi… tanya2 masjid yg deket dimana, walaupun dia non muslim yang katanya asalnya dari daerah Pluit, kalo orang Indo pasti tau dimana ada masjid kayaknya.., dia jelasin katanya dari sini naek kéreta turun satu stasiun di Tempe, jalan kaki 200 meter.

Okelah kita berangkat, pas sampe stasiun kaki gak mau dipake jalan banyak2, ditanyalah sama petugas, ibu2 pinoy.. ditunjukin letak masjid. Namanya masjid Al Hijrah, baru aja ada bubaran pengajian Minang, ternyata emang itu masjid Indonesia.

Fasilitas masjidnya sama dengan Masjid Westall di Melbourne, ada dapurnya. Jadi kita ngopi sama makan biskuit yg ada, gratisan kayak di rumah sodara. Di situ marbotnya ngomong melulu, sampe2 dia nawarin kamar kalo masih mau nginep. Marbotnya orang sunda yg sudah nggak tau lagi berapa lama dia di Sydney, pokoknya katanya udah lama banget dah.

Ada juga ketemu jamaah asli Jogja yg bawa keluarganya nemenin bininya yg lagi kuliah S3. Saat itu pas sholat Ashar sambil santai dia ngobrol. Dari Masjid Alhijrah balik lagi ke Banksia mau makan dan ngopi.., taunya warungnya udah tutup, padahal masih jam 4 sore. Jadi kita cuma jajan biskuit, bertahan sampai di penerbangan milik Malaysia yang punya menu nasi di udara.

Sampai di bandara Sydney, masih ada beberapa waktu sebelum jadwal keberangkatan pesawat, kami menyempatkan shalat di prayer room yang ada di bandara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s