Palangkaraya (Pernah Jadi) Calon Ibu Kota Negara

Palangkaraya merupakan kota yang relatif baru. Kota ini baru mulai dbuka dan dibangun pada tahun 1957, sebagai persiapan ibukota propinsi Kalimantan Tengah, propinsi baru yang diresmikan Presiden Soekarno pada bulan Mei 1957. Kota Palangkaraya sendiri didirikan pada tanggal 17 Juli 1957. Sebelumnya, wilayah kota Palangkaraya masih berupa hutan dan rawa.

Pembangunan kota Palangkaraya banyak dibantu kontraktor dari Rusia, negara yang saat itu memiliki hubungan dekat dengan Indonesia. Infrastruktur berupa jalan, lansekap dan tatakota banyak dibantu oleh konsultan dan kontraktor dari Rusia. Banyak yang bilang, kualitas jalan dan infrastruktur di Palangkaraya sangat baik dan awet, karena pondasinya dikerjakan dengan sangat baik oleh kontraktor Rusia.

Jika dilihat di peta Indonesia, posisi kota Palangkaraya relatif berada di titik tengah Indonesia. Posisi unik ini membuat Presiden Soekarno bercita-cita menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia, menggantikan Jakarta. Namun rencana itu kemudian meredup seiring bergantinya kepemimpinan negara. Sekian lama rencana tersebut tenggelam, wacana ini kemudian dilanjutkan pada masa Presiden Joko Widodo, yang menyebutkan ibukota akan dipindah ke pulau Kalimantan. Spekulasi bahwa Palangkaraya yang akan dipilih jadi ibukota baru kembali merebak, namun kemudian pemerintah memutuskan Ibu Kota Negara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Meskipun tidak terpilih sebagai IKN, Palangkaraya tetap merupakan salah satu kota penting di Indonesia, sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Tengah. Kota yang berpenduduk sekitar 375 ribu jiwa ini terus mempercantik diri. tahun 2019 lalu, Palangkaraya memiliki terminal bandara yang baru dan modern, namun kaya dengan ragam etnis dayak dalam disain dan interiornya.

Salah satu icon wisata kota Palangkaraya saat ini adalah jembatan Kahayan. Jembatan sepanjang 640 meter ini mulai dibangun dimasa Presiden Soeharto pada tahun 1995, selesai pada tahun 2001 dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada januari 2002. Jembatan ini menghubungkan wilayah pusat kota Palangkaraya dengan kelurahan Pahandut Seberang, yang sebelumnya hanya bisa di sebrangi dengan perahu dan ferry.

Tidak jauh dari Jembatan Kahayan terdapat masjid dan kawasan taman Pasuk Kameloh, yang merupakan titik terbaik untuk mengambil foto berlatar belakang Jembatan Kahayan. Di sebelah taman Pasuk Kameloh terdapat tugu Soekarno. Monumen ini dibuat oleh warga Palangkaraya sebagai tanda terima kasih kepada Soekarno yang merupakan penggagas pembangunan kota Palangkaraya.

Di belakang tugu Soekarno, terdapat kampung wisata Sungai Kahayan. Kampung ini berada persis di tepi sungai Kahayan. Beberapa restoran dan kafe di kampung wisata ini memiliki rooftop dengan pemandangan ke arah sungai Kahayan dan Jembatan Kahayan. Menurut informasi, waktu terbaik untuk ngopi di kawasan ini adalah disore hari sambil menunggu matahari terbenam di balik jembatan Kahayan.

Foto Oleh Bagus Dwi
Foto Oleh Bagus Dwi

Kawasan pusat kota Palangkaraya berada di sekitar dua bundaran, yaitu Bundaran Kecil dan Bundaran Besar. Disekitar kawasan ini terdapat kantor Gubernur Kalimantan Tengah, hotel, shopping mall dan restoran. Franchise internasional yang sudah masuk Palangkaraya antara lain KFC dan Pizza Hut. Kedai Starbuck atau McDonalds belum ada. Namun penggemar kopi modern bisa hangout di jaringan franchise nasional seperti Excelso dan Jco.

Jika anda ke Palangkaraya di akhir pekan, sempatkan berkunjung ke Arboretum Nyaru Menteng, yang terletak sekitar 25km dari pusat kota dan dapat ditempuh dalam waktu 35 dengan mobil. Ini adalah kawasan pelestarian Orang Utan, semacam pusat pelatihan bagi Orang Utan yang akan dilepasliarkan kembali ke hutan. Saat saya kesana, hari Selasa, dan saya tidak tahu jika Arboretum ini hanya buka untuk umum di hari Sabtu dan Minggu. Alhasil, saya hanya bisa melihat dari luar saja. Dari kejauhan terlihat beberapa Orang Utan bergelayutan di kandang besi berwarna hijau.

Wisata Palangkaraya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner lokal. Demografi warga Palangkaraya di dimoniasi oleh etnis Dayak, Banjar dan Jawa. Karenanya, makanan-makanan dari tiga etnis utama ini mendominasi kuliner Palangkaraya. Jika ingin mencoba makanan khas Dayak, bisa mampir di beberapa restoran di sekitar Jalan RTO Milono, salah satunya di RM Samba.

Di rumah makan ini anda bisa mencicipi umbut rotan, sup batang rotan muda. Rasanya sedikit pahit namun lembut dan tertutupi oleh kuah yang gurih. Ada juga ikan jelawat, baik dibakar atau disup. Adalagi ikan sungai kecil-kecil, ikan Saluang namanya, digoreng kering dengan sambal cocol yang nikmat. Rebusan pare dicampur jagung merupakan pelengkap standar, mungkin seperti lalapan kalo di rumah makan sunda. Dua malam berkunjung ke Palangkaraya, sukses menambah berat badan saya 😀

7 Comments Add yours

  1. TORIK berkata:

    brader..
    yu luuks like real om-om here in da pictures

    Suka

  2. Avant Garde berkata:

    Salam kenal mas, penasaran dengan rasa gulai umbut rotan ituu deh, apa teskturnya kaya rebung ya…

    Isna

    Suka

    1. Hai Isna..
      Teksturnya agak beda dengan rebung.. kalo rebung kan teksturnya agak mirip kentang atau labusiam.. nah kalo umbut rotan ini berserat.. rasanya sedikit pahit, tapi tidak sepahit pare..

      Disukai oleh 1 orang

      1. Avant Garde berkata:

        Siap mas, terimakasih 🙂

        Suka

  3. This blog was… how do you say it? Relevant!! Finally I’ve found something which helped me.
    Kudos! koszulki piłkarskie z własnym nadrukiem

    Suka

    1. Hi Koszulki.. thanks for stopping by.. glad that this blog helped you.. 😊

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s