Backpackeran ke Eropa tahun ’80an

Ini pengalaman saya solo travel backpackeran ke Eropa pada tahun 1989. Pada saat itu saya baru berumur 19 tahun, mengisi libur semesteran di bulan Juli-Agustus. Sebagai mahasiswa, tentu budget saya sangat terbatas. Untuk menghemat biaya, perlu cari tiket yang paling murah, akomodasi yang paling murah, kalau bisa gratis dan moda tranportasi disana yang paling efisien. Jaman itu belum ada LCC, belum ada tiket promo, rata-rata harga tiket PP ke Eropa diatas USD 1.000. Untungnya saat itu kakak saya bekerja di salah satu airline internasional, melalui kakak saya akhirnya bisa mendapatkan rate travel agent seharga USD 960, maskapainya Malaysian Airlines, rute Jakarta-Frankfurt via Kuala Lumpur.

19756522_10155439234763953_2992151941586228165_n

Kenapa tujuannya ke Frankfurt? Ini adalah bandara terbesar yang paling dekat dengan kota Aachen, di kota kecil ini terdapat Aachen University, saat itu cukup banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah disana, kebanyakan mahasiswa beasiswa BPPT, termasuk dua orang sepupu saya. Jadi jelas kan kenapa tujuan utama saya adalah Aachen? yep, biar ada akomodasi gratis. 😀  Selain di Aachen, ada juga sepupu lain yang kuliah S3 di Delft, Belanda, dan ada teman SMA yang saat itu ayahnya bertugas di Geneva, Swiss. Sekitar 3 bulan sebelum keberangkatan, saya menghubungi mereka lewat surat dan telepon (saat itu kan belum ada internet dan email), bahwa saya akan berkunjung kesana dan bertanya apa bisa tinggal di tempat mereka. Alhamdulillah semuanya senang mendengar rencana kunjungan saya dan menyiapkan tempat untuk saya menginap.

Buat WNI, untuk keluar negeri pada masa itu masih memerlukan exit permit, izin untuk meninggalkan Indonesia. Jadi selain punya paspor, harus mengurus exit permit dulu ke kantor imigrasi setiap kali mau keluar negeri. Di bandara juga masih harus membayar fiskal luar negeri. tahun 1989 itu besarnya fiskal luar negeri adalah Rp 150.000. Tahun 1989 itu belum ada European Union, belum ada visa schengen, belum ada mata uang Euro, Jerman Barat dan Jerman Timur belum reuni. Tiap negara musti apply visa sendiri2, Tapi dulu itu Jerman Barat bebas visa lho buat paspor Indonesia. Dua bulan sebelum berangkat saya memulai mengurus visa Inggris, Perancis, Swiss, Belgia-Netherland-Luxembourg (Benelux). Tadinya saya juga merencanakan apply visa Italy dan Austria, namun karena waktunya tidak terkejar, saya hanya mendapatkan visa untuk memasuki delapan negara Eropa.

Roll1-19

Tanggal 26 Juli 1989, saya berangkat ke Frankfurt dengan 2x transit, di Kuala Lumpur sekitar 4 jam dan di Abu Dhabi selama 1 jam. Tiba di bandara Frankfurt pada 27 Juli pagi, saya sudah dijemput sepupu saya Hadian. Dari bandara Frankfurt kami naik kereta ke Koln, dan kemudian sambung kereta lokal ke Aachen. Sepupu saya tinggal di salah satu kamar di lantai 2 sebuah rumah toko, di bawahnya adalah toko piringan hitam (LP). Kamarnya tidak terlalu besar, sekitar 4×4 m2, dan tidak ada kamar mandi di dalam. Satu-satunya kamar mandi ada di lantai 1, sharing dengan toko piringan hitam tadi. Di lantai 2 itu ada 2 kamar yang disewakan, kamar satunya lagi juga dihuni mahasiswa asal Indonesia.

Roll1-28

Saya tinggal selama beberapa hari di Aachen, mengunjungi berbagai tempat menarik disana, dan juga berkunjung ke apartemen sepupu saya satu lagi, Angky. Karena saat itu mereka belum libur kuliah, saya biasanya jalan sendiri, baru di hari Sabtu-Minggu saya bisa jalan bareng bertiga dengan sepupu-sepupu saya. Kami jalan keliling Aachen old town, melihat api abadi dan makan siang di Belvedere, menara dengan revolving restaurant diatasnya. Selama 5 hari saya di Aachen, sepupu saya biasanya ngajak saya makan siang di Mensa, kantin mahasiswa di Aachen University. makan disini murah, cukup masukan coin 1 deutsche mark (sekitar 0,7 USD) di rotating gate, ambil tray dan antri makanan yang menunya berganti setiap hari. Informasi sepupu saya, di semua universitas di Jerman Barat makan di Mensa tarifnya sama, 1 DM, dan gak akan pernah ditanya anda mahasiswa sana atau bukan. Jadi kalau mau irit, makanlah di Mensa, entah apa saat ini sistemnya masih seperti itu apa nggak  😀

