Siapa sangka, Jakarta yang hari ini identik dengan gedung pencakar langit, jalanan padat, dan pusat bisnis modern, dulunya dikenal sebagai kawasan yang sangat religius. Betawi memiliki tradisi Islam yang kuat dan khas. Bahkan, tradisi kesantrian di Betawi berbeda dengan daerah lain di Pulau Jawa.

Kalau di banyak daerah para santri tinggal di pesantren, masyarakat betawi justru punya pola belajar yang lebih cair. Para santri datang ke rumah guru, langgar, atau majelis taklim untuk mengaji, lalu pulang kembali ke rumah masing masing setelah selesai. Mereka juga bebas berpindah-pindah guru sesuai kecocokan dan bidang ilmu yang ingin dipelajari. Tradisi seperti ini berlangsung hingga sekitar tahun 1960-an sebagaimana dicatat NU Online. Jika ingin memperdalam ilmu agama, biasanya para santri Betawi melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah, terutama ke Mekah.

Suasana itulah yang terasa ketika Sabtu, 6 Juni 2026 lalu, Lembaga Kajian Khazanah Nusantara bersama rombongan melakukan perjalanan menziarahi para ulama besar Betawi di Jakarta. Perjalanan ini terasa lebih dari sekedar wisata religi. Ada cerita, sejarah, dan keteladanan yang seolah hidup kembali di setiap tempat yang dikunjungi.

Tujuan pertama adalah makam Mu’allim Syafi’i Hadzami di kawasan Gandaria, Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Sosok ulama Betawi ini dikenal sangat disegani para habaib. Sejak usia sangat muda beliau sudah mengkhatamkan Al-Qur’an. Di tengah ramainya kawasan perkotaan dan berdirinya pusat perbelanjaan modern, kompleks pendidikan yang beliau bangun masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Dari Gandaria, rombongan bergerak menuju Mega Kuningan Jakarta Selatan untuk menziarahi makam Guru Mughni. Sulit membayangkan di tengah kawasan elite dan gedung-gedung tinggi ternyata terdapat tanah wakaf ulama besar Betawi yang dahulu belajar agama hingga Mekah selama belasan tahun. Dari keturunannya banyak ulama ternama Betawi diantaranya Dr. KH. Lutfi Fathullah rahimahullah ahli hadis sekaligus ketua BAZNAS Jakarta.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kwitang Jakarta Pusat, tempat dimakamkannya Habib Ali Al-Habsyi. Hingga hari ini, majelis taklim peninggalan beliau, masih rutin digelar setiap Ahad pagi dan telah berjalan lebih dari seratus tahun. Setelah itu rombongan menuju Condet Jakarta Timur menziarahi pemakaman Al-Hawi, tempat duapuluh satu habaib dimakamkan, perjalanan akhirnya ditutup di makam Guru Marzuki yang berkubur di halaman masjid Al-Marzuqiyah Cipinang Muara Jakarta Timur. Guru Marzuki di samping pendakwah juga peduli terhadap gerakan kebangsaan dengan mendirikan organisasi Nahdatul Ulama cabang Jakarta.

Perjalanan sehari itu seperti membuka kembali ingatan bahwa Jakarta bukan hanya tentang kemacetan dan gedung tinggi. Kota ini juga dibangun oleh doa-doa para ulama, majelis ilmu, dan perjuangan panjang para pendakwah Betawi. Menziarahi mereka membuat kita sadar bahwa di balik gemerlap ibu kota, ada warisan keilmuan dan keteladanan yang tetap hidup hingga hari ini.
Naskah dan foto: Lutfi Djoko Sriyono (lutfidjoko@gmail.com)