Keliling Eropa Naik Mobil – 1

Rencana Awal

Rencana tour ke Eropa 2014 ini bermula dari permintaan anak saya yang bungsu, Rizki, sekitar pertengahan tahun 2013. Dia belum pernah ke Eropa, sementara saya, istri dan anak yang sulung, Vira, pernah tinggal di Glasgow, Inggris antara 1996-1997 saat kami menempuh pendidikan di University of Strathclyde. Baiklah nak, papa nabung dulu yaa.. (dan ngurus naikin limit kartu kredit) 😀

Saat saya tanya Rizki, Eropa nya mau kemana, dia menyebut tujuan-tujuan wisata populer seperti Paris, London, Amsterdam. Kebetulan tujuan tersebut sudah beberapa kali saya kunjungi dalam beberapa kesempatan berbeda, sehingga bagi saya tidak terlalu prioritas lagi untuk kesana, namun karena si bungsu belum pernah, mau tidak mau harus di akomodasi dalam rencana kali ini. Saya sendiri sebetulnya lebih ingin mengunjungi kota-kota di Eropa timur, yang belum pernah saya kunjungi seperti Berlin, Prague, Budapest, Bratislava, Vienna, Ljublana.

Awal tahun 2014, kami mulai menyusun rencana, sedapat mungkin perjalanan dilakukan saat anak liburan agar tidak mengganggu sekolah. Masalah pertama muncul, karena si sulung sudah kuliah, libur semester baru akhir Juli sampai awal September, sedangkan si bungsu yang masih di SMP, libur kenaikan kelasnya dari pertengahan Juni sampai awal Juli. Wah, nggak match nih.. Setelah cek ke kampus dan sekolah, akhirnya ketemu satu timeline dimana keduanya libur bersamaan, yaitu sekitar seminggu sebelum dan setelah lebaran.

Saya mulai mencari-cari info paket tour ke Eropa, namun dari berbagai paket tour yang ditawarkan agen perjalan, tidak ada satupun paket yang mengunjungi semua tujuan yang memenuhi keinginan anak saya dan keinginan saya yang berbeda tersebut. Selain itu, masalah kedua juga timbul, periode libur lebaran adalah periode High-Season bagi para tour operator di Indonesia, sehingga harga-harga paket tour pada periode ini jauh lebih tinggi dari periode lainnya. Beda harganya bisa sampai dua kali lipat, sementara budget saya terbatas. Berdasarkan survei yang saya lakukan dari iklan koran maupun kunjungan ke beberapa travel fair, paket-paket tour 10-15 hari yang biasanya berkisar USD 2.000-2.500 per orang, bisa mencapai lebih dari USD 4.000 per orang, ini belum termasuk airport tax, fuel surcharge, biaya Visa, tips dan optional tour. Sehingga perkiraan biaya all-in jika ikut tour bisa mencapai lebih dari USD 5.000 per orang. Itu untuk yang 14 harian loh, gimana yang 21 hari..? Belum buat belanja-belanja dan oleh-oleh.. Beraat bo’.. 😀

Selain itu, dari pengalaman ikut tour dalam beberapa kesempatan sebelumnya, hampir semua tour terasa di buru-buru, nggak puas rasanya. Pagi jam 5.30 sudah morning call, breakfast mulai jam 6.30, lalu jam 8 pagi sudah mulai jalan. Di satu tempat tujuan pun biasanya waktu kunjungan sangat dibatasi, ada yang hanya 15 menit hanya untuk foto, umumnya maksimum 1 jam di satu tempat. Supir bis wisata juga dibatasi jam kerjanya hanya sampai jam 8 malam, sehingga jam 8 malam sudah harus masuk hotel untuk istirahat. Dari sisi akomodasi, umumnya tour operator menggunakan hotel-hotel bintang 3 dan 4, tapi lokasinya jauh dari pusat kota, sehingga kalau sudah masuk hotel susah untuk jalan-jalan malam mengeksplorasi kota, karena lokasi nya yang jauh tadi. Belum lagi soal makan, hampr selalu dibawa ke Chinese restaurant yang menunya nyaris konsisten sepanjang tour, sampe eneg liat telor dadar dan ayam goreng kalo lagi ikut tour.. 😀

Tapi enaknya ikut tour juga banyak sih.. dapet tempat wisata relatif banyak, nggak capek, tinggal duduk di bis.. dan kalo masih ngantuk bisa terusin tidur di bis selama menuju tempat wisata berikut. Ada plus-minus nya lah.

