Kereta Peluru Shinkansen

Ketika mendarat pertama kali di Narita Airport, pertengahan bulan Agustus 2008 lalu, kami dipersilahkan naik kereta NEX (Narita Express) dari terminal 2 langsung menuju stasiun Shinagawa (Tokyo). Ini merupakan paket dari Japan Rail Pass yang dikeluarkan oleh JR (Japan Railways Group), pembelian tiket JR dapat dilakukan di luar Jepang untuk jangka waktu perjalanan 7/14/21 hari. Saya duduk bersebelahan dengan paman saya, seorang pensiunan BUMN, kami berdua baru pertama kali naik NEX, dan sungguh terpukau dengan pemandangan sepanjang jalan yang seolah berlari melesat bagaikan angin. Selanjutnya selama berada di Jepang (12 hari), kereta cepat Shinkansen bukan hal yang asing bagi saya, karena beberapa kali berkesempatan menaikinya.

15135856_10154740884458953_4049732840076047455_n

Sebenarnya, kalau boleh bilang, naik Shinkansen tidaklah terlalu menarik, kecuali kecepatannya yang aduhai, 30 menit pertama masih seru, sisanya membosankan. Tidak ada bedanya dengan naik kereta Argo Gede (Bandung-Jakarta). Mungkin malah lebih enak naik kereta Argo Gede. Mengapa…? Karena saking cepatnya kereta Shinkansen, kami malah jadi sulit menikmati pemandangannya.

Shinkansen kalau diterjemahkan langsung mempunyai arti jalur utama baru, dan kata Shinkansen ini sebenarnya bukan berarti keretanya, tapi jalurnya, tapi entah kenapa kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris bisa-bisanya menjadi bullet train. Tapi emang kerenan bullet train daripada the new main line.

15055805_10154740887408953_1365641378565469858_n

Jepang mulai pembuatan kereta tercepat di dunia pada tahun 1964. Shinkansen pertama yang dibuat disebut O atau Shinkansen O kei = Shinkansen seri O. Shinkansen ini diberi nama Kodama yang menghubungkan antara Tokyo dan Shin Osaka (Osaka Baru). Pengembangan Shinkansen selanjutnya maju dengan pesat.

Ada berbagai macam nama Shinkansen tergantung jalur yang dilalui. Misal pada jalur Sanyo dan Tokaido dikenal Nozomi, Hikari dan Kodama sedang untuk jalur Akita hanya dilayani oleh Komachi tapi untuk jalur Tohoku dilayani 5 yaitu, Hayate, Yamabiko, Nasuno, Max Yamabiko dan Max Nasumo.

Shinkansen yang kami naiki dari Tokyo ke Hiroshima (680 km), hanya butuh waktu 4 jam 23 menit. Berarti kecepatan rata-ratanya adalah sekitar 150 km/jam bandingkan dengan kawan saya yang menggunakan Bis memerlukan waktu 12 jam, bahkan di Jepang bagian Utara ada Shinkansen berkecepatan diatas 250 km/jam.

15219417_10154771921198953_7526875038966401051_n

Kalau kita ingin naik Shinkansen, kita bisa memilih tempat duduk reserved ataupun non reserved. Non reserved berarti kita bebas memilih tempat duduk dimanapun kita mau selama berada di dalam satu gerbong yang tertera di tiket kita, sementara reserved berarti tempat duduk kita sudah ditentukan dari sananya. Total gerbong per Shinkansen bisa sampai 16 gerbong dan biasanya ada sekitar 2-4 gerbong untuk merokok. Shinkansen Nozomi adalah Shinkansen yang hanya berhenti di stasiun besar, misalnya Tokyo, Shizouka, Nagoya, Osaka.

15203225_10154771913868953_3017887682158264100_n

Shinkansen memiliki disain rupa yang mirip banget kayak pesawat terbang, Cuma bedanya ruangannya jauh lebih luas. Jarak dari satu tempat duduk di depannya cukup luas, jadi kita masih bebas menggerakan kaki kita, enggak kayak di pesawat tapi kalau naik yang “business class” sih beda ya.

Kalau diperhatikan bagian paling menarik dari badan Shinkansen adalah moncongnya. Dari mulai yang model pendek (pesek) hingga yang mancung ke depan seperti N 700, dan berbagai bentuk moncong yang lucu-lucu. Bentuk moncong ini mempengaruhi laju Shinkansen tentunya. Setelah merasakan perjalanan naik Shinkansen, saya baru ngerti kenapa orang Jepang memilih naik Shinkansen daripada naik pesawat untuk pergi ke luar kota, padahal waktu tempuh pesawat jauh lebih cepat dibanding Shinkansen, bahkan harga tiketnya gak jauh beda, dari proses pembelian tiket sampai tiba di tempat tujuan naik Shinkansen jauh lebih praktis.

12540580_10153940536243953_2252052935492468544_n

Salah satu kepraktisan Shinkansen adalah proses pembelian tiket dan pengecekan barang sebelum naik. Proses pembelian tiket Shinkansen sangat cepat dan praktis. Kita tinggal beli di mesin penjual tiket otomatis, tekan berapa jumlah tiket yang mau dibeli, stasiun keberangkatan, stasiun tujuan, waktu, jenis tempat duduk (reserved/non reserved, smoking/non smoking), selanjutnya masukan uang ke dalam mesin tersebut. Total proses pembelian tiket butuh waktu 5 menit. Selain pembelian tiket yang sangat praktis, kalau kita naik Shinkansen barang-barang kita tidak akan diperiksa sama sekali bebas mau bawa barang banyak, sedikit, besar, kecil dsb.

Ditambah lagi stasiun yang punya akses untuk Shinkansen jauh lebih gampang dicapai daripada ke airport dan setiap stasiun tersambung dengan jalur dalam kota atau jalur non Shinkansen. Dan yang paling utama adalah jadwal waktu keberangkatan dan kedatangan yang boleh dikata selalu tepat waktu.

Kapan ya… Shinkansen ada di Indonesia..??

 

Naskah oleh reka saya Lutfi Sriyono (l.sriyono@gmail.com)

Foto-Foto oleh Nelwin Aldriansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s