Umrah Gratis ๐Ÿ˜Š

Pada bulan Januari 2018 saya dan istri berkesempatan berkunjung ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Umrah. Bagi saya, ini adalah kunjungan kedua ke tanah suci setelah ibadah haji tahun 2009. Umrah gratis..? Gimana ceritanya..? Nanti saya kasih tau…๐Ÿ˜‰

Perjalanan dari Jakarta menuju Jeddah dengan menumpang maskapai Saudi Airlines. Pesawat kami berangkat pada tanggal 16 Januari jam 8 malam. Setelah menempuh penerbangan selama 9 jam lebih, kami tiba di bandara King Abdul Azis sekitar jam 2 dini hari, tanggal 17 Januari. Proses imigrasi di terminal haji ini masih tidak banyak berubah, lama dan sering ditinggal petugas imigrasi. Sekitar 1 jam kami mengantri. Setelah proses bagasi dan loading ke bis, kami berangkat sekitar jam 4 pagi menuju kota Madinah. Sekitar jam 5.30, kami berhenti di rest area untuk shalat subuh. Jam 7 pagi bus kembali berhenti di rest area, rombongan kami sarapan ala Arab, dengan menu roti pita dan kari kambing. Kami baru jalan lagi sekitar jam 9 pagi, menunggu supir bis yang sejenak istirahat tidur.

Kami tiba di kota Madinah sekitar jam 12 siang dan langsung menuju Masjid Quba untuk shalat Dzuhur. Masjid Quba ini adalah masjid pertama yang dibangun oleh nabi Muhammad SAW setelah beliau hijrah ke kota Madinah. Diriwayatkan dalam hadits shahih, shalat di masjid ini pahalanya sama dengan pahala melaksanakan Umrah.

Setelah shalat sunnah dan shalat Dzuhur di masjid Quba, kami menuju hotel Mubarak Silver dan sampai disana sekitar jam 2 siang, langsung makan siang dan kemudian bersiap untuk shalat Ashar di Masjid Nabawi. Masjid nabawi memiliki ciri khas berupa payung-payung kanopi di halaman luarnya, melindungi jamaah yang shalat diluar dari terik matahari. Masjid Nabawi ini memiliki keistimewaan, shalat di masjid ini ganjarannya 1.000 kali lebih besar dari shalat di masjid lain, selain Masjidil Haram.

Setelah shalat Ashar, kami mengunjungi museum Al Quran yang terletak di sisi utara masjid Nabawi. Setelah shalat isya, kami diajak muthawif untuk berkunjung ke Raudhah, bagian dari masjid Nabawi yang dulunya merupakan halaman antara rumah nabi Muhammad dan mimbar masjid. Diriwayatkan, Raudhah merupakan salah satu tempat dimana doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan. Karenanya, banyak umat yang ingin shalat dan berdoa di taman surga ini.

Berbeda dengan saat saya haji tahun 2009, saat itu masuk Raudhah sangat mudah, ramai tapi tidak perlu antri. Kini, untuk masuk ke Raudhah perlu antri sekitar 2 jam. Setelah masuk Raudhah pengunjung hanya diberi waktu sekitar 15 menit untuk shalat sunnah dan berdoa. Keluar dari Raudhah, kita akan melewati makam nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Disini askar bersikap tegas mencegah peziarah melakukan hal-hal yang tidak ada tuntunannya dalam agama.

Tanggal 18 Januari, Kamis pagi, kami berwisata ke beberapa tempat bersejarah di seputar Madinah, antara lain Masjid Quba (lagi), kebun kurma, jabal Uhud dan melewati masjid Qiblatain, masjid yang (pernah) memiliki dua kiblat, dahulu, kiblat shalat menghadap ke arah Masjidil Aqsa di Palestina. Setelah turun wahyu Allah SWT, kiblat shalat mengarah ke Ka’bah. Setelah wisata dalam kota, kami kembali ke hotel untuk makan siang dan kemudian memperbanyak ibadah di masjid Nabawi.

Jumat 19 Januari, setelah shalat subuh saya menyempatkan berziarah ke pemakaman Baqi yang terletak di samping masjid Nabawi. Di kompleks pemakaman ini terdapat makam istri Rasulullah, Siti Aisyah, dan banyak makam kerabat serta sahabat nabi yang dimakamkan disini. Semua makam di kompleks ini tanpa nama, hanya ada batu penanda makam saja. Kompleks pemakaman ini masih digunakan untuk pemakaman warga Madinah sampai sekarang. Saat saya berziarah, ada sekitar 3-4 lokasi yang sedang ada pemakaman.

Menjelang siang, saya bersalin mengenakan pakaian ihram, karena setelah shalat Jumat rombongan kami akan berangkat menuju Makkah untuk Umrah. Saya melaksanakan shalat Jumat di masjid Nabawi, sekaligus shalat jamak taqdim Ashar. Sekitar jam 2.30 siang, kami meninggalkan Madinah, menuju Miqat di Bir Ali, yang merupakan batas bagi jamaah haji dan umrah bagi jamaah yang datang dari arah Madinah, untuk mengenakan ihram dan berniat untuk haji atau umrah.

