Irlandia: 1 Nusa, 1 Bangsa, 2 Negara

Irlandia merupakan sebuah pulau di sebelah barat Great Britain. Pulau ini merupakan tempat tinggal bangsa Irlandia (Irish) yang memiliki sejarah panjang, diperkirakan, pulau ini sudah dihuni manusia sejak 30 ribu tahun lalu. Setelah mengalami pasang-surut kerajaan Irlandia di abad pertengahan, pada tahun 1801 Irlandia bergabung dengan Great Britain dan membentuk United Kingdom. Namun pada tahun 1949, Irlandia terpecah dua, wilayah utara tetap bergabung dengan United Kingdom, wilayah selatan, yang menempati sekitar 80% wilayah Irlandia, memilih menjadi negara merdeka dan membentuk Republic of Ireland. Pemisahan ini awalnya tidak berlangsung mulus, berbagai perlawanan dan saling serang antara pendukung republik dan pendukung Inggris masih terus berlanjut hingga tahun 1980an. Namun sejak perjanjian damai tahun 1998, Irlandia relatif damai dan aman. Kestabilan politik ini mendorong peningkatan kemakmuran yang signifkan. Saat ini Republik Irlandia adalah salah satu negara paling makmur di dunia dengan GDP per kapita sekitar USD 108 ribu.

Tahun 2024 lalu, Pemerintah Republic of Ireland memberi kebijakan baru bagi pemegang paspor Indonesia. Jika WNI sudah memiliki visa United Kingdom multiple entry yang sudah dipakai, maka kita bisa memasuki wilayah Republik Irlandia tanpa perlu apply visa Irlandia secara terpisah. Kebijakan baru ini membuat saya bersemangat untuk mengunjungi Irlandia, keinginan yang lama tertunda karena tidak pernah sempat mengurus visa Republik Irlandia dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya ke United Kingdom.

Dalam kunjungan ke Inggris Juni 2025 lalu, saya menyempatkan diri untuk mampir ke Irlandia. Sabtu 28 Juni 2025, pagi itu langit London sedang cerah ketika saya berangkat dari hotel Ibis Styles Gatwick menuju bandara London Gatwick. Setelah rampung proses check in di counter EasyJet, saya menuju gerbang keberangkatan. Rasanya masih setengah ngantuk, tapi antusiasme menyalip semuanya saat papan keberangkatan menampilkan nomor penerbangan EZY823 milik EasyJet. Tidak butuh waktu lama, pesawat pun mengudara, memulai penerbangan singkat menuju Irlandia Utara.

Setelah menempuh penerbangan selama sekitar 1 jam 30 menit, saya tiba di Bandara Belfast. Suasana terminalnya ramai dan efisien, sebuah impresi pertama yang menyenangkan. Setelah mengambil bagasi, saya menuju konter Budget Rental Car untuk mengambil mobil sewaan yang sudah saya pesan sebelumnya melalui aplikasi carrentals dot com. Saya mendapat mobil merek Inggris buatan China, MG 2 berwarna merah. Saat saya ambil, mobil ini masih relatif baru dengan ODO baru sekitar 102miles. Mobil hatchback ini terasa gesit, berkarakter, dan siap menemani perjalanan penuh eksplorasi. Mobil bertransmisi automatic ini juga dilengkapi Advanced Driver Assistance System, membuat pengemudian mobil ini terasa menyenangkan.

Setelah menyalakan mesin dan membiasakan diri dengan mobil ini, saya melaju menuju Moydrum Castle. Sekitar 40 menit dari Belfast, mobil memasuki wilayah Republik Irlandia. Tidak ada pos imigrasi perbatasan ataupun checkpoint antara Irlandia Utara yang merupakan wilayah United Kingdom dan Irlandia Selatan yang merupakan wilayah Republic of Ireland. Yang terasa hanya perbedaan road signs. Di wilayah Irlandia Utara, road signs menggunakan jarak dalam miles dan bahasa Inggris. Setelah memasuki wilayah Irlandia selatan, road sign menggunakan jarak dalam Km dan menggunakan dua bahasa, bahasa Irlandia (Gaelic) dan bahasa Inggris. Begitupula saat berhenti di rest area untuk belanja, mata uang yang digunakan tidak lagi Poundsterling, tapi Euro.

Dalam perjalanan, saya berhenti beberapa kali untuk mengambil foto di obyek yang menurut saya menarik. Salah satu pemberhentian favorit adalah gereja tua dengan menara batu dan jendela kaca patri indah, meski kecil, ia memiliki aura menenangkan yang memikat. Kastil kecil lainnya turut menambah estetika: menara jangkung di atas bukit hijau, tampak seperti latar novel fantasi. Ke mana pun mata memandang, ada potongan masa lalu yang terus bercerita.

