Warna Kontras Addis Ababa

Pertengahan tahun 80an, Ethiopia menjadi pemberitaan dunia, karena bencana kelaparan yang melanda negara tersebut. Musim kering berkepanjangan mengakibatkan pertanian dan peternakan hancur, ditambah ketidakmampuan pemerintah Ethiopia saat itu menyediakan makanan yang cukup untuk rakyatnya. Foto-foto di koran dan berita di televisi menggambarkan rakyat Ethiopia yang kurus kering. Berbagai lembaga kemanusiaan lalu mengorganisasi penggalangan dana untuk membantu rakyat Ethiopia.

Musisi Inggris Bob Geldof membuat rekaman amal dengan nama ‘Band Aid’ mengikutsertakan musisi-musisi top Inggris seperti Phil Collins, Sting, Bono, Boy George, Simon LeBon, George Michael dan lainnya membawakan lagu ‘Do They Know It’s Christmas’. Musisi Amerika kemudian menyusul membuat proyek ‘USA For Africa’, didukung Michael Jackson, Lionel Richie, Kenny Rogers, Bruce Springsteen, Cindy Lauper, Stevie Wonder dan lainnya, menghasilkan single ‘We Are The World’. proyek amal ini kemudian dipentaskan dalam konser ‘Live Aid’ yang di gelar secara serempak di London dan Philadelphia. Berbagai penggalangan dana ini berhasil mengumpulkan dana jutaan dollar yang disumbangkan ke Ethiopia.

Setelah mengatasi bencana kelaparan, Ethiopia perlahan mulai menggeliat ekonominya. Dari status sebagai salah satu negara termiskin di Afrika, Ethiopia menjadi negara berkembang. Beberapa kemajuan Ethiopia antara lain, atlit-atlit Ethiopia merajai lomba lari jarak jauh di Olimpiade maupun kejuaraan dunia atletik. Maskapai penerbangan Ethiopia, yaitu Ethiopian Airlines, menjadi maskapai terbaik di kawasan Afrika, dan masuk dalam Top 40 world Airlines versi Skytrax tahun 2018.

Selama ini, saya belum berencana untuk berwisata ke Ethiopia. Namun awal bulan Mei 2019, saya melihat promo tiket pesawat Jakarta-Johannesburg, Afrika Selatan, di masa liburan lebaran, dengan Ethiopian Airlines yang transit di ibukota Ethiopia, Addis Ababa. Jadwal transit di tiket promo tersebut hanya sekitar 2 jam. Saya pikir, tanggung kalau hanya transit di negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Lalu saya menghubungi sales office Ethiopian Airlines di Jakarta untuk bertanya kemungkinan stopover.

Ternyata memang disediakan opsi stopover bagi penumpang Ethiopian yang transit di Addis Ababa. Waktu stopover yang diberikan sekitar 18 jam. Dengan mengambil paket stopover ini, kita menambah sekitar USD 100 per orang, termasuk visa Ethiopia, airport transfer dan transit hotel di Addis Ababa. Jika kita ingin mengambil city tour, ada beberapa paket city tour yang bisa dipilih dengan biaya mulai USD 30 per orang.

Penerbangan dari Jakarta menuju Addis Ababa ditempuh selama sekitar 14 jam, termasuk transit mengambil penumpang di Bangkok selama sekitar 1 jam (tidak turun pesawat). Berangkat dari Jakarta jam 20.40 malam, kami tiba di Bangkok jam 23.50, dan terbang lagi pukul 01.00. Pesawat Boeing 787 yang digunakan Ethiopian Airlines tergolong pesawat baru. Inflight entertainment nya memuaskan, onboard meals nya juga cocok dengan selera. Oh ya Ethiopian Airlines ini masuk dalam aliansi Star Alliance, jadi bisa masukin point penerbangan ke Kris Flyernya SQ.

Jam 05.30 kami tiba di Addis Ababa, bandaranya sedang dalam renovasi. Kami mengurus voucher visa dan hotel di lantai 2, baru ke imigrasi di lantai 1. Antrian imigrasi cukup panjang, antri sekitar 30 menit. Setelah melewati imigrasi, kami melapor ke counter transit Ethiopian Airlines dan diarahkan ke parkiran bus hotel. Udara pagi ini cukup sejuk, sekitar 16 derajat celcius. Addis Ababa memang kota yang terletak di pegunungan, dengan ketinggian 2.355 meter diatas permukaan laut. Perjalanan dari bandara ke hotel Dreamliner Addis Ababa sekitar 15 menit saja. Kami lalu beristirahat di hotel sampai jam makan siang.

