Terdampar di Qatar

Pengalaman saya berwisata di Doha, Qatar, sebetulnya adalah suatu ‘kecelakaan’, tidak diniatkan dan tidak di persiapkan. Lho kok bisa, gak niat dan gak ada persiapan tapi bisa jalan-jalan di Doha..? Jadi ceritanya gini, akhir bulan Oktober 2012 saya dan istri melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Wahington D.C. Dari Jakarta kami terbang menggunakan Qatar airlines pada tanggal 28 Oktober tengah malam. Penerbangan kami harus transit dan ganti pesawat di Doha. Kami tiba di Doha keesokan harinya sekitar jam 6 pagi waktu setempat, sedangkan connecting flight menuju Washington DC di jadwalkan pada jam 10 pagi.

Setelah keluar dari pesawat, kamipun mencari informasi connecting flight yang menuju Washington DC, namun pada informasi di papan elektronik belum tersedia informasi gate nya. Setelah menunggu sekitar 1 jam, akhirnya papan informasi menunjukkan bahwa penerbangan kami ke Washington DC dibatalkan. Sayapun bergegas ke meja informasi, menanyakan apa yang terjadi dan bagaimana kelanjutan penerbangan kami. Menurut informasi petugas, bandara Washington DC dan New York ditutup akibat badai Sandy, sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Kemudian petugas Qatar airlines mengumpulkan penumpang yang menuju Washington DC dan New York, ada sekitar 20 orang yang senasib dengan kami. Petugas menginformasikan, bahwa kita akan di inapkan di hotel di kota Doha, jika bandara Washington DC sudah dibuka, akan di terbangkan besok paginya.

Sebagian besar penumpang yang senasib dengan kami adalah warga negara Amerika Serikat, mereka tidak memerlukan visa untuk memasuki Qatar. Sementara saya dan istri harus mengurus visa terlebih dahulu di bandara Doha. Normalnya, penumpang transit tidak bisa mendapatkan visa on arrival di bandara Doha, namun karena ini dianggap kejadian force majeure, imigrasi Qatar memberikan kami temporary visa gratis untuk keluar dari bandara memasuki kota Doha.

486348_10151183164148953_65078830_n

Kamipun tiba di hotel di Doha sekitar pukul 2 siang. Kebetulan, teman kuliah kami ada yang tinggal di Doha, bekerja di perusahaan telekomunikasi Qtel. Sayapun menghubungi teman saya dan menginformasikan kalau saya terdampar di Doha. Saat itu teman saya Defi masih berada di kantor, dia berjanji akan menjemput saya di hotel setelah pulang kantor. Sekitar jam 4 sore, teman saya datang bersama istrinya, yang juga teman kuliah kami.

Sore itu kami di ajak berkeliling kota Doha naik mobil. Kota Doha ini relatif kecil jika dilihat dari luas wilayah maupun jumlah penduduknya, namun kota ini sangat metropolitan. Gedung-gedung bertingkat tinggi dan megah memenuhi kawasan pusat kota. Sebagian besar gedung tersebut baru di bangun tahun 2000an, saat oil boom membuat negara Qatar yang kaya minyak menjadi kebanjiran dollar.

Sebagai kota kecil, sebetulnya tidak banyak obyek wisata yang bisa dilihat di Doha. Teman saya bilang, warga Doha biasanya menghabiskan akhir pekan di kawasan pantai Corniche, belanja di mall, main offroad dengan jeep di gurun pinggir kota, atau makan di restoran-restoran seputar pasar Souq Waqif.

1620_10151183168678953_1273847816_n

Setelah berkeliling kota melihat gedung-gedung yang menjadi landmark kota Doha, kami menuju pantai Corniche. Pantai ini cukup panjang, sekitar 5 kilometer. Jalur pejalan kaki di sepanjang pantai ini dibuat lebar dan nyaman. Setiap sore, kawasan pantai corniche ini menjadi salah satu pusat keramaian bagi warga Doha. The place to see and to be seen. 

25031_10151183172038953_1153062516_n

Di pantai ini ada beberapa mall dan di depan nya ada dermaga untuk yacht. Orang kaya di Doha kalau mau belanja disitu mungkin bisa parkir yacht nya di depan mall.. 😀 Di dalam mall ini saya melihat satu vending machine yang sangat unik. Jika biasanya vending machine isinya minuman atau makanan, vending machine yang satu ini menjual emas lempengan 5 dan 10 gram.. jajanan nya mahal bener yah.. 😀

14622_10151183170748953_1205518852_n

Dari kawasan Corniche, kami lanjut ke pasar Souq Waqif untuk sightseeing dan makan malam. Pasar ini sungguh ramai. Di plaza utama di tengah pasar banyak kelompok pemuda yang bermain musik timur tengah, akrobat dan permainan ketangkasan dengan api. Seperti umumnya pasar di kawasan timur tengah, komoditas yang banyak dijual di Souq Waqif ini adalah produk garmen, karpet, lampu-lampu hias dan makanan biji-bijian kering.

549681_10151183165073953_287481100_n

Kami makan malam di sebuah restoran yang menyajikan menu khas timur tengah, Damasca. Tempat makannya berada di atap terbuka di lantai 2, sehingga dari tempat kami makan bisa melihat keramaian Souq Waqif. Menu nya standar timur tengah seperti hummus dan falafel.

Setelah makan malam, kami berjalan-jalan di dalam pasar Souq Waqif yang tetap buka sampai tengah malam. Sepintas, lorong-lorong di pasar ini mirip dengan Grand Bazaar di Istanbul. Setelah berbelanja beberapa souvenir Doha, kamipun kembali ke hotel sekitar jam 11 malam, sambil berdoa semoga penerbangan kami bisa dilanjutkan besok pagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s