Saya berdiam sejenak di hadapan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya maestro Raden Saleh. Dalam kanvas itu, tersimpan ironi sejarah: keberanian, penghianatan, dan kekalahan. Perang Diponegoro bukan hanya dikenal sebagai perang yang panjang, tetapi juga sebagai tragedi kemanusiaan yang menelan banyak korban jiwa. Lukisan itu seakan menjadi pintu masuk untuk memahami satu kenyataan pahit-bahwa tanah ini telah lama menjadi arena pertumpahan darah.

“Indonesia adalah terra bellica,” kata sejarawan militer Saleh Djamhari. Sebuah tanah perang, tempat pertempuran bangsa-bangsa asing berlangsung. Kita bukan selalu pelaku utama, melainkan kerap menjadi penonton dalam konflik yang dipicu oleh ambisi kekuasaan dan kekayaan. Pernyataan itu menggugah kesadaran bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh perjuangan internal, tetapi juga oleh benturan kepentingan global.

Kekayaan alam Nusantara menjadi magnet yang menarik bangsa-bangsa asing datang silih berganti. Rempah-rempah, hasil bumi, dan letak strategis menjadikan wilayah ini sebagai titik penting dalam peta perdagangan dunia. Dari perseteruan poros Jepang-Jerman melawan Sekutu dalam Perang Dunia Kedua, hingga konflik Inggris melawan Belanda dan Perancis dalam Perang Napoleon, Indonesia kerap menjadi latar dari perebutan dominasi. Bahkan jauh sebelumnya, perang antarbangsa pemburu rempah-rempah telah menjadikan Nusantara sebagai panggung utama.

Bangsa kolonial pertama yang menjejakkan kekuasaan di sebagian wilayah Indonesia adalah Portugis. Setelah menaklukkan Malaka pada tahun 1511, mereka berambisi menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku. Kapal legendaris Flor de la Mar menjadi simbol kejayaan sekaligus keserakahan. Kapal itu tenggelam di tahun yang sama, membawa harta karun besar hasil jarahan dari Kesultanan Malaka ke dasar laut, replika kapal bisa dinikmati dalam ukuran asli di Malaka.

Di belahan dunia lain, kota Zaragoza di Spanyol berdiri sebagai saksi bisu pertemuan berbagai peradaban. Saat berkunjung di awal bulan Januari 2026 ke negara yang juga terkenal sebutan sebagai Negeri Para Matador itu, saya baru menyadari bahwa kota ini bukan hanya sebagai kota yang menyimpan jejak peradaban Iberia, Romawi, Muslim, Yahudi, dan Kristen yang diwakili antara lain oleh istana benteng Aljaferia, tetapi juga kota dimana Perjanjian Zaragoza disepakati.

Tahun 1529, Perjanjian Zaragoza ditandatangani oleh Spanyol dan Portugis. Perjanjian ini lahir dari ketegangan akibat kehadiran armada Spanyol di Pulau Tidore. Sebelumnya, kedua negara telah menyepakati Perjanjian Tordesillas (1494) yang membagi dunia di Samudra Atlantik. Namun konflik di wilayah Pasifik mendorong lahirnya kesepakatan baru Zaragoza menetapkan batas kekuasaan Maluku, mengukuhkan dominasi Portugis di wilayah tersebut, sementara Spanyol berfokus di Filipina. Dunia dibagi tanpa mempertimbangkan bansa-bangsa yang telah lama hidup di dalamnya.

Memasuki abad ke-17, hadir kekuatan baru Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Belanda. Tahun 1619, Jayakarta jatuh dan diubah menjadi Batavia. 22 tahun kemudian, Malaka direbut dari Portugis. Perlahan, jejak Portugis memudar, digantikan oleh kolonialisme Belanda.

Namun, dominasi Belanda tidak selalu mulus, di tahun 1811 melalui Kapitulasi Tuntang, Jawa jatuh ke tangan Inggris setelah kekalahan Belanda dalam Perang Napoleon. Masa kekuasaan Inggris berlangsung hingga 5 tahun kedepan, sebelum akhirnya Belanda kembali berkuasa. Periode ini menandai kesinambungan penjajahan hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942.

Empat tahun setelah Proklamasi, melalui Konferensi Meja Bundar, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia. Penandatangan dilakukan oleh Ratu Juliana dan Mohammmad Hatta di Istana Dam-Amsterdam. Namun, jalan menuju pengakuan itu tidaklah mudah. Pertempuran Surabaya pada November menjadi salah satu momen paling heroik dalam sejarah revolusi. Dipicu oleh tewasnya seorang tentara Inggris Brigadir AWS Mallaby, pertempuran ini membangkitkan solidaritas nasional dan dukungan internasional. Hingga kini , setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sejarah mencatat lebih dari 500 perang kolonial pernah terjadi di tanah air ini. Ribuan, bahkan ratusan ribu nyawa dari berbagai bangsa gugur di Nusantara. Namun, dari semua itu, lahir satu kebenaran yang tak terbantahkan: Indonesia tidak tunduk pada takdir sebagai korban.
Naskah : Lutfi Djoko D, lutfidjoko@gmail.com
Foto : Lutfi, Avit