Berburu Tiket Murah

Dengan kendala-kendala tersebut, saya mulai memikirkan untuk self-arranged tour, toh saya sudah pernah beberapa kali ke Eropa dan cukup familiar dengan alternatif transportasi dan akomodasi disana. Akhir Maret 2014 saya mulai hunting tiket pesawat. Dari kunjungan ke beberapa agen perjalanan dan website airlines, untuk keberangkatan sekitar lebaran, saat itu rata2 harga tiket sekitar USD 1.400-1.600 per orang untuk tujuan Amsterdam/Paris/Frankfurt, karena memang ini periode High-Season. Masih cukup mahal dibandingkan periode normal yang biasanya berkisar di angka USD 900-USD 1.100.

Saya terus rajin hunting di website-website perbandingan harga tiket seperti farecompare.com, bookingbuddy.com, sampai akhirnya di awal April, saya menemukan flight deal yang cukup menarik dari website expedia.com, Jakarta-Amsterdam PP seharga USD 1.065 per orang untuk keberangkatan 19 Juli dan kepulangan 9 Agustus, dengan Emirates Airline. Harga yang sangat menarik di periode high season. Namun saya masih ragu untuk book online, sehingga saya print offer tersebut dan saya bawa ke salah satu agen perjalanan di Pacific Place, berharap mendapat harga yang mirip.. 😀

Agen perjalanan tersebut kemudian mengecek tanggal yang saya inginkan, namun harga terbaik yang bisa diberikan sebesar USD 1.475. Saya coba cek lagi ke agen perjalanan sebelahnya, ternyata harga tiket Emirates yang mereka dapatkan juga sama, bahkan mereka menyarankan, kalau saya bisa dapat harga segitu, buru-buru aja dibeli karena biasanya offer seperti itu tidak lama. Ini masalah ketiga, kami berempat belum memiliki visa Schengen dan Inggris, kalau beli tiket online dengan special offer seperti itu, biasanya non-refundable. Kalo aplikasi visa ditolak gimana.. manyun kan..? 😀 Sementara kalo book tiket lewat travel agent, jika aplikasi visa ditolak tiket pesawat umumnya dapat di refund.

Saya pelototin lagi baris demi baris terms and conditions dari offer di expedia.com, meskipun di website expedia.com tertulis bahwa offer dengan harga tersebut bersifat non-refundable, saat saya klik link ke Emirates Airline nya disebutkan bahwa tiket bersifat refundable (syarat dan ketentuan berlaku). Ya udahlah.. Bismillah aja, saya beli 4 tiket Emirates Jakarta-Amsterdam PP pake kartu kredit.. Eh beneran, dapet harganya USD 1.065 per pax all-in, termasuk fuel surcharge dan airport tax. Lumayan banget kan, untuk berempat hematnya lebih dari USD 1.600 dibandingkan jika beli di agen perjalanan lokal. Setelah dapet email konfirmasi pembelian tiket dari Emirates, buru-buru saya telepon bank penerbit kartu kredit, minta dikonversi transaksinya jadi cicilan 12 bulan.. heheheh..

10606495_10152588271073953_8446856750867496580_n

Booking Hotel

Dengan tiket pesawat 19 Juli-10 Agustus, saya punya waktu 21 hari di Eropa, berarti musti book hotel untuk 20 malam. Untuk reservasi hotel ini, saya menggunakan booking.com, dengan memilih hotel-hotel yang dapat di book dengan free cancellation, jadi kalo kita batalin, ya nggak di charge kartu kredit kita. Perhatikan kondisi free cancellations nya, karena ada yang free cancel sampai 1 hari sebelum tanggal menginap, ada juga yang free cancel nya harus sebelum 7 hari dari tanggal menginap.

