Surakarta Rabu 17 Juni 2026, cuaca cerah menyinari pagi ketika rombongan mulai berkumpul di Pura Mangkunegaran. Di halaman istana yang sarat sejarah itu, perjalanan panjang menelusuri jejak perjuangan Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa segera dimulai. Ini bukan sekedar perjalanan wisata, melainkan sebuah napak tilas yang mengajak peserta menyelami kisah heroik seorang pejuang besar berserta perempuan tangguh di sisinya, Raden Ayu Matah Ati.
Pernahkah membayangkan menghabiskan satu hari penuh mengikuti jejak seorang pahlawan nasional? Menapaki tempat-tempat yang dahulu menjadi saksi perjuangan melawan kolonial Belanda, mendengarkan kisah-kisah yang nyaris terlupakan, sekaligus merasakan bagaimana beratnya perjuangan yang harus dijalani demi mempertahankan harga diri dan tanah air.

Perjalanan menawarkan lebih dari sekedar sejarah. Ia menghadirkan pengalaman batin. Setiap lokasi menyimpan cerita, setiap langkah mengandung makna.
Destinasi pertama adalah Tugu Pusaka di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Monumen yang menyerupai bangunan candi ini berdiri tenang di tengah lingkungan asri, Di bangun pada tahun 1935 atas prakarsa Paduka K.G.P.A.A Mangkunegara VII, tugu tersebut menjadi tempat penyimpanan dua pusaka yang erat kaitannya dengan perjuangan Pangeran Samber Nyawa.

Dihadapan monumen itu, peserta diajak memahami bahwa pusaka bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga lambang tanggung jawab, keberanian, dan pengabdian kepada rakyat. Dari sinilah kisah perjuangan besar seakan kembali hidup.
Perjalanan berlanjut menuju Astana Giri Matah Ati. Di kompleks pemakaman yang teduh ini bersemayam Raden Ayu Matah Ati, sosok yang selama ini mungkin kurang dikenal dibandingkan sang suami. Padahal, perannya dalam perjuangan sangatlah besar. Matah Ati bukan sekedar pendamping hidup Pangeran Samber Nyawa. Ia juga memimpin Pasukan Estri, pasukan khusus perempuan yang beranggotakan para wanita desa yang dilatih ilmu keprajuritan. Bersama pasukan utama, mereka bergerilya menembus hutan dan perbukitan, menghadapi ancaman kolonial Belanda tanpa gentar.

Menurut Prof. Dr. K.R.H Djokosantoso Moeljono, kerabat Mangkunegaran, dalam sejarah Indonesia hanya dikenal dua pasukan khusus wanita. Selain Pasukan Estri, terdapat Inong Balee dari Kesultanan Aceh yang dipimpin Laksamana Malahayati sejak akhir abad ke-16. Fakta tersebut menjadi bukti bahwa perempuan Nusantara telah mengambil peran penting dalam perjuangan jauh sebelum Indonesia merdeka.
Napak tilas kemudian membawa rombongan menuju Prasasti Nglaroh atau Watu Gilang, petilasan bersejarah tempat awal perjuangan Pangeran Samber Nyawa . Watu Gilang adalah batu pipih setinggi sekitar 45 sentimeter dengan penampakan sederhana. Namun, di permukaannya terdapat lima lekukan yang menurut tradisi lisan digunakan sebagai media menyusun strategi perang gerilya menggunakan batu-batu kerikil sebagai bidak.

