Madinah, Saudi Arabia

Selepas acara menunaikan ibadah Haji di Mekkah, kami berpindah ke kota Madinah yang dijuluki “kota yang bercahaya”, julukan yang sama diberikan pada kota Paris bila dilihat dari ketinggian Menara Eiffel atau berlayar sepanjang sungai Saine di malam hari. Kalau di Mekkah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjidil Nabawi.

15135747_10154746203158953_2972435370404138786_n

Masjjid Nabawi

Masjid Nabawi,  yang artinya Masjid Nabi SAW ini sering disempurnakan, diperbesar dan diperindah. Baik karena akibat ditimpa bencana kebakaran maupun oleh pertambahan umat. Penyempurnaan yang penting dalam catatatan sejarah, ialah setelah setengah abad Nabi SAW meninggal. Makam Nabi SAW dan kedua sahabatnya itu dimasukan menjadi bagian dari masjid. Masjid yang pembangunannya dimulai pada bulan Rabi’ul Awwal 1 H/September 622 M ini didirikan di atas lahan seluas 4.200 hasta (+/- 1.050 meterpersegi) dibeli dari dua anak yatim, Sahl dan Suhail.

Perluasan dan pemugaran masjidd tterakhir dilakukan oleh Raja Fahd bin ‘Abd Al-Aziz’ menghabiskan biaya lebih dari tujuh miliar Dollar Amerika Serikat. Luas keseluruhan masjid saat ini 165.000 meterpersegi dengan kapasitas 275.000 jamaah. Dengan kata lain, masjid yang kini memiliki tujuh pintu gerbang utama yang dibuat dengan hiasan kaligrafi yang diukir dari emas di Utara, Timur dan Barat, di samping dua pintu gerbang di Selatan ini menjadi seluas kota Madinah pada zaman Nabi SAW.

Ada dua hadis Nabi SAW yang erat hubungannya dengan shalat dalam masjid tersebut : “Shalatlah di masjidku ini bernilai lebih dari seribu kali tempat lain, terkecuali di Masjidil Haram. Shalat di Masjiidil Haram bernilai lebih seratus ribu kali dari tempat lain”. Hadis yang satu lagi mengatakan : “Siapa yang shalat sebanyak 40 waktu tanpa satu kalipun terputus, akan memperoleh kebebasan neraka, kebebasan dari siksa dan kebebasan dari kemunafikan. Tanpa terputus? iya betul. Untuk empat puluh waktu itu (Arbain) berarti kita harus berada di Madinah minimal delapan hari dengan hitungan satu hari lima waktu shalat fardhu.

Shalat Arbain ini, nampaknya, hanya dilakukan oleh jamaah haji Indonesia. Sementara jamaah dari negara lain kelihatnnya lebih memprioritaskan untuk shalat di Masjidil Haram. Apa alasannya ? barangkali soal pahalanya dan, Arbain selalu menjadi “pertanyaan wajib” yang diberikan kepada calon jemaah Haji sebelum berangkat, pun, ketika kembali ke tanah air akan ada pertanyaan : “sempat Arbain tidak?” sama “wajib”nya dengan pertanyaan “sempat mencium Hajar Aswad tidak?”.

15170961_10154746204308953_7387593412193245045_n

Ada satu tempat yang tidak boleh dilewatkan di Masjid Nabawi yaitu Raudah. Nabi SAW pernah mengatakan : “Diantara rumahku dan mimbar terletak sebuah kebun diantara kebun-kebun surga”. Raudah, artinya kebun (taman), orang memandangnya sebagai tempat berdoa yang paling makbul. Setiap doa akan lebih sampai, oleh karena itu setiap orang berusaha mengambil kesempatan untuk berdoa di sana. Raudah, terletak di bagian kiri selatan Masjid, kurang lebih lima meter di belakang Mihrab Imam shalat fardhu Masjid Nabawi. Ciri yang paling gampang dari Raudah adalah warna karpetnya. Warna karpet Raudah putih kehijau-hijauan dan sangat berlainan dengan warna merah tua karpet Masjid Nabawi secara keseluruhan.

Istimewanya Masjid Nabawi karena disinilah letaknya makam Nabi SAW. Makam Nabi SAW dapat ditemui apabila setelah selesai beribadaah dan berdoa di Raudah bagi jemaah pria saja yang bisa langsung menuju arah selatan (dari mimbar Imam) dan belok kiri langsung ke pintu Al Baqi, disitu ada bangunan warna hijau dengan banyak sekali ornamen emas.