Roll1-22

Setelah sekitar 5 hari saya di Aachen, saya melanjutkan perjalanan menuju Geneva, Swiss, mengunjungi teman SMA saya yang ayahnya tugas di PBB Geneva. Dari Aachen, saya naik kereta ke Frankfurt, dan kemudian ganti kereta menuju Zurich, dan ganti kereta lagi menuju Geneva. Saya waktu itu berbekal Eurail pass, jadi kemana-mana tinggal naik kereta tanpa harus reservasi atau bayar lagi, tidak seperti Eurail pass saat ini yang wajib reservasi tiap mau naik kereta dan bayar reservasi.

Roll2-27

Karena saat itu belum ada European Union dan Schengen Visa, tiap masuk satu negara Eropa musti lewat proses imigrasi dan custom. Nah, saat diatas kereta di perbatasan Jerman Barat-Swiss, masuk petugas imigrasi dan custom. Setelah cek paspor dan visa, ransel saya di bongkar. Di tas toiletteries saya menyimpan kantong2 plastik kecil isi deterjen, maklum backpackeran, nyuci sendiri. Melihat kantong-kantong plastik kecil isi bubuk putih gitu, custom policenya nanya, ini apa?. Saya jawab deterjen (dengan aksen Indonesia  😀).  Custom policenya nggak paham, bingung.. saya berusaha jelasin dengan gerakan cuci baju.. 😀   entah masih nggak paham atau nggak percaya, petugas custom bilang saya harus ikut dia turun dari kereta. Saya dibawa ke kantor polisi, kantong2 deterjen di bawa ke lab, di tes satu persatu.

Roll2-09

Kemudian saya diberikan container urine. Sayapun menuju toilet mau ambil sampel urine.. eh.. nggak boleh tutup pintu.. harus pipis di depan polisi.. biar gak dicampur2 air lain kali ya.. 😀 Satu jam lebih saya duduk diawasi petugas sambil nunggu hasil tes paket2 dan tes urine, sambil nunggu saya inget-inget.. berapa hari ini ada makan obat flu atau pusing yang bisa dicurigai polisi nggak ya.. 😀 untung semua test hasilnya negative drugs. Kemudian polisinya bilang, you can go.. sambil balikin plastik2 deterjen. Lhaa.. daripada ntar kena masalah lagi.. saya bilang aja.. you can keep them sir.. 😀Akibat di paksa turun dari kereta dan menjalani test lab, saya tertinggal kereta lanjutan ke Geneva. Sayapun mencari telepon umum, mengabari kawan saya, Reina, bahwa saya terlambat tiba. Sekitar 3 jam kemudian baru ada lagi kereta ke Geneva, setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari perbatasan, sayapun tiba di stasiun Geneva.

Roll2-03

Di Geneva, saya menginap selama 5 hari di rumah Reina. Selama disana, saya banyak jalan dengan anak-anak para diplomat yang merupakan teman main Reina disana. Saat itu di Geneva sedang berlangsung Fetes du Geneve, festival Geneva, jadi banyak acara dan pertunjukan di sekitar Lac Leman (Lake Geneva). Dimalam hari juga ada pasar malam di tepi Lac leman, lengkap dengan amusement park dan berbagai rides, termasuk juga roller coaster. Festival ini hanya berlangsung sekitar 1 bulan, setelah festival selesai pasar malam dan amusement park nya dibongkar lagi. Selama di Geneva, saya mengunjungi berbagai tempat, old town, flower clock, nature museum, markas PBB.

Roll2-19

Dari Geneva saya kembali ke Aachen, istirahat semalam, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke London. Dari Aachen saya naik kereta sekitar 3 jam perjalanan ke Ostend, Belgia selanjutnya dari Ostend naik Ferry menuju Dover, Inggris. Saat itu ada dua rute ferry dari Eropa ke Inggris, Rute Ostend-Dover atau rute Calais (Perancis)-Dover. Sejak ada euro tunnel, rute ferry Ostend-Dover tidak lagi dioperasikan, tinggal rute Calais-Dover saja yang saat ini masih beroperasi. Perjalanan ferry dari Ostend ke Dover sekitar dua jam. Sampai di Dover hari sudah sore, saya kemudian antri ke meja imigrasi, saat itu pos imigrasi di Dover bentuknya meja, bukan counter. Dari pelabuhan Dover saya melanjutkan perjalanan dengan kereta selama 1,5 jam ke London.