Di tempat inilah konon Pangeran Samber Nyawa memikirkan berbagai langkah menghadapi musuh. Watu Gilang juga dipercaya menjadi tempat beliau bertapa dan memohon petunjuk sebelum mengambil keputusan penting. Kesederhanaan batu itu justru menyimpan makna besar tentang kepemimpinan yang lahir dari perenungan.
Perjalanan berlanjut ke Astana Mantenan di Dusun Mantenan, Desa Jaten, Selogiri. Di sinilah dimakamkan Patih Kudanawarsa, panglima perang sekaligus orang kepercayaan Pangeran Samber Nyawa. Nama “Mantenan” memiliki kisah yang unik. Saat sang patih meninggal, prosesi pemakamannya sengaja disamarkan sebagai pesta pernikahan. Langkah itu dilakukan agar pasukan Belanda tidak mengetahui bahwa pasukan Pangeran Samber Nyawa sedang berduka dan kehilangan salah satu pemimpin terbaiknya. Strategi tersebut menunjukkan kecerdikan yang menjadi ciri perjuangan gerilya pada masa itu.

Tak jauh dari sana, rombongan singgah di Astana Karang Tengah, tempat dimakamkannya Kyai Khasanuriman. Beliau dikenal sebagai penasehat spiritual Pangeran Samber Nyawa sekaligus ayah dari Matah Ati. Dalam setiap perjuangan besar, selalu ada kekuatan batin yang menopang keberanian. Kyai Khasanuriman menjadi sosok yang memberikan tuntunan spiritual sehingga perjuangan tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga keyakinan dan keteguhan hati.
Perjalanan kemudian menuju Sendang Siwani, petilasan yang hingga kini masih ramai diziarahi. Mata air alami ini dipercaya sebagai tempat Pangeran Samber Nyawa mandi dan minum air sebelum melanjutkan perjuangan. Masyarakat meyakini, sejak menggunakan air dari sendang tersebut, semangat juang beliau beserta pasukannya semakin berkobar, karena itulah tempat ini dikenal dengan nama Siwani, yang dimaknai sebagai “menjadi berani”. Terlepas dari kepercayaan yang berkembang, sendang ini menjadi simbol lahirnya keberanian dan optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan.
Usai beristirahat dan santap siang, perjalanan ditutup di Astana Mangadeg, kompleks pemakaman para penguasa awal dan keluarga Praja Mangkunegaran yang berada di Bukit Mangadeg, Kabupaten Karanganyar.
Sebelum memasuki kompleks makam, berdiri Tugu Tri Dharma yang diresmikan tahun 1971. Tugu ini dipercaya berada di lokasi tempat Pangeran Samber Nyawa memperoleh bisikan ghaib sebelum mendirikan Praja Mangkunegaran. Tri Dharma yang diwariskan masih relevan hingga kini. Pertama, “Mulat Sarira Hangrasa Wani”, selalu introspeksi (mawas diri) dan berani. Kedua, “Rumangsa Melu Handarbeni”, merasa ikut memiliki. Ketiga, “Wajib Melu Hangrungkebi”, wajib ikut membela.
Di samping Tri Dharma, Pangeran Samber Nyawa juga mewariskan falsafah “Tiji Tibeh”, Mati Siji Mati Kabeh-Mukti Siji Mukti Kabeh. Sebuah ajaran tentang solidaritas tanpa batas; bahwa penderitaan dipikul bersama, begitu pula kebahagiaan dinikmati bersama. Nilai itu semakin dipertegas melalui filosofi Hanebu Sauyun. Seperti seikat tebu, setiap batang akan jauh lebih kuat ketika disatukan. Persatuan menjadi sumber kekuatan yang tidak mudah dipatahkan.

Menapaki perjuangan Eyang Samber Nyawa dan Eyang Matah Ati akhirnya bukan hanya membawa peserta mengenang sejarah. Perjalanan ini mengingatkan bahwa kemerdekaan dibangun oleh keberanian, kecerdikan, persatuan, dan pengorbanan, baik oleh laki-laki maupun perempuan.
Di setiap makam, batu, mata air, hingga monumen yang dikunjungi, tersimpan pesan yang tetap hidup hingga hari ini: sejarah bukan sekedar cerita masa lalu, tetapi warisan nilai yang terus menuntun langkah bangsa menuju masa depan.
Naskah: Lutfi Djoko D (lutfidjoko@gmail.com)
Foto: Lutfi, Dyan