Untuk melaksanakan haji atau umrah, jamaah pria wajib mengenakan ihram, pakaian yang terdiri dari 2 lembar kain putih yang tidak boleh berjahit, tidak boleh mengenakan pakaian dalam dan penutup kepala. Selama berihram tidak dibolehkan memakai wewangian, memotong rambut atau bulu badan, menggunting kuku atau mencabut bagian kulit, tidak boleh bertengkar, atau berbicara yang tidak pantas. Jika hal ini dilanggar, maka jamaah akan terkena dam (denda).

Sampai di Bir Ali, kami berwudhu dan melakukan shalat sunnah ihram, kemudian rombongan berkumpul untuk bersama-sama berniat umrah.. Labbaik Allahumma Umratan.. kami lalu melanjutkan perjalanan ke kota Makkah dengan bis. Sekitar jam 10 malam kami tiba di hotel Al Rayan Grand, yang jaraknya sekitar 1 km dari Masjidil Haram.

Menjelang jam 12 malam, kami berjalan kaki menuju Masjidil Haram untuk menjalankan ibadah Umrah yang pertama. Dalam paket umrah ini jamaah diberikan kesempatan untuk melakukan umrah dua kali. Berbeda dengan saat saya haji tahun 2009, saat ini hanya jamaah yang mengenakan ihram yang diizinkan masuk ke area thawaf. Yang tidak berihram hanya boleh masuk di sisi luar atau lantai 2 dan 3 Masjidil Haram. Pengaturan ini menurut saya sangat efektif mengurangi kepadatan jamaah di areal thawaf, apalagi saat ini di kawasan dalam Masjidil Haram sedang banyak pekerjaan renovasi.

Setelah masuk Masjidil Haram, muthawif (pembimbing) kami memimpin rombongan melakukan thawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dimulai dari rukun (sudut) Hajar Aswad, yang juga ditandai dengan tanda lampu berwarna hijau. Posisi Ka’bah saat melakukan thawaf ada di sebelah kiri kita. Bagi jamaah pria, saat thawaf ini kain ihram bagian atas harus terbuka di pundak kanan. Memulai thawah dan setiap melewati Hajar Aswad jamaah membaca Bismillahi Allahuakbar, dan disunahkan untuk melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad. Jika memungkinkan, disunnahkan untuk mencium Hajar Aswad, namun jika terlalu ramai dan dikhawatirkan bisa menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain karena berdesakan, cukup melambaikan tangan.

Thawaf mengandung makna bahwa gerak hidup manusia, bukanlah sekedar untuk hidup itu sendiri, melainkan segala gerak hidup itu terjadi dan menuju kepada Allah SWT. Allah SWT sebagai pusat pusaran gerak manusia, sebagai pusat orbit gerakan kehidupan manusia. Tidak ada bacaan wajib selama thawaf, namun selama thawaf ini dianjurkan membaca doa-doa yang baik untuk diri kita, orang tua, keluarga, dan umat islam.

Selama thawaf harus menjaga wudhu dan kesucian pakaian, apabila ditengah thawaf wudhunya batal, mayoritas ulama berpendapat harus berwudhu lagi dan mengulang thawaf dari awal, sebagian ulama lain berpendapat boleh meneruskan thawaf dari saat wudhu batal. Sekitar setengah jam kami menyelesaikan thawaf, lalu menuju Shafa, yang terletak di sisi Masjidil Haram, untuk memulai Sa’i.

Sa’i merupakan salah satu rukun haji dan Umrah yang wajib dilaksanakan. Menurut hukum islam, saโ€™i bermakna Berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Sedangkan secara simbolis Sa’i bermakna bekerja, berusaha, berjalan, berlari, mencari rezeki yang diinspirasi dari perjuangan istri nabi Ibrahim, Siti Hajar, yang berjuang mencari air minum untuk anaknya, Ismail, dengan berlari bolak balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah.

Kami memulai Sa’i sekitar jam 1 dini hari, diantara dua tanda lampu hijau disarankan untuk berlari-lari kecil. Jarak antara Shawa dan Marwah sekitar 395 meter, sehingga untuk menyelesaikan tujuh kali perjalanan Shafa-Marwah akan menempuh jarak total sekitar 3 km, umumnya dapat diselesaikan dalam waktu 1,5-2 jam. Sekitar jam 3 kurang kami telah menyelesaikan Sa’i, yang diakhiri dengan Tahallul.

Tahallul berarti โ€˜menjadi bolehโ€™ atau โ€˜dihalalkanโ€™. Dengan demikian Tahallul berarti diperbolehkan, halal, keluar atau membebaskan diri dari seluruh larangan atau pantangan selama Ihram. Prakteknya adalah dengan mencukur sebagian atau seluruh rambut di kepala atau menggunting sekurang-kurangnya tiga helai rambut, khususnya bagi wanita. Tahallul merupakan salah satu rukun haji dan Umrah. Setelah Tahallul kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Sabtu dan Minggu 19 dan 20 Januari kami memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Diriwayatkan dalam hadits shahih, shalat di Masjidil Haram pahalanya 100.000 kali dari shalat di tempat lain, karenanya jamaah berlomba-lomba melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah di Masjidil Haram.