Roll3-33

Sampai London sudah sekitar jam 7 malam, saya kemudian naik underground train ke kawasan Westend London, menuju sebuah rumah kos. Jauh sebelum ada couchsurfing dan airbnb, di kota-kota besar Eropa banyak pemilik rumah yang menyewakan kamar-kamar di rumahnya untuk wisatawan backpacker. Saya mendapatkan info rumah kos ini dari teman yang tinggal disana selama sekolah bahasa Inggris. Pemilik rumahnya ibu-ibu cukup tua, ramah dan baik. Tarif menginap di rumahnya 25 poundsterling per malam,  sekamar sendiri, termasuk makan malam. 😀 Cukup bersaing dengan tarif hostel di sekitar London yang saat itu sekitar 30 pound, sekamar 4-8 orang, tanpa makan malam. Saat saya menginap disana, ada beberapa tamu dari Jepang dan negara lain yang juga menginap disana.

Roll4-23

Saya tinggal di London selama 4 malam. Selama disana saya mengunjungi berbagai tempat wisata wajib di London. Big ben, Parliament Square, London Bridge, Tower Bridge, Buckingham Palace, juga main sampai ke Greenwich. Saya juga mengunjungi Royal Albert Hall, gedung konser yang sering dipakai untuk konser berbagai jenis musik, mulai dari klasik sampai rock.

Roll4-20

Sayang saya datang terlalu cepat 2 minggu, karena pada 19 Agustus 1989 di Milton Keynes ada festival rock yang menampilkan band-band seperti Bon Jovi, Europe, Vixen, Skid Row dan lainnya. Jika saya bela-belain nonton, berarti saya harus tinggal di London lebih dari 2 minggu dan tidak bisa lagi mengunjungi negara-negara Eropa lainya, super galau deh saat itu. Akhirnya saya merelakan nggak nonton festival rock itu, demi melanjutkan eksplorasi di Eropa.

Roll4-27

Roll3-25

Setlah 4 malam di London, saya melanjutkan perjalan menuju Paris. Dari London saya naik kereta ke Dover, dan kemudian naik ferry ke Calais. Dari Calais lanjut naik kereta lagi sekitar 2 jam ke Paris. Sampai di stasiun Gare du Nord Paris, saya segera mencari hostel. Jaman itu kalau mau nginep di hostel belum ada sistem advance booking. Anda harus ke counter travel di stasiun kereta atau bandara, disana liat daftar hostel dengan tarifnya, lalu pilih dan pesan. Petugas counter akan telpon ke hostelnya, jika ada tempat kosong, anda bayar di counter, baru kita dikasih alamat untuk menuju hostelnya.

Roll5-08

Saat itu hostel saya berada di kawasan Villiers. Namun karena tidak familiar dengan peta metro Paris, saya salah naik kereta ke Villiers Le Bel, di pinggiran kota Paris perjalanan satu jam lebih dengan kereta metro. Setelah tanya-tanya orang disana, barulah saya sadar kalo nyasar, balik lagi deh ke Gare Du Nord, ternyata Villiers yang saya tuju itu hanya 6 stasiun metro dari Gare du Nord.

Roll6-15

Di Paris saya tinggal 3 malam. tentunya mengunjungi berbagai obyek wisata wajib di sekitar Paris. Eiffel tour, trocadero, plaza de concord, champ de elysee, Arc du Triomphe, seine river, gereja notre dame, louvre museum dan lainnya. Tahun 1989 itu merupakan perayaan 100 tahun berdirinya menara Eiffel. Untuk memperingati momen ini, di sisi Eiffel tour dipasang lampu2 membentuk tulisan 100 ans yang artinya 100 tahun. Saya juga menyempatkan hampir setengah hari penuh pergi ke istana versailles yang terletak di luar kota Paris.

Roll6-22

Ada kejadian konyol juga saat di Paris, karena sebelumnya bekal deterjen saya tinggalkan di custom police Swiss, saya mencari coin laundry tak jauh dari hostel di villiers. Di laundry itu mesin cuci dan dryernya terpisah. Setelah cuci, saya masukan cucian ke dryer, petunjuknya bahasa Perancis semua, karena nggak paham, saya puter aja mentok timernya, biar kering 100% maksudnya. Setelah selesai, bener.. cucian saya kering 100%. Eh tapi, pas pake celana panjang, kok jadi sempit, dan jadi ngatung kakinya.. 😀 ternyata celana saya bahannya bukan katun, jadi menciut saat kena panas berlebihan saat di dryer. Jangan heran kalo beberapa foto saya di Paris celananya terlihat ngatung, itu bukan mendahului trend celana ngatung, tapi akibat kecelakaan di laundry..  😀

Roll6-12

Saat di Paris, saya sempat datang ke kedutaan Italia untuk mencoba apply visa dari sana, ternyata tidak bisa, hanya bisa apply dari negara asal, kecuali jika kita punya izin tinggal disana. Gagal dapat visa Italy, akhirnya saya memutuskan melanjutkan perjalanan ke selatan Perancis, menuju Marseille, Nice dan Monaco.

Bersambung ke bagian 2 di:

http://wp.me/p87qVT-1YN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s