Sekitar 2,5 jam mengemudi dari Belfast. Saya tiba di Moydrum Castle. Kastil yang dulunya megah ini, sekarang tinggal reruntuhan, berdiri di tengah lahan hijau. Dibangun pada sekitar abad ke-19, Moydrum pernah menjadi rumah megah keluarga Handcock. Namun sayangnya, saat perang dunia pertama, bangunan ini terkena bom dan rusak hebat pada tahun 1921. Reruntuhan kastil ini menjadi terkenal setelah diabadikan dalam cover album band rock Irlandia, U2, untuk rilis album The Unforgettable Fire pada tahun 1984 silam. Kastil ini berada dalam lahan milik pribadi, sehingga kita hanya bisa melihat dari luar pagar saja, tidak bisa masuk ke dalam.

Setelah puas berfoto dan menikmati tenangnya lanskap pedesaan Irlandia, saya melanjutkan perjalanan ke Dublin, ibukota Republik Irlandia. Perjalanan memakan waktu sekitar dua jam, melewati jalan-jalan kecil bergaris kuning, padang rumput, dan desa-desa kecil penuh pesona. Momen tenang melaju di jalanan pedesaan Irlandia ini menghadirkan rasa damai dan seolah membawa kita kembali ke zaman dulu. Menjelang senja, saya tiba di Dublin Airport Hotel. Letaknya strategis dekat bandara, nyaman, dan bersih. Setelah meletakkan barang, saya menyegarkan diri sedikit sebelum bersiap menyusuri sudut kota Dublin yang bersejarah nan dinamis.

Setelah mengemudi sekitar 20 menit dari hotel dan memarkirkan mobil, petualangan dimulai dari St. Patrick’s Cathedral. Katedral yang berdiri sejak abad ke-12 ini merupakan gereja terbesar di Irlandia dan menjadi tempat pemakaman Jonathan Swift, penulis terkenal “Gulliver’s Travels”. Meski katedral ini diberi nama St. Patrick, pelindung Irlandia, katedral ini sebenarnya baru dibangun jauh setelah masa hidupnya, sebuah warisan simbolis atas rasa hormat yang mendalam. Kubah dan jendela kaca patri di dalamnya begitu memesona di kala sinar matahari menembus dengan lembut. Selanjutnya saya menuju ke Dublin Castle. Benteng ini pernah menjadi benteng pertahanan, kediaman pemerintah Inggris di Irlandia, dan kini menjadi situs pariwisata dan tempat resmi kenegaraan. Di dalamnya ada State Apartments yang megah dengan dekorasi emas dan lukisan-lukisan armada dan Chester Beatty Library yang menyimpan manuskrip kuno, kitab suci, dan artefak sejarah.

Dari benteng, saya melangkahkan kaki menuju Trinity College & Library. Kampus tertua di Irlandia yang didirikan pada tahun 1592 ini menyimpan “Book of Kells”, manuskrip iluminasi abad ke-9 yang terkenal akan ilustrasi Injil penuh warna dan detail rumit. Menyusuri Long Room di perpustakaan, dengan rak kayu tinggi penuh buku tebal dan langit-langit tinggi, memberi perasaan seperti melintasi lorong waktu. Benar-benar salah satu tempat paling magis di dunia buku.

Saat malam mulai turun, saya mampir ke Hard Rock Café Dublin untuk makan malam dan membeli beberapa T-shirt. Dari luar, tempatnya terlihat ramai dan penuh cahaya. Dalamnya dipenuhi memorabilia musisi legendaris. Pajangan gitar, cover album, jaket panggung, dan foto-foto vintage. Saya mencicipi burger edisi khusus, Messi Burger dan minuman hangat sambil mendengarkan playlist classic rock, merasakan suasana santai bercampur budaya pop yang ikonik. Memorabilia yang dipajang, selain menampilkan artefak musisi Inggris dan Amerika, tentu juga menampilkan memorabilia pahlawan musik Irlandia seperti bass guitar milik Thin Lizzy dan kacamata milik Bono, vokalis U2 yang ia kenakan dalam video klip “Beautiful Day”. Usai makan malam, saya kembali ke hotel. Meski lelah, hati penuh dengan kenangan hari ini, gereja tua, kastil bersejarah, manuskrip kuno, hingga aroma burger ala rock klasik. Seolah dua dunia lama dan modern bertautan dalam satu hari yang padat namun menyenangkan.