Untuk 21 hari ini, setelah berdiskusi dengan anak-anak, saya memesan hotel di beberapa kota tujuan, Amsterdam, Paris, Geneva, Lucerne, Pisa, Rome, Padova (Venice), Graz, Vienna, Prague, Berlin, Copenhagen, London, Glasgow dan Reading. Ini adalah rencana awal kota-kota tujuan, ada satu kota yang kami pesan 2 malam (Amsterdam, Paris, London, Glasgow), selebihnya satu malam saja. Hotel yang saya pesan umumnya hotel bintang 3-4, dengan kisaran rate antara 60-120 euro per malam. Sebisa mungkin hotel chain international, (Best Western, Ibis, Mercure). Karena booking jauh hari (3 bulan sebelumnya), saya bisa dapet beberapa very good deal, hotel bintang 4 di pusat kota Brussel misalnya, dengan rate hanya 58 euro per malam.

10553532_10152588288848953_5464651147115643324_n

Pengurusan Visa

OK, tiket pesawat udah ditangan, semua email konfirmasi booking hotel sudah diperoleh, berikut musti apply visa Schengen dan Inggris. Saya mencoba apply visa online lewat web kedutaan Belanda (http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/konsuler/visa-schengen/visa-schengen.html)

Setelah saya cek website kedutaan Belanda, ternyata pengurusan visa Schengen baru dapat dilakukan 3 bulan sebelum rencana ketibaan di Schengen countries, berarti baru bisa apply visa sekitar 20 April. Syarat pengurusan visa standar aja, Paspor berlaku minimal 6 bulan, pas foto, asuransi kesehatan, reservasi pesawat dan hotel selama di Eropa, bukti kecukupan dana (kayak filing Rights Issue ke OJK aja :P), kartu keluarga, surat keterangan kerja. Baiklah dut (Kedutaan :D), saya siapkan dulu syarat-syaratnya.

Untuk asuransi kesehatan, saya beli polis asuransi di AIG yang kebetulan kantornya di gedung IDX, satu gedung dengan kantor saya. Untuk saya, istri dan si bungsu, bisa dalam 1 polis keluarga, dengan nilai perlindungan kesehatan sebesar USD 100,000, harga polis keluarga untuk 1 bulan sebesar USD 95, sedangkan si sulung harus punya polis sendiri karena sudah diatas 18 tahun, nggak bisa gabung di family plan. Polis untuk anak sulung ini USD 76 untuk nilai perlindungan yang sama.

Dokumen persyaratan udah saya siapin, tapi setelah mencoba apply di web kedutaan Belanda, yang menurut saya kurang bagus sistemnya, saya tidak pernah berhasil mendapatkan slot waktu aplikasi yang available, semua tanggal untuk 2 minggu kedepan selalu sudah fully booked, sialnya, kita tidak bisa booking tanggal setelah periode 2 minggu tersebut. Lima hari berturut-turut saya pantau web kedutaan Belanda, tidak pernah tersedia slot waktu kosong. Wah, bisa buang-buang waktu nih.. saya musti cari alternatif. Meskipun tiket pesawat saya ke Amsterdam, tapi jika tujuan utama (tinggal terlama di satu negara) adalah negara Schengen lain, maka visa dapat diurus di negara Schengen tersebut. Dari survey ke beberapa website kedutaan2 negara Schengen di Indonesia, saya melihat sistem aplikasi visa dari kedutaan Perancis paling user-friendly, dan the next available slot untuk aplikasi selalu tersedia di webiste, meskipun masih 3-6 minggu ke depan.

Sedikit perubahan musti dilakukan, jika awalnya bookingan hotel saya di Schengen Countries paling lama di Belanda (3 malam) sedangkan Perancis hanya 2 malam, saya musti book hotel lagi di Perancis untuk 2 malam tambahan, agar Perancis menjadi tujuan utama saya (4 malam). Saya kemudian book hotel di Lyon (menggantikan Geneva), dan Nice (menggantikan Pisa).

Aplikasi visa Schengen melalui kedutaan Perancis di Indonesia di tangani oleh TLS (https://www.tlscontact.com/id2fr/login.php), agen pengurusan visa yang ditunjuk oleh pemerintah Perancis. Setelah mengisi form online pada 30 April, saya mendapatkan slot wawancara di tanggal 19 Mei 2014. Pada tanggal yang ditentukan, kami datang ke TLS di Menara Anugrah, Kuningan, untuk menyampaikan printout aplikasi, dokumen2 visa, wawancara dan pengambilan data biometrik (foto dan sidik jari). Sempat ditanya, kenapa apply visa di kedutaan Perancis, padahal tiket pesawatnya ke Amsterdam, saya jelaskan bahwa tujuan utama saya Perancis, dengan menunjukan bukti reservasi hotel. Argumen saya diterima, dan langsung bayar biaya visa (per orang 60 euro plus biaya administrasi TLS Rp 372.000 per orang), total sekitar Rp. 1,3 juta deh per orang.

