Soul To Seoul


Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Seoul, Korea Selatan. Terakhir kali saya kesana adalah pada bulan Juli 1992, lebih dari seperempat abad yang lalu πŸ˜€ Sampai akhirnya pada Desember 2018 lalu, anak saya mengajak liburan. Karena waktu liburan akhir tahun cukup pendek, dengan waktu efektif hanya 3 hari di Korea Selatan, wisata kami difokuskan pada area Seoul dan sekitarnya. Dalam waktu sesingkat itu, apa saja yang bisa kita lihat? Berikut tempat menarik yang dapat kami kunjungi dalam waktu 3 hari:

Gyeongbokgung Palace

Mungkin inilah ikon wisata utama di Korea Selatan. Istana ini mulanya dibangun pada jaman dinasti Joseon pada abad 14. Kompleks istana ini menjadi istana utama keluarga kerajaan sampai akhir abad ke 16. Saat invasi kekaisaran Jepang pada tahun 1592, kompleks istana ini dihancurkan dan di tinggalkan selama hampir 300 tahun. Pada tahun 1867 komples istana ini kembali dibangun.

Saat ini di kompleks Gyeongbokgung Palace wisatawan bisa mengunjungi gerbang utama Gwanghwamun gate, gerbang ini selalu dijaga oleh penjaga yang mengenakan kostum kerajaan, lengkap dengan panji-panji kekaisaran. Setiap beberapa waktu, penjaga gerbang ini berkeliling pintu gerbang utama, menjadi atraksi yang kerap ditunggu wisatawan. Wisatawan diperbolehkan berfoto disamping penjaga gerbang utama ini.

Setelah gerbang utama, wisatawan perlu membeli tiket untuk masuk ke dalam kompleks utama. Harga tiket 3.000 won per orang. jika anda mengenakan pakaian tradisional Korea, hanbok, anda dapat masuk kompleks istana secara gratis. Di Seoul banyak terdapat penyewaan hanbok dengan tarif sewa mulai dari 5.000 won. bangunan utama di kompleks ini adalah Geunjeongjeon (throne hall), di tempat ini kaisar mengadakan acara-acara kekaisaran dan menerima tamu. Sedangkan tempat tinggal kaisar berada di gedung Gangnyeongjeon

Di kompleks Gyeongbokgung ini terdapat telaga yang di tengahnya terdapat bangunan Gyeonghoeru. Tempat ini adalah tempat jamuan tamu-tamu kekaisaran. Saat saya disana, sebagian telaga sudah membeku karena musim dingin. Sayang saat kami disana wisatawan tidak diperkenankan masuk ke gedung Gyeonghoeru ini.

National Folk Museum

Museum ini terletak bersebelahan dengan kompleks Gyeongbokgung palace. Untuk memasuki kompleks museum ini tidak dipungut biaya. Gedung yang dibangun pada tahun 1945 ini memuat koleksi artefak yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di Korea sejak jaman prasejarah sampai kekaisaran Joseon. Selain koleksi yang tersimpan dalam gedung, halaman luar museum ini juga menampilkan rumah-rumah adat, patung-patung serta berbagai instalasi seni.

Bukchon Hanok Village

Ini adalah satu kawasan pemukiman di atas bukit, sekitar 2 km dari kompleks Gyeongbokgung palace. Untuk menuju kampung ini, wisatawan bisa masuk dari beberapa pintu masuk kawasan, ada jalur pejalan kaki dengan mendaki ratusan anak tangga, bisa juga melalui jalan aspal yang berkelok-kelok. Keunikan dari kampung ini adalah rumah-rumah yang bentuknya masih tradisional, dengan atap dan dinding yang khas dan unik.

Kawasan ini baru popular sekitar tahun 2010 setelah diliput oleh stasiun televisi lokal. Sebelumnya, hanya sekitar 30 ribu pengunjung ke kawasan ini setiap tahunnya, setelah populer, kini kawasan ini dikunjungi lebih dari 1 juta pengunjung setiap tahun. Ekses negatif dari kunjungan wisatawan adalah gangguan suara dan privacy bagi warga setempat. Di beberapa tempat warga memasang spanduk protes agar wisatawan tidak berisik, bahkan ada yang menulis turis tidak diinginkan disini. Jika anda berkunjung kesini, jagalah privacy warga setempat.

Changdeokgung Palace

Kompleks istana ini dikenal juga dengan nama East Palace, karena terletak di timur istana Gyeongbokgung. Istana Changdeokgung merupakan salah satu dari 5 istana utama dinasti Joseon. Kompleks istana Changdeokgung merupakan tempat tinggal para pangeran, dan pernah menjadi istana utama pada masa perebutan kekuasaan antara kaisar Jeongjong dan pangeran Jeong-An pada tahun 1400an.

Landmark utama di kompleks ini adalah gerbang Donhwamun yang kokoh. Di dalam kompleks terdapat bangunan utama Injeongjeong, yang merupakan tempat kegiatan kekaisaran, termasuk penobatan kaisar. Sejak tahun 1997, kompleks istana ini menjadi salah satu situs world heritage UNESCO. Sama seperti di Gyeongbokgung palace, untuk memasuki istana ini tiketnya 3.000 won, atau gratis jika anda mengenakan pakaian tradisional hanbok.

Unhyeongung Palace

Kompleks istana ini relatif kecil jika dibandingkan Gyeongbokgung atau Changdeokgung. Dulunya, kompleks ini merupakan tempat tinggal pangeran kekaisaran, antara lain ayah dari kaisar Gojong. Kaisar Gojong tinggal di istana ini sampai dia kemudian dinobatkan menjadi kaisar dinasti Joseon pada abad 19.