Pagi hari, Minggu 29 Juni, saya check-out dari Dublin Airport hotel. Kelar checkout, saya mengambil MG 2 di parkiran hotel dan mulai perjalanan menuju Giant’s Causeway, ikon alam Irlandia Utara yang mempesona. Giant’s Causeway adalah formasi batuan basalt berbentuk kolom enam sisi, sekitar 40.000 tiang menyatu membentuk tebing alami. Dalam cerita rakyat Irlandia, dikisahkan batuan ini dibuat oleh Fionn mac Cumhaill, legenda rakyat Irlandia. Dikisahkan dia membangun batu-batuan ini sebagai lompatan untuk menuju Skolandia. Namun secara ilmiah, batuan geologi unik ini terbentuk oleh letusan vulkanik sekitar 50 hingga 60 juta tahun yang lalu. Selama masa itu, lava cair mengalir ke tepi pantai, mengisi cerukan yang ada. Saat lava mendingin dan mengeras, ia menyusut dan retak, menciptakan kolom poligonal khas yang kita lihat sekarang.

Suara ombak menghantam batu, angin laut menerpa, memberi rasa kekuatan alam dan ketenangan sekaligus, salah satu pemandangan alam paling spektakuler di dunia dan telah ditetapkan menjadi salah satu situs warisan alam Unesco. Namun alasan utama saya mengunjungi tempat ini adalah Led Zeppelin. Band rock legendaris Inggris ini menggunakan lansekap di Giant’s Causeway Bay sebagai cover dari album Houses of The Holy, menggunakan beberapa model anak-anak yang bermain di batuan, dengan tone warna yang surreal, seolah tempat ini berada diluar planet bumi. Saya sempat bertanya kepada seorang coastguard yang terlihat cukup berumur, dimana sih spot yang difoto untuk album Led Zeppelin tersebut. Bapak tua itu tersenyum lebar dan menjelaskan bahwa cover album Led Zeppelin itu mengambil foto di beberapa titik dan kemudian di montase menjadi satu foto.

Setelah puas berkeliling di Giant’s Causeway Bay, siangnya, saya melanjutkan perjalanan menuju Belfast, ibukota Irlandia Utara. Ribuan langkah melewati jalanan kota membawa saya ke kawasan Cathedral Quarter, distrik kreatif penuh mural warna-warni, kafe indie, dan bar dengan suasana hangat. Dinding berhiaskan seni jalanan, pertunjukan musik live kecil, serta barikade batu abad pertengahan menciptakan atmosfer artistik yang lain daripada yang lain.

Tak jauh dari situ, berdiri megah Belfast City Hall, bangunan berbentuk neo-baroque yang elegan, yang dibuka pada 1906. Kubahnya berkilau, fasad marmernya bersinar. Di dalamnya, ruangan-ruangan cantik seperti Grand Staircase dan Rotunda Hall membuat takjub siapapun yang masuk. Sebuah pilar sejarah kota yang menjadi saksi bisu transformasi Belfast dari kota pelabuhan industri ke pusat pemerintahan modern.

Saya menutup eksplorasi kota Belfast dengan menyusuri St. George’s Market, pasar tertua Belfast yang dibangun pada 1890. Di sini, saya melihat kedai menjajakan makanan lokal, kerajinan tangan seniman Irlandia, dan merasakan interaksi dengan penjual dalam suasana hangat.

Setelah malam semakin larut, saya mengambil mobil di parkiran dan mengantar si merah MG 2 kembali ke counter Budget di bandara Belfast. Saat saya mengembalikan mobil, ODO tercatat 584 miles. Artinya selama 2 hari menjelajahi Irlandia, saya menempuh jarak 776 Km.

Sungguh tidak terasa melelahkan, meskipun jaraknya jauh. Perjalanan yang lancar tanpa macet, infrastruktur jalan yang mulus membuat jarak tersebut dapat diselesaikan dengan mudah. Saya kemuduan menuju counter Ryanair untuk penerbangan jam 1 pagi ke London Stansted. Malam itu, sembari menunggu gate keberangkatan dibuka, saya menatap langit gelap di balik kaca bandara dan mengingat sederet petualangan yang baru saja usai, dua hari di Irlandia yang penuh dengan cerita, kaya sejarah, dan kenangan abadi.

2 Comments Add yours

  1. avatar Avant Garde Avant Garde berkata:

    Tertarik pergi ke Irlandia karena series Game of Thrones

    Suka

    1. saya malah kemarin nggak sempat mengunjungi situs2 GoT.. infonya di Croatia juga banyak ya lokasi GoT

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke Avant Garde Batalkan balasan