10379781_10152588273748953_2077021312993413924_o

Bagusnya sistem TLS, aplikasi visa kita bisa di track online, jadi kapan paspor dikirm dari TLS ke kedutaan Perancis, lagi di proses, kapan dikembalikan ke TLS dan kapan bisa di ambil sangat jelas informasinya. Tanggal 28 Mei, terlacak paspor kami sudah kembali ke TLS center, besoknya saya kesana untuk ambil paspor, ternyata kali ini saya dikasih visa Schengen untuk 3 tahun.. wooohooo..!!, bisa bolak balik nih.. 😀 istri dan si sulung di beri visa untuk 2 tahun, sedang si bungsu karena baru pertama kali dapat visa schengen, hanya dikasih visa untuk 3 bulan saja.

Sebelumnya, saat Visa Schengen masih diproses, untuk menghemat waktu saya mulai apply visa Inggris. Visa Inggris juga harus apply online, melalui website VFS, agen pengurusan visa untuk Inggris (http://www.vfsglobal.co.uk/Indonesia/). Tanggal 23 Mei saya apply visa Inggris, isi aplikasi online nya sih gampang, syarat2 aplikasi visa juga mirip dengan visa schengen, cuma apply visa Inggris harus bayar aplikasinya saat apply online, kalo nggak bayar, nggak dapat tanggal appointment 😦 Biaya aplikasi visa Inggris sebesar USD 141 per orang untuk visa 6 bulan, bayar online pake kartu kredit. Kalo mau apply visa 1, 2 atau 5 tahun bisa aja, tapi biayanya makin mahal, dan belum tentu dikabulkan.. Bisa aja apply visa 5 tahun, eh dikasihnya cuma 6 bulan, dan biaya yang udah dibayar untuk 5 tahun nggak dikembalikan.. 😦

Saya dapet appointment di VFS tanggal 3 Juni, dengan perkiraan saat itu paspor saya udah kembali dari kedutaan Perancis. Alhamdulillah tanggal 29 Mei paspor kami sudah balik dari kedutaan Perancis, jadi tanggal 3 Juni lanjut ke VFS, di Kuningan City lantai 2. Setelah wawancara, foto dan sidik jari, diinformasikan proses visa sekitar 3 minggu, tapi nggak bisa dilacak online seperti di kedutaan Perancis. Oh iya, semua aplikasi visa Inggris di prosesnya di kedutaan Inggris di Bangkok, Thailand, makanya proses nya lama, sekitar 3 minggu.. kenapa sih nggak di proses di Jakarta aja ya.. 😦

Akhirnya tanggal 25 Juni dapet email, kalo paspor udah balik ke VFS Jakarta, dan alhamdulillah kami berempat dapat visa, untuk 6 bulan sesuai yang diapply (padahal ngarep juga, sapa tau bayar untuk 6 bulan dikasihnya 2 tahun gitu.. wkwkwkwk..)

Transportasi

Tiket pesawat beres, bookingan hotel beres, visa Schengen dan Inggris beres..

Now, we’re ready to go.. Tapi, disananya jalan-jalan naik apa..?

Ada beberapa alternatif, pertama sewa mobil, kedua beli pass kereta (eurail, britrail), ketiga beli pass bis (eurolines), keempat naik pesawat.

Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan.

Sewa mobil kelebihannya paling fleksibel, kita bisa pergi kemana aja kita mau, waktunya bebas dan gak cape gotong2 bagasi dari stasiun ke stasiun. Kekurangannya, bensin dan parkir di Eropa mahal, udah gitu saya selaku driver tunggal, pastinya paling capek sendiri karena gak mungkin tidur di jalan kan.. 😀

Pass kereta kelebihannya banyak, menjangkau banyak kota di Eropa, harga relatif terjangkau, waktu perjalanan lebih cepat dari mobil dan bisa tidur di jalan.

Kekurangannya, harus ikut time table yang ketat, resiko ketinggalan kereta kalo ada yang lelet, dari stasiun kereta ke hotel musti cari angkutan lagi atau harus angkut koper jarak jauh dan di tempat tujuan harus naik transportasi lokal lagi untuk ke tempat wisata.