15171228_10154746203753953_7824569872254415554_n

Bangunan makam Nabi SAW terdiri dari tiga blok, jika kita menghadap arah Utara membelakangi Kiblat maka blok yang paling kiri adalah kosong, sedang yang tengah dengan hiasan khas bulatan besar dari emas diikuti oleh dua bulatan kecil dari emas maka itu adalah makam Nabi SAW. Bulatan besar menunjukan simbol makam Nabi SAW, bulatan kecil di tengah Abu Bakar as Siiddiq dan bulatan kecil paling kanan adalah bangunan kosong, konon tadinya mau dipakai sebagai makam Siti Aisyah tetapi tidak jadi karena Siti Aisyah diimakamkan di makam Al Baqi.

Masjid Nabawi mempunyai kekhususan yaitu membedakan tempat ibadah antara jemaah pria dan jemaah wanita secara jelas dan ketat dan tidak seperti di Masjidil Haram jemaah bercampur. Di dalam Masjid Nabawi ada tempat-tempat yang Restricted for men only, jemaah pria bisa memanfaatkan seluruh lokasi untuk shalat dan bisa mengunjungi seluruh penjuru Masjid Nabawi kecuali kamar mandi wanita serta tempat shalat wanita kalau sedang waktu shalat.

15170949_10154746213688953_8713552812313513164_n

Masjid Nabawi juga mempunyai lokasi shalat di lantai dua yang terbuka dengan atap langit, persis seperti di Masjidil Haram lantai tiga. Dari lantai dua kita bisa melihat kubah-kubah masjid yang bisa dibuka dan ditutup untuk mengatur suhu dan pencahayaan dalam masjid, apabila siang udara dingin, kubah dibuka agar sinar matahari masuk dan udara dalam masjid menjadi hangat. Bagi yang punya alergi debu sebaiknya jangan coba-coba shalat disini, karrena lantai dua ini terbuka dan banyak debu padang pasir halus yang tidak kelihatan, tapi bisa dirasakan kalau sedang sujud bau debunya luar biasa. Ditengah-tengah masjid ada dua lokasi terbuka dinaungi oleh payung yang bisa dibuka dan ditutup. Bentuk payungnya terbalik mirip dengan atap sirkuit F-1 Sepang Malaysia, kalau saat shalat Dzuhur selalu dikembangkan agar jemaah tidak kepanasan kena sinar matahari langsung, nanti setelah Ashar payung ditutup agar sinar matahari masuk menghangatkan dan menerangi masjid.

15085464_10154746204093953_5287842072273876905_n

Keistimewaan lain kota Madinah adalah berdirinya berbagai masjid dengan sejarah tersendiri : Masjid Quba misalnya, adalah masjid yang awal pertama kali dibangun oleh Nabi SAW di Madinah. Kemudian ada Masjid Qiblatain (masjid berkiblat dua), semula Nabi SAW shalat di masjid ini menghadap Baitul Maqdis kemudian diperintahkan Allah SWT menghadap Masjidil Haram di Mekkah.

15181253_10154746208813953_308279569187144626_n

Makam Al Baqi

Di sebelah timur Masjid Nabawi terletak pemakaman yang sangat luas yang diberi nama makam Al Baqi, menurut referensi bahwa pahlawan dan khalifah Islam yang dimakamkan disini adalah khalifah Ali dan istri terakhir Nabi SAW Siti Aisyah. Tidak sama halnya dengan pekuburan di Indonesia yang sekelilingnya oh seram….., kalau malam malah jadi pasar malam dan ramainya bukan main.

Shopping di Madinah

Katanya bagi yang senang shopping (berbelanja), Madinah adalah surga belanja dengan kualitas barang yang lebih baik dari Mekkah tetapi harganya lebih murah. Untuk berbelanja emas menurut informasi emas di Madinah termasuk baik kadarnya maupun cara pembuatan perhiasannya, kalau tanya harganya saya tidak tahu karena titel panggilan saya mas sudah lebih dari cukup.

15171016_10154746210313953_4180638136073997878_n

Selain itu kota Madinah juga terkenal sebagai tempat tumbuhnya buah kurma Ajwa. Ada dan banyak juga jenis kurma lain, tetapi Ajwa ini ada yang bilang untuk obat kalau terserang bisa binatang buas. Kalau yang suka bawa buah tangan kurma silahkan belanja di Pasar Kurma yang jaraknya 2-3 km dari Masjid Nabawi.

Naskah oleh rekan saya Lutfi Sriyono (l.sriyono@gmail.com)

Foto-foto oleh Nelwin Aldriansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s