Sambil menunggu jemputan city tour yang dijadwalkan jam 2 siang, keluarga saya istirahat di hotel. Sementara saya memilih jalan kaki di sekitar hotel, eksplorasi daerah yang bernama Meskel Flower ini. Di sekitar hotel banyak terdapat bank, toko kelontong dan warung kopi. Di ujung jalan juga ada pasar kambing yang cukup besar.

Ethiopia terkenal dengan kopinya. Kopi arabica yang dihasilkan Ethiopia konon merupakan salah satu kopi terbaik di dunia. Saat jalan-jalan melewati kawasan Meskel Flower ini, banyak sekali kedai kopi, baik yang bergaya modern maupun tradisional. Saya lalu mampir di salah satu warung kopi dipinggir jalan, ingin coba juga kopi kampung ala Addis Ababa ini. Cangkir kopinya kecil, saat kita pesan, kopinya dipanggang saat itu juga, lalu digiling dan dirajang, dengan cara tradisional. dijamin fresh. Kopi seharga 5 Birr (Rp. 2.500) ini terasa kuat aromanya.

Sekitar jam 2 siang, kami dijemput untuk mengikuti Addis Ababa city tour. Itinerary city tour mengunjungi l Holy Trinity Church, gereja ini merupakan gereja utama di Addis Ababa. Masyarakat Ethiopia mayoritas beragama kristen orthodox. Di gereja ini mosaik kaca tempanya cantik. Di dalamnya ada makam Kaisar dan Ratu terakhir Ethiopia, yang merupakan donatur terbesar pembangunan gereja ini.

Kami lalu diajak ke National Museum.of Ethiopia, yang diklaim sebagai salah satu museum terbaik di Afrika. Koleksi utama museum.ini adalah fosil Lucy, yang merupakan fosil manusia tertua di dunia, diperkirakan berusia 3,2 juta tahun. Museum 4 lantai uni juga memuat banyak artefak prasejarah maupun sejarah modern Ethiopia. Jika dibandingkan dengan National Museum of Egypt di Cairo, museum Ethiopia ini relatif kecil dan sedikit koleksinya.

Kami juga dibawa berkeliling kawasan kota baru dan kota lama Addis Ababa. Terlihat pembangunan begitu masif di kota ini. Ratusan gedung terlihat sedang dibangun di berbagai penjuru kota. Mobil-mobil keluaran anyar, sampai mobil tua Lada yang mirip fiat tahun 70an, mengisi jalanan kota Addis Ababa yang padat.

Pemandangan gedung-gedung baru yang keren dan modern, terlihat kontras dengan banyak kawasan yang masih terlihat kumuh dan tidak terawat. Pasar tradisional dan pasar kaklima banyak ditemukan di pinggir jalan. Saya juga sempat keluyuran di kampung dan menemukan bioskop kampung yang unik.

Menjelang malam, kami dibawa ke hotel Taitu, yang merupakan hotel tertua di Addis Ababa, berdiri sejak tahun 1898. Disini kami menikmati Ethiopian coffee yang dibuat secara tradisional. Penasaran dengan kuliner lokal, kami minta rekomendasi kepada tour guide, makanan lokal apa yang enak. Kami direkomendasikan Injera Mixed Messob. Semacam dadar gulung yang di fermentasi, dengan berbagai lauk daging, paha kambing, buntut sapi, daging cincang, telur dan lain-lain. Ternyata porsinya besar sekali, untuk ber 4 pun masih terlalu banyak, kami sekalian mengajak peserta tour lainnya untuk mencoba kuliner.lokal ini

Jam 8 malam, kami kembali ke hotel, dan setelah berberes, kami diantar mobil hotel ke bandara jam 8.30 malam. Sampai di bandar, kami harus antri sekitar 40 menit untuk bisa masuk bandara, panjang sekali antrian security screeningnya. Lewat screening, antri lagi sekitar 20 menit untuk imigrasi. Suasana di dalam bandara Bole Addis Ababa sungguh hiruk pikuk, banyak sekali orang yang akan bepergian malam hari. Konyolnya, untuk menuju gate 1-16, kaminharus antri lagi ada security screening lagi, antrinya sekitar 45 menit. Sungguh melelahkan proses boarding di bandara Bole ini. Paling tidak, anda harus tiba di bandara 3 jam sebelum keberangkatan, itupun kalau sudah punya boarding pass. Jika harus antri check in lagi, tambahkan waktu 1 jam lagi agar cukup waktu.

Akhirnya jam 10.50 malam, kami sampai di gate 7, untuk naik pesawat Ethiopian yang akan membawa kami ke Johannesburg, Afrika Selatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s