Tahun 1989 saya pernah keliling Eropa sendirian bermodal Eurail pass ini, karena sendirian, enak2 aja tiap hari naik turun kereta bawa ransel, tidur di sleeper train (hemat gak bayar hotel), mandi di stasiun.. 😀 Tapi karena kali ini bawa anak-anak, rasanya repot juga kalo musti tiap hari naik turun kereta gotong koper.

Pass bis plus minusnya mirip dengan pass kereta, hanya saja jaringan dan frekuensi bis eurolines tidak se ekstensif kereta. Kelebihannya pass Bis lebih murah dari pass kereta.

Pesawat pastinya paling cepet waktu tempuhnya, tapi biayanya sangat mahal. jadi saya gak consider opsi ini.. hehehe..

Mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangan tersebut, saya cenderung untuk sewa mobil. Kita bisa sewa mobil dari website provider langsung macam Hertz, Avis, Europcar, Budget, atau lewat website aggregator seperti carrentals.com, rentalcars.com, juga expedia.com. Saya memesan sewa mobil lewat carrentals.com, karena setelah dibandingkan quotations nya, paling kompetitif bahkan dibandingkan website providernya langsung.

10547889_10152588462068953_8330267485253942802_o

Dengan rombongan empat orang yang membawa empat koper plus beberapa tas kecil dan ransel, saya membutuhkan mobil yang kapasitas bagasinya besar, karenanya, sedan is out of the options. Rencana perjalanan 21 hari menempuh jarak ribuan kilometer haruslah menggunakan mobil yang irit bensin, mengingat harga bensin di Eropa rata-rata 1,6 euro per liter, jenis SUV menjadi tidak preferable. Tentu harga rental per hari juga menjadi pertimbangan utama. Dari beberapa provider yang diquote oleh carrentals.com, awalnya saya memilih Dollar car rental, jenis mobil yang saya pilih compact station wagon (antara Ford Focus Estate, Renault Megane Estate atau Kia Ceed Estate, tergantung ketersediaan saat tiba). Rental rate yang di quote 22.5 euro per hari, untuk rental 21 hari sekitar 475 euro, plus insurance. Klik-klik, saya booking mobil tersebut di Dollar, toh free cancellation juga kalo kita berubah pikiran.

Sekitar seminggu sebelum berangkat, pertengahan Juli, saya iseng2 buka websitenya Dollar car rental Belanda, lah.. pas baca-baca terms and conditions nya, ternyata sewa dari Dollar dengan rate tersebut hanya untuk pemakaian di Belanda saja, kalo dibawa keluar Belanda, kena charge per negara, Jerman dan Perancis masing-masing 50 euro, Italy, Austria, Swiss masing2 100 euro, Inggris 200 euro.. dan gak boleh sama sekali dibawa ke Eropa timur.. wah pantesan paling murah quote nya.. 😛

Langsung aja saya cancel reservasi di Dollar, lalu cari2 terms and conditions dari masing2 rental.. Hertz Belanda juga sama, gak boleh keluar Belanda. Europcar gak boleh ke Eropa timur. Yang paling fleksibel Sixt rental dan Budget. Akhirnya saya book compact station wagon dari Sixt, yang bisa dibawa ke semua tujuan saya tanpa charge tambahan, unlimited kilometer. Memang sewa per harinya yang 27.5 euro lebih mahal dibanding quotation Dollar, tapi jika di hitung biaya tambahan out of country nya Dollar, rental dari Sixt jadi lebih murah.. Dah, booking nya pindah aja ke Sixt.

All set, get ready… GO..!!

2 Comments Add yours

  1. Difi Damanik berkata:

    Hi Win,
    Gw nemu website lu gak sengaja dan isinya bagus nih buat referensi. Gw rencana mau jalan ke Inggris dan Spanyol dan rencana di Spanyol mau sewa mobil. Untuk sewa mobil di Eropa perlu SIM Internasional gak bro? Thanks.

    Suka

    1. Hi bro Difi.. apa kabarnya nih.. 🙂
      Sewa mobil di Eropa bisa kok pake SIM Indonesia.. nggak perlu bikin SIM internasional.. gw udah 3x sewa mobil di sana.. nggak pernah masalah.. di US juga sama.. cukup pake SIM lokal kita..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s