Jakarta Kota Tua

04.30 : ketika yang terlihat di jam meja telah menunjukan waktu setengah lima. Ha ??? Kok, masih capek dan males bangun ya…mana hari Minggu pula…Tapi sontak, baru sadar kalau hari Minggu pagi, saya punya janji sama keluarga dan teman-teman pergi ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

06.10 : berhubung keluarga cukup terbilang lelet. Jadi, meskipun bangun jam setengah lima, tapi baru kelar ini-itu, yah, sekitar jam 6. Sebenarnya rencana awal sudah harus keluar rumah jam 05.45. Tapi dasar itu tadi “the lelet family”, yah baru beres semua dan langsung cabut jam 06.10. Rasa panik berseliweran di kepala saya, perasaan saya deg…deg…an… Sebab saya sudah janji dengan teman untuk bertemu di halte bis Trans Jakarta (TJ) di depan Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru jam 6.30.

06.45 : Akhirnya, tibalah di halte Masjid Agung dan bertemu teman. Lumayan lama juga menunggu TJ di Minggu pagi mungkin karena jarang orang naik TJ di hari libur.

07.00 : Namun, akhirnya selang beberapa lama kemudian TJ-pun sudah terlihat dari kejauhan…siip deh…lega…hehe, selain itu ini kali pertamanya, saya sekeluarga naik TJ sampai kota…heheh…udik ya…

07.30 : Berhenti di halte Stasiun Kota, rame-rame nyeberang ke depan musium Bank Mandiri dan Ketua Rombongan nawar ojeg sepeda ngantar ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak lama kemudian, langsung digiring pak Ketu menuju ojeg’ers yang sudah siap mengantar ke semua lokasi yang ttelah direncanakan… Wah, naik ojeg sepeda ??? Ini benar-benar pengalaman luar biasa unik dan tentunya sisi paling unik tuh, yah karena kita konvoi…jadi, seperti mau demo aja…

15078927_10154745070968953_5723835166381135820_n

Lalu, penyelusuran Jakarta Kota Tua dimulai dan diawali berhenti di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan ini mmeliputi kawasan Galangan, Benteng, Pasar Ikan dan Kampung Luar Batang. Pelabuhan saat ini telah berubah menjadi pelabuhan bongkar muat barang terutama kayu-kayu dari pulau Kalimantan. Di dermaga, bersandar banyak perahu Phinisi atau Bugis Schooner. Jejeran perahu sangat indah dengan bentuk khas meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna warni pada badan kapalnya.

15095685_10154745070988953_7799062200405822450_n

Sekitar 200 meter ke arah selatan Pelabuhan ini, terdapat benteng yang dibangun VOC tahun 1613. Konon benteng ini selain berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang, juga digunakan sebagai benteng perlawanan dari Inggris yang berniat menguasai perdagangan di Indonesia.

15095722_10154745071373953_3770752985276852840_n

Next target : Musium Bahari….Tempatnya di Pasar Ikan. Menurut sejarawan bagunan Musim Bahari ini awalnya berupa dua gedung bekas kantor perdagangan dan gudang rempah-rempah milik Belanda yang dibangun tahun 1652. Hingga kini, Musium Bahari telah mengalami beberapa perubahan dan tahun perubahan dapat dilihat dilihat di pintu-pintu masuk, diantaranya tahun 1718, 1719 dan 1771. Tembok yang mengelilingi musium adalah bagian dari pembatasan kota Jakarta (city wall) asli dari zaman Belanda. Bahkan, gapuranya didatangkan dari Amsterdam. Musium diresmikan 7 Juli 1977 oleh Gubernur Ali Sadikin. Ruangan dalam musium dapat dilihat berbagai jenis kapal dari seluruh daerah di Indonesia.

15078676_10154745072088953_3493882117196744595_n

Kelar di Musium Bahari, kemudian lanjut ke Menara Syahbandar. Disini, tempatnya tidak besar tapi cukup rindang. Konon, dulu menara yang didirikan tahun 1839 ini berfungsi memandu keluar masuk kapal ke Batavia sebelum Pelabuhan Tanjung Priok dibuka. Sebuah tugu berdiri di pelataran, dimasa lalu tugu dijadikan penanda Kilometer 0. Tapi kemudian titik Kilometer 0 di pindah ke Monumen Nasional (Monas). Di bawah menara ditemukan pintu yang menyambung ke dalam ruang bawah tanah menuju mesjid Istiqlal. Semasa penjajahan, lokasi yang menjadi mesjid Istiqlal sekarang adalah benteng Belanda.

15181192_10154745071748953_5060929676590023098_n

Perjalanan diakhiri di jalan Tongkol (arah selatan musium). Disini ada bangunan memanjang yang berjendela segitiga pada atapnya. Dulu itu bekas bengkel kapal VOC dan kini menjadi sebuah rumah makan. Lokasi itu sebelumnya merupakan kediaman Pangeran Jayawikarta penguasa Jayakarta, yang kemudian Belanda mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.

Wuihhh…capek juga neh…akhirnya selesailah perjalanan perjalanan keliling Pelabuhan Sunda Kelapa dengan ojeg sepeda. Kebersamaan dengan para ojeg’ers disudahi di depan Musium Bank Mandiri. Pulang dengan TJ kembali berhenti di Masjid Agung Al-Azhar dan sekeluarga cari taksi pulang ke Cilandak.

 

Tulisan oleh rekan saya Lutfi Sriyono (l.sriyono@gmail.com)

Foto-foto oleh Nelwin Aldriansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s