Kompleks istana ini terletak relatif di tengah kota, tak jauh dari kawasan pasar malam Myeong Dong. Untuk memasuki kompleks istana ini tidak dipungut bayaran. Bangunan-bangunan di kompleks istana ini terlihat jauh lebih sederhana jika dibandingkan Gyeongbokgung dan Changdeokgung.

Insa-dong

Kawasan insadong merupakan kawasan pemukiman dan kawasan belanja, dengan banyak lorong dan toko-toko yang menjual barang antik dan produk keramik. bagi penggemar barang antik dan keramik, jangan lewatkan mengeksplorasi kawasan ini. Berhubung saya tidak menggemari barang antik, saya hanya sebentar saja berkunjung ke kawasan ini.

Cheonggyechon-Ro

Ini adalah kawasan rekreasi terbuka di tengah kota Seoul. Berada di antara kawasan perkantoran dan pertokoan, atraksi utama di kawasan ini adalah kanal Cheonggyechon, yang mengalir ke sungai Han. Kanal ini dimodernisasi pada tahun 2005, dengan pijakan-pijakan untuk menyebrangi sisi kanal. Berbagai instalasi lampu dan lampion di sepanjang kanal membuat kawasan ini tampak cantik di malam hari. Di sepanjang kiri-kanan kanal banyak terdapat restoran dan kafe, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat favorit untuk hangout.

Myeong Dong

Dari beberapa kawasan pasar malam di Seoul, bisa jadi kawasan Myeong Dong adalah kawasan yang paling favorit bagi wisatawan. Berada di kawasan belanja, gedung-gedung di kawasan Myeong Dong umumnya merupakan toko-toko yang menjual branded goods. lorong jalan antara toko-toko ini dimalam hari tertutup untuk kendaraan, diisi oleh lapak-lapak yang menjual makanan, souvenir, garmen dan elektronik.

Saat saya berkunjung ke Myeong Dong pada akhir Desember 2019, suhu udara sekitar minus 4 derajat celcius, namun pasar malam terbuka ini tetap ramai pengunjung, membuat udara dingin tidak terlalu terasa. Meskipun Korea selatan termasuk negara maju yang cukup menghargai hak intelektual, di pasar malam Myeong Dong ini cukup banyak lapak-lapak yang menjual produk KW, terutama produk fashion.

Menarik mengamati pengunjung di kawasan Myeong Dong ini. Sebagian besar pengunjung adalah anak muda Korea, yang wajah dan dandanannya mirip-mirip artis K-Pop atau artis Drakor, banyak remaja putri yang tipe wajahnya sejenis, mungkin dokter bedah plastiknya sama ya, bisa terlihat ciri khasnya, seperti juga saya bisa melihat ciri khas pasien haji Jeje di Indonesia.. hehehehe.. πŸ˜€

Untuk muslim, kawasan Myeong Dong ini juga salah satu tempat yang muslim friendly dalam hal makanan. Cukup banyak penjual makanan yang memasang logo halal di lapaknya. Ada yang sertifikasi halalnya dari Korean muslim council, adapula yang memajang serifikat halal dari Malaysia.

Nami Island

Nami island atau Namiseom merupakan pulau kecil di tengah sungai Han, di propinsi Gangwon, sekitar 1 jam dari Seoul. Untuk menuju Nami island, bisa naik kereta dari stasiun Yongsan menuju Gapyeoung, dengan tarif 5.200 won. Dari stasiun Gapyeoung lanjut naik bis wisata bertarif 6.000 won, yang dapat digunakan berkeliling lokasi wisata termasuk Nami island dan Petite France.

Nami island menjadi obyek wisata populer sejak tahun 2002, sejak pulau ini dijadikan lokasi shooting drama Korea, Winter Sonata. Untuk memasuki Nami island, pengunjung membeli tiket seharga 13.000 won. Satu keunikan Nami island, sejak tahun 2006, Nami Island mendeklarasikan diri sebagai Microstate, atau negara mini. Tiket masuk Nami island disebut sebagai visa, untuk memasuki pelabuhan ferry ke Nami island, pengunjung melewati pos pemeriksaan ‘Visa’ di counter ‘imigrasi’.

Naik ferry menuju Nami island hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Setibanya di Nami island, pengunjung dapat mengambil peta Nami island di information center, sebagai bekal untuk mengeksplorasi pulau seluas 430.000 meter persegi ini. Pulau berbentuk setengah bulat ini memiliki diameter sepanjang 4 kilometer. Salah satu jalan setapak utama di pulau ini diapit deretan pohon pinus di kiri-kanan jalan, merupakan lokasi favorit pengunjung untuk berfoto ala Winter Sonata.

Saat saya disana, meski suhu dibawah 0 derajat, salju belum ada. Sebagian kolam taman yang ada di pulau ini sudah membeku. Juga ada kawasan bermain anak-anak untuk bermain seluncur es dengan ban (tubing) atau sled. Menjelang tahun baru 2019, pahatan es dengan amgka 2019 menjadi salah satu spot foto favorit pengunjung. Musti antri untuk foto disini.

Selain naik ferry, Nami island juga bisa dikunjungi dengan flying fox (zip line). Di seberang Nami island ada menara untuk naik zipline ini. Naik zipline tarifnya 38.000 won, dan hanya perlu waktu 3 menit untuk mencapai Nami island. Harga tiket zipline ini sudah termasuk tiket masuk Nami island, dan pulangnya naik ferry.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s