Senin 22 Januari, kami melakukan wisata di sekitar kota Makkah, mengunjungi Jabbal Tsur, Jabbal Rahmah, dan melewati Arafah, Musdalifah dan Mina. Di Jabbal Rahmah, yang diriwayatkan merupakan tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa, banyak jamaah asal Indonesia yang menuliskan nama, meninggalkan foto, berdoa minta jodoh bahkan ada yang shalat menghadap tugu Jabbal Rahmah, entah shalat apa. Padahal di kawasan Jabbal Rahmah ini banyak papan peringatan dan ceramah singkat dalam bahasa Indonesia (yang terus menerus diulang), yang tegas menyampaikan bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah dan menjurus pada syirik. Sayang sekali jika ibadah haji dan umrah berkurang maknanya karena melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan bahkan dilarang agama. Entah ajaran siapa yang diamalkan sebagian jamaah ini. Astaghfirullah..

Selesai city tour seputar Makkah, kami menuju Tan’im atau masjid Siti Aisyah. Ini adalah Miqat bagi jamaah umrah dari kota Makkah. Disini kami memakai ihram, berwudhu, shalat sunnah ihram.dan berniat untuk melakukan umrah. Kemudian kami kembali ke hotel di Makkah untuk makan siang dan shalat Dzuhur. Jam 1 siang kami tiba kembali di Masjidil Haram untuk melaksanakan umrah yang kedua. Ibadah umrah dapat kami selesaikan sekitar jam 15.30, menjelang shalat Ashar. Setelah shalat Ashar di Masjidil Haram, kami kembali ke hotel. Setelah mandi sore, sayapun menyempurnakan Tahallul dengan mencukur gundul rambut, di barbershop dekat hotel, ongkosnya 10 riyal ๐Ÿ˜Š

Tanggal 23 Januari, Selasa dini hari sekitar jam 3, kami menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf wada (perpisahan). Agar dapat masuk ke area thawaf, kami mengenakan ihram lagi, tapi karena ini bukan dalam rangka umrah, maka dibolehkan mengenakan pakaian dalam. Tidak terkena larangan ihram dalam rangka umrah. Selesai thawaf wada, saya sempat masuk hijr ismail dan shalat sunnah disana. Setelah menunggu sejenak, kami shalat subuh di Masjidil Haram dan kemudian kembali ke hotel untuk berkemas.

Jam 3 siang kami meninggalkan Makkah menuju Jeddah. Di perjalanan kami mampir untuk berwisata di musium Alamoudi di tepian kota Makkah. Musium ini menggambarkan kehidupan warga Arab Saudi di tahun 1900an. Dari musium kami melanjutkan perjalanan ke Jeddah. Saat maghrib kita shalat di Masjid Qisas, Jeddah. Ini adalah masjid dimana hukuman Qisas dilaksanakan setelah shalat Jumat.

Setelah shalat, kami di drop di kawasan belanja, Corniche Balad. Ini adalah kawasan belanja oleh-oleh favorit bagi warga Indonesia. Banyak toko di kawasan ini yang pakai nama ‘murah’, pegawainya pun pada fasih bahasa Indonesia. Di kawasan ini juga ada warung bakso yang cukup terkenal, Mang Oedin, juga ada restoran Wong Solo. Disini saya dan istri menyempatkan bertemu dengan kakak kelas kami, Erry, yang bekerja di Jeddah. Kami di kawasan ini sampai jam 9 malam. Selanjutnya kami menuju bandara King Abdul Azis Jeddah, mengakhiri perjalanan Umrah di tanah suci.

Oh ya, kalau ada yang bertanya, judul artikel kok umroh gratis? Ya, saya dan istri memang ikut umrah ini tanpa memgeluarkan biaya sendiri, karena istri saya mendapatkan hadiah penghargaan dari tempatnya bekerja, Universitas Trisakti, umrah bersama pasangan, dibayarin penuh.. inilah rahasianya kami bisa Umrah gratis.. Alhamdulillah… ๐Ÿ˜Š

3 Comments Add yours

  1. asambackpacker01 berkata:

    Barbershop di Mekkah cukup murah ya, 10 Riyal-35 ribu. Di Bandung di daerah perumahan saja 45 ribu. Di mall 60 ribu.

    Suka

    1. Sepertinya tukang cukurnya juga menjadikan ini sebagai ladang amal mereka.. yang cukur botak di cukurnya dengan pisau cukur lipat sekali pakai.. abis cukur kita, langsung dibuang.. harga pisau cukur lipatnya aja udah lumayan pastinya..

      Suka

      1. asambackpacker01 berkata:

        Bisa jadi pak. Mungkin juga karena pengunjung nya ramai/selalu ada dan ga mahal sewa tempatnya.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s