Backpakeran ke Eropa tahun 80an (pt. 2)

Dari Paris, saya melanjutkan perjalanan ke arah selatan Perancis. Untuk menghemat biaya, saya memilih naik kereta malam dari Paris ke Nice. Ada pilihan gerbong couchette (sleeper train), dengan menambah sedikit biaya. Saya memilih gerbong dengan couchette.

Di kabin saya ada 2 tempat tidur, atas dan bawah, untungnya tidak ada penumpang lain di kabin saya, meskipun nomor couchette saya untuk tempat tidur atas, akhirnya saya memilih tidur di bawah. Cukup nyaman tempat tidurnya, bikin tidur nyenyak. Kereta berangkat dari Paris sekitar jam 11 malam dan tiba di Nice sekitar jam 7 pagi. Setelah mandi di stasiun, saya kemudian jalan ke arah pantai, menikmati matahari pagi di pantai selatan Perancis. Pagi itu kawasan pantai cukup ramai.

Dari Nice saya melanjutkan perjalan ke Monaco. Negara kerajaan mini ini tidak punya perbatasan fisik dengan Perancis, masuk Monaco tidak melewati imigrasi. Di Monaco saat itu banyak sekali beredar mobil mercedes dengan plat nomor angka arab. Rupanya orang-orang kaya arab banyak yang saat itu liburan di Monaco, tapi bukannya sewa mobil di Monaco, malahan bawa mobil masing-masing dikirim lewat kapal laut.. horang kayaaa.. 😀

Saat di Monaco itu seingat saya pas tanggal 17 Agustus. Melihat banyak bemdera Monaco berkibar, rasanya seperti lagi merayakan 17 Agustusan…😀 Sore saya meninggalkan Monaco, menuju Marseilles dan dari Marseilles kemudian mengambil kereta malam.menuju Geneva.

Besok paginya saya tiba kembali di Geneva, dan kembali memginap di rumah Reina untuk satu malam.  Dari Geneva saya melanjutkan perjalan ke Lucerne. Saya menginap semalam di Lucerne mengunjungi lake lucerne dan jembatan kayu yang terkenal itu. Besok paginya saya naik kereta ke Engelberg, untuk menuju Mt. Titlis. Tahun 1989 Mt. Titlis belum seramai sekarang, saat naik cable car ke puncak, tidak lebih dari 10 turis yang naik ke atas. Di kawasan puncak pun mungkin hanya ada sekitar 20an wisatawan. Bisa bikin foto dengan tripod dengan leluasa, serasa milik sendiri kawasan puncak Titlis.

Setelah puas main salju dikawasan puncak, saya turun menuju danau Trubsee. Saat turun ini saya sendirian di cable car, sampai bisa pasang tripod di dalam cable car. 😀

Di stasiun cable car Trubsee saya turun dan berjalan kaki menuju danau. Sungguh cantik dan tenang suasana danau ini. Saat itu saya satu-satunya wisatawan yang ada di kawasan tepi danau. Betah nongkrong disini sampai sore.

Dari Mt. Titlis saya kembali ke Lucerne dan langsung balik lagi ke Aachen dengan kereta. Setelah beristitahat 2 malam di Aachen, saya kemudian menuju kota Delft, Belanda. Saya menginap di apartemen kakak sepupu saya, mas Ute, yang saat itu kuliah S3 di TU Delft. Bersama keluarga mas Ute, kita jalan-jalan ke Den Haag, mengunjungi Madurodam dan Scheveningen beach.

Roll8-10

Besoknya saya dipinjamkan sepeda untuk berkeliling kota Delft. Asyik banget naik sepeda keliling Delft ini. Ada jalur khusus sepeda dan udaranya cerah namun sejuk. Saat itu di Delft sedang ada Delft Open Air Jazz festival. Berbeda dengan festival Jazz lain yang biasanya di adakan di satu arena, festival Jazz di Delft waktu berlangsung di berbagai penjuru kota. Panggung-panggung kecil di dirikan di depan restoran, di taman, bahkan ada panggung kecil di atas perahu yang berkeliling kanal Delft. Jadi yang suka band itu musti ikutin jalan di tepian kanal untuk menikmati musiknya.. 😀

