
Hari ini adalah puncak dari perjalanan kami di Kenya! 26 Januari 2025, pukul 05.00 pagi, kami dijemput tour operator untuk menuju Masai Mara National Reserve, salah satu taman nasional paling terkenal di Afrika. Dalam berbagai publikasi, Masai Mara sering dinobatkan sebagai taman nasional terbaik untuk melihat “The Big 5”, yaitu Singa, Badak, Macan Tutul (Leopard), Kerbau Liar (Buffalo) dan Gajah. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Nairobi, kami berhenti sejenak untuk sarapan di Narok Town pada pukul 08.00. Kami melanjutkan perjalanan dan sekitar pukul 10.00, akhirnya kami tiba di pintu gerbang Sekenani, Masai Mara dan memulai game drive safari. Setelah membayar tiket masuk taman nasional, guide kami membuka atap jeep yang kami tumpangi, agar dapat melihat pemandangan dan hewan secara lebih terbuka. Kamipun memulai petualangan jeep safari di taman nasional Masai Mara.


Tak jauh dari pintu gerbang, kami melewati beberapa buffalo yang sedang merumput, permulaan yang baik, 1 dari hewan Big 5 telah kami temui. Selanjutnya guide kami berkomunikasi melalui radio dengan sesama tour guide, untuk mencari lokasi-lokasi hewan di taman nasional seluas 1.500 km persegi ini. Dalam safari ini, selanjutnya kami melihat kawanan babi hutan (warthog) dan kemudian bertemu sekawanan gajah, jerapah, burung unta, cheetah, dan leopard (macan tutul) yang bersantai diatas pohon ditengah padang rumput.


Taman Nasional Masai Mara adalah salah satu taman nasional yang paling terkenal dan paling banyak dikunjungi di Kenya, yang terletak di bagian selatan negara ini, berbatasan dengan taman nasional Serengeti, Tanzania. Taman ini terkenal di seluruh dunia karena keindahan alamnya yang luar biasa, serta merupakan rumah bagi migrasi Hewan Besar (Great Migration), yang dianggap sebagai salah satu fenomena alam paling spektakuler di dunia. Hewan-hewan di taman nasional Masai Mara ini berpindah-pindah dengan hewan di taman nasional Serengeti, tergantung musim migrasinya. Nama “Masai Mara” berasal dari nama suku Maasai dan kata “Mara”, yang berarti “bercorak” atau “bergaris” dalam bahasa Maasai, merujuk pada padang rumput yang berbintik-bintik.


Sekitar jam 12.30 siang, kami mencari tempat untuk makan siang. Guide kami kemudian mengajak kami berhenti dibawah satu pohon di tengah lapangan untuk menggelar tikar dan makan siang ala piknik. Semula kami ragu dan agak takut keluar dari jeep dan makan di alam terbuka, namun guide kami meyakinkan bahwa lokasi tersebut aman, karena ditengah lapangan luas, sehingga hewan-hewan besar tidak bisa bersembunyi. Kami makan siang dengan bekal yang sudah dibawa, menunya ayam goreng dengan kentang goreng. Meskipun sederhana, nikmat sekali rasanya makan siang di tengah taman nasional ini. Saat kami makan beberapa burung-burung kecil datang menghampiri untuk meminta makanan.


Selesai makan siang, kami melanjutkan safari untuk mencari hewan lain. Kami menemukan warthog dan kemudian sepasang Hyena yang sedang berjalan di tengah savanna. Dalam berbagai film dokumenter alam liar yang pernah saya tonton, biasanya kalau ada Hyena, didekat situ ada kawanan Singa.


Benar saja, tak lama guide kami memacu jeep menuju satu lokasi. Dari jarak sekitar 200 meter, kami melihat ada seekor singa betina yang sedang merunduk di semak-semak. Singa itu sedang mengintai sekawanan antilop yang sedang merumput disana. Setelah diperhatikan lagi, ternyata singa betina itu tidak sendirian, ada dua ekor singa lain yang terlihat sedang mengintai kawanan antilop.


Tak lama, singa betina yang paling depan berlari berusaha menerkam antilop, namun kawanan antilop ini sudah merasakan kehadiran singa, dengan gesit mereka berlari dengan cepat meninggalkan kawanan singa yang terlihat kecewa tak berhasil mendapatkan buruan. Tak lama, ketiga sing tadi bergabung dan menyebrang melewati jeep kami. Mungkin mereka mencari hewan buruan di tempat lain.



Menjelang sore, 4 dari 5 hewan big 5 telah kami temui, Buffalo, Gajah, Macan Tutul dan Singa. Sayang kami tidak melihat Badak, menurut guide kami, Badak memang paling sulit dicari, mengingat banyak pencuri cula badak (poacher) yang memburu badak secara ilegal, sehingga populasinya makin sedikit.

Sore hari pukul 16.00, kami meninggalkan taman nasional Masai Mara, tour guide kami menawarkan apakah kami ingin berkunjung ke desa suku Maasai di dekat Sekenani Gate. Kunjungan ini merupakan tour opsional diluar safari. Dengan antusias kami menyambut tawaran tersebut. Sekitar 10 menit dari Taman Nasional Masai Mara, kami tiba di desa Masai. Di sini, kami disambut dengan tarian tradisional Maasai, yang dikenal dengan lompatannya yang tinggi. Putra kepala suku memberikan kami kesempatan berfoto dengan topi kepala singa asli, yang dulunya dibunuh oleh ayahnya, kepala suku disana. Kemudian kami diajak menari bersama warga suku Maasai, saya dan Rizki mencoba ikut melompat seperti warga sana, namun tidak mampu melompat setinggi mereka. Kami juga mendapat kesempatan melihat rumah-rumah mereka yang dibuat dari lumpur dan kotoran kerbau, rumah ini disebut Enkaji. Kami juga belajar bagaimana mereka membuat api hanya dengan menggunakan tongkat kayu. Pengalaman yang sungguh autentik dan membuka wawasan saya tentang kehidupan suku Maasai.

Desa ini terdiri dari 14 rumah yang membentuk formasi lingkaran. Setiap rumah dihuni oleh satu istri kepala suku dan anak-anaknya. Kepala suku