Driving England By The Pound

Bulan Februari lalu saya berkunjung ke London untuk tugas kantor. Sebelum pulang ke Jakarta, ada satu hari kosong yang dapat dimanfaatkan untuk berkeliling di sekitar London. Setelah berdiskusi dengan rekan kerja, kami menyewa mobil di hari Jumat dan Sabtu, sekaligus menggunakan mobil sewaan tersebut sebagai transportasi ke bandara Heathrow.

Dengan pertimbangan jarak dan waktu tempuh, kami memutuskan berkunjung ke Birmingham, yang berjarak 200 km dari London dan dapat ditempuh dengan mobil selama 2 jam. Saat memesan mobil secara online, jenis mobil yang saya pilih adalah compact car, sejenis Ford Fiesta. namun saat mengambil mobil di Avis, ternyata mobilnya di upgrade menjadi SUV, Hyundai Tucson Crdi. Lumayan, beda harga sewanya sekitar 20 poundsterling per hari.

Berangkat dari London jam 11 pagi, mobil kami pacu ke Birmingham dan tiba di pusat kota sekitar jam 1 siang. Tujuan pertama kami canal area, foto-foto dan makan siang di sana. Restoran dengan menu italia menjadi pilihan makan siang kami. Kawasan kanal ini tertata rapi, meskipun bangunannya antik-antik, namun bersih dan terawat baik. Menyenangkan berjalan kaki di kawasan kanal ini.

Dari kawasan kanal, kami menuju the Diskery. toko piringan hitam paling asik di kota Birmingham. Saya dan rekan kerja sama-sama penggemar vinyl. Crate digging di toko sungguh mengasyikkan, banyak vinyl band-band favorit yang saya dapatkan di toko ini. Harga bervariasi mulai 1 poundsterling untuk vinyl obralan, sampai ratusan poundsterling untuk vinyl langka dengan kondisi mint. Salah satu single KISS yang masih lengkap dengan bonus masknya ditawarkan dengan harga 150 pound. 2 jam menggali tumpukan vinyl di toko ini, saya sukses mendapatkan sekitar 50 buah album rock. Dari The Diskery kami melanjutkan vinyl hunting ke toko Swordfish Records. Toko ini lebih banyak menjual vinyl kondisi baru, used vinyls nya tidak terlalu banyak, namun disini saya masih mendapatkan sekitar 20 album. Kisaran harga disini mulai dari 2 pound untuk vinyl obralan, sampai diatas 100 pound.

Kelar vinyl hunting, kami lanjut ke hotel Radisson Blu, tempat kami menginap satu malam. Setelah check in, saya mengontak rekan saya Indra yang tinggal di Birmingham, untuk memandu kami jalan keliling Birmingham. Jam 7 malam Indra sampai di hotel kami, lalu jalan kaki ke Bullring, kawasan belanja dan kuliner di tengah kota. Salah satu gedung mall di kawasan ini sangat unik, bentuknya bergelombang dan dindingnya dipenuhi kaca bulat. Di tengah plaza, ada patung banteng sebagai ikon Bullring. Kami makan malam di restoran Aljazair yang cukup terkenal di Birmingham, makanannya mirip-mirip makanan Maroko dan Turki.

Setelah makan malam, kami diajak Indra untuk tur yang tidak biasa. PErtama kami menuju kawasan Birmingham Walk of Fame. Disini terdapat bintang-bintang di trotoar, mirip Hollywood Walk of Fame, tapi pesohor yang diabadikan disini hanya mereka yang lahir dan besar di Birmingham. Musisi Tony Iommi dan Ozzy Osbourne dari Black Sabbath mendapatkan bintang di jalur pedestrian ini. Dari Birmingham Walk of Fame, Indra mengajak kami menengok rumah masa kecil Ozzy Osbourne. Rumah mungil ini sekarang dihuni warga asal Pakistan, pemilik rumah sempat melongok ke jendela saat kami foto-foto di depan rumah. Malam semakin dingin, kami lantas balik ke hotel untuk beristirahat.

Sabtu pagi, setelah sarapan di hotel. kami kembali ke arah London. Atas saran dari Indra, kami mampir di beberapa tempat. Cukup banyak tempat menarik yang bisa disinggahi dalam perjalananan Birmingham-London.. Warwick castle, Broadway Tower, Arlington Row – Bibury Village. Perhentian pertama kami di Warwick astle, yang dapat ditempuh sekitar 45 menit dari Birmingham. Dibandingkan dengan kastil lain di wilayah England dan Scotland, Warwick castle ini terlihat kecil dan tidak istimewa.

Berikutnya kami mampir ke Broadway Tower, yang dapat ditempuh sekitar 40 menit dari Warwick Castle. Broadway Tower in merupakan kastil milik pribadi, bukan milik kerajaan Inggris. Pemandangan di sekitar Broadway Tower cukup cantik, bukit-bukit hijau dengan pembangkit listrik tenaga angin di sekitarnya. Melihat pemandangan ini saya kok jadi ingat serial TV Teletubbies.. πŸ˜€

Selanjutnya kami menuju Bibury Village, waktu tempuh sekitar 45 menit dari Broadway Tower. Mengikuti petunjuk google maps, mobil kami dipandu masuk ke jalan sempit di Bibury Village. Rupanya jalan tersebut khusus untuk warga setempat, sayapun keluar lagi untuk mencari lokasi parkir. Dari semua tempat yang saya kunjungi pada hari itu, Bibury Village yang paling keren, sungguh desa yang cantik dan fotogenik. Deretan rumah-rumah batu dari jaman medieval ini bernama Arlington Row. Deretan rumah-rumah dari batu ini dibangun pada tahun 1300an. Menakjubkan melihat rumah-ruamh ini masih berdiri kokoh dan terawat. Rumah-rumah ini juga masih dihuni oleh warga. Ingin rasanya melongok bagian dalam rumah-rumah ini, sayangnya rumah-rumah ini adalah private property. Wisatawan hanya bisa melihat dari luar saja.

Untuk mengunjungi tempat-tempat ini, kami memerlukan waktu sekitar 6 jam. Berangkat jam 8.30 dari Birmingham, sampai di Heathrow jam 14.30 sekalian balikin mobil sewaan. Memang terasa agak terburu-buru dan kurang puas mengeksplorasi tempat-tempat wisata ini dalam waktu 6 jam. Bisa jadi ini pertanda saya harus kembali lagi kesana.. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s