Hari berikutnya saya naik kereta menuju Zaanse Schans, melihat kincir kincir angin tradisional yang terbuat dari kayu, lalu ke Alkmaar melihat pasar keju tradisional, sayang pas saya sampai sana bukan hari pasar, jadi tidak ada lelang keju. Dari Alkmaar saya lanjut ke Amsterdam berkeliling kota dari sore sampai malam, jalan kaki melewati kawasan centraal station, damrak dan kanal-kanl yang terlihat cantik di sore hari, tak lupa melewati kawasan de wallen.. 😀

Besoknya saya berkunjung ke ibukota Luxembourg, nama kotanya Luxembourg City, dengan naik kereta dari  Delft. Perjalanan kereta dari Delft ke Luxembourg ditempuh selama sekitar 6,5 jam.

Berdasarkan buku Europe under $25 a day yang saya bawa, obyek wisata utama di Luxembourg city adalah Bock, maka kesanalah tujuan saya. Dari stasiun kereta Gare du Luxembourg, Bock ini jaraknya sekitar 1,5 km dan dapat dicapai dengan berjalan kaki santai sekitar 20 menit. Bock merupakan kawasan bukit batu yang kemudian dijadikan benteng pertahanan kota, lengkap dengan kastil dan terowongan bawah tanah (casemates) yang menghubungkan beberapa bagian kota. Keseluruhan panjang lorong-lorong bawah tanah ini diperkirakan sekitar 23km.

roll9-18.jpg

Di berbagai bagian dinding Bock ini ada banyak lobang pemantauan yang dilengkapi dengan meriam, menurut info ada sekitar 50 meriam yang masih dipertahankan di dalam Bock, dari ratusan meriam pertahanan yang dulu ada disini pada abad 18. Saat masih digunakan sebagai benteng pertahanan, Bock ini merupakan tempat tinggal bagi sekitar 1.200 tentara.

Roll9-19

Setelah lelah mengelilingi kawasan Bock, termasuk menjelajahi lorong bawah tanahnya yang naik turun, saya melanjutkan perjalanan ke kawasan city centre, mengunjungi Place Guillaume, yang merupakan kawasan plaza terbuka di tengah kawasan gedung-gedung antik. Di beberapa sudut lapangan, ada kios-kios penjual buah dan makanan take away.   Saya membeli apel di salah satu kios pedagang buah di lapangan ini, buat makan siang. Sorenya saya kembali ke Delft.

Setelah memginap 4 malam di Delft, saya pamitan ke sepupu saya dan melanjutkan perjalanan ke Brussels dan Antwerp, Belgia. Di Brussels mengunjungi kawasan Grand Palace, Market square, manneken pis, atomium dan beberapa tempat lainnya.

Tak terasa sudah hampir sebulan saya ngebolang di Eropa, saya kembali ke basecamp saya di Aachen untuk menginap 2 malam. Sebelum pulang, sempet ngobrol dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Aachen. Mereka nanya, kalo lagi travel sendiri nggak ada kenalan tidurnya dimana. Saya jawab di hostel atau di kereta malam. Lalu mereka cerita, lain kali cari aja sexkino, itu bioskop yang buka 24 jam memutar blue film non-stop. Lumayan kan kata mereka, bayar cuma 15 DM lebih murah dari hostel, plus nonton bokep…😀

Tanggal 26 Agustis akhirnya saya kembali ke Jakarta. Tapi sebelum pulang ke Jakarta, saya menyempatkan stopover di Kuala Lumpur selama 3 malam.

Solo travel backpackeran ke Eropa di masa itu memang belum terlalu umum. Selain informasi belum terlalu banyak, biayanya pun relatif lebih mahal jika dibandingkan saat ini.  Modal informasi saya saat itu hanyalah buku Europe under $25 a day cetakan tahun 1984, pinjaman dari sepupu saya dan peta lipat Eropa cetakan tahun 1982 pemberian dari ayah saya. Dengan modal uang pas-pasan dan semangat ’89, ternyata saya bisa solo travel sebulan lebih di Eropa 😀

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s