Kerennya Masjid-Masjid di Brunei Darussalam

Pernah saya baca, Brunei Darussalam banyak memiliki masjid yang indah sepertinya ungkapan tersebut merupakan tindakan nyata dari slogan negara Addaa‘imuna al-mushinuna bil-huda (Senantiasa membuat kebajikan dengan petunjuk Allah). Kali ini kesanalah saya pergi untuk membuktikan ciutan keindahan masjid di Brunei.

Penerbangan maskapai Royal Brunei dari Jakarta di pertengahan bulan Mei 2018, menuju Bandar Seri Begawan nama kota yang sering juga disingkat BSB sangat mulus. Menginjakan kaki Bandar Udara Antarabangsa Brunei tepat sesuai jadual, proses pemeriksaan imigrasi berjalan cepat dan lancar.

Bandara tidak terlalu besar bahkan mungkin hanya sebesar Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, sebelah kanan pintu keluar bandara saya sudah disuguhkan pemandangan masjid keren, Brunei International Airport Mosque namanya. Masjid berkubah biru, ruang shalat masjid cukup menampung 300 jamaah dilengkapi tempat berwudhu yang tak kalah elok.

Islam datang ke Brunei Darussalam sejak abad ke XIV, tahun 1984 Sultan Hassanal Bolkiah saat perayaan kemerdekaan berpidato, Brunei selamanya menjadi negara berdaulat, demokratis, melayu independen, Muslim monarki dan menganut Islam Sunni. Pada tahun 1990 dilakukan peninjauan undang-undang agar dapat sejalan dengan hukum Islam. Sebagai negara kaya yang masuk dalam 5 besar negara terkaya di dunia dengan perdapatan rata rata penduduk US$ 76,740 atau setara Rp.1.04 miliar (IMF Oktober 2017) Brunei sangat memperhatikan pembangunan infrastruktur dan fasilitasnya, salah satunya fasilitas tempat ibadah masjid . Brunei terkenal dengan keindahan arsitektur masjid dan interiornya, ada lebih dari 200 masjid di negara ini. Berikut 3 masjid keren yang sempat dikunjungi.

Pertama, masjid Omar Ali Saifuddin.
Masjid ini salah satu landmark Brunei, merupakan bagian dari masjid-masjid terindah di dunia. Untuk mencapai bangunan yang berlokasi di pusat kota Bandar Seri Begawan cukup berjalan kaki beberapa menit saja dari tempat saya menginap (city backpackers hostel). Nama masjid di ambil dari Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid dibangun untuk memperingati 1.400 tahun Nuzul Al-Quran selesai di tahun 1958 merupakan hasil rancangan arsitek Italia Cavaliere Rudolfo Nolli

Bangunan masjid berada di atas laguna buatan atau kolam di tepi Sungai Brunei di Kampong Ayer pada sisi kiri terapung replika perahu mahligai kencana kerajaan. Kubah yang besar dan kuning mengkilat berlapis emas murni berpadu dengan menara yang tinggi semakin membuat decak kekaguman yang melihatnya. Sore hingga malam hari adalah waktu yang tepat untuk berfoto, dengan latar kerlap kerlip lampu taman ditambah sorotan lampu yang menyorot ke replika kapal dan masjid.

Kedua, masjid Jame’ ‘Asr Hassanil Bolkiah. Masjid ini adalah salah satu dari dua masjid nasional yang lain masjid Omar Ali Saifuddin, berlokasi di kampong Kiarong dibuka untuk umum sejak tahun 1994, berjarak 4 kilometer dari Bandar Seri Begawan merupakan wakaf dari Sultan Hassanal Bolkiah. Masjid dibangun untuk merayakan kepemimpinan Sultan Hassanal Bolkiah yang memasuki masa kepemimpinan perak, 25 tahun.

Luas keseluruhan tanah masjid 20 hektar dengan 29 kubah emas dan menara setinggi 58 meter dapat menampung 5.000 jamaah, angka 29 mengandung arti Sultan Hassanal Bolkiah adalah Sultan Brunei yang ke 29. Ruang utama masjid berornamen kaligrafi khas Arab yang mempesona sedang dalam ruang shalat terdapat lampu gantung kristal besar berlapis emas berasal dari Austria.

Ketiga, masjid Ash Shaliheen
Dari sekian banyak masjid indah di Brunei, masjid yang satu ini sulit untuk dilewatkan. Berlokasi di kompleks Prime Minister Office atau kantor perdana menteri jalan Barakas kampong Melabau. Arsitek berkebangsaan Mesir Abdel Wahed El-Wakil merancang masjid dengan gaya Maroko berkubah Turki, selesai dibangun tahun 2012 dapat menampung 1.000 jamaah.

Memasuki lingkungan masjid, jamaah disambut lampu gantung kuning bergaya Maroko dan taman terbuka dihiasi air mancur marmer di jantung masjid. Dengan naungan atap bening yang dapat dibuka tutup secara otomatis memungkinkan matahari bebas masuk ke taman membawa sifat alami dalam masjid siang atau malam hari. Melangkah ruang shalat lantai ditutup karpet berwarna merah anggur selaras dengan lengkungan tiang putih-merah. Suasana masjid nyaman dan santai ketika sore hari kami berada disana ramai santri belajar baca kitab Al Quran .

Selain wisata masjid satu lagi obyek wisata yang boleh dikunjungi yaitu Kampong Ayer. Kampong Ayer atau Kampung Air dalam bahasa Indonesia ialah sebuah kawasan pemukiman penduduk yang berdiri di atas Sungai Brunei. Dari kampong Ayer dapat terlihat Istana Nurul Iman, istana kediaman resmi Sultan Hassanal Bolkiah merangkap sebagai Istana Negara. Tak jauh dari Istana Nurul Iman ada satu bukit batu besar di tengah Sungai Brunei yang disebut Jong Batu ia menyerupai kapal yang tenggelam dengan lunas mencuat ke atas air, menurut legenda kisah Jong Batu persis dengan legenda Malin Kundang di Sumatra Barat yaitu perwujudan anak durhaka yang dikutuk oleh ibunya.

Kampong Ayer selain berisi pemukiman tradisional juga terdapat kompleks perumahan modern. Dari literatur Kampong Ayer dijuluki sebagai Venesia dari Timur (Venice of the East), julukan tersebut diberikan oleh Antonio Pigafetta, pelaut Italia yang ikut bersama Ferdinand Magellan mengunjungi Brunei pada tahun 1521.

Naskah dan foto oleh Lutfi Sriyono (l.sriyono@gmail.com)

One Comment Add yours

  1. mysukmana berkata:

    Bawaannya jd pengen sholat trs..5 waktu n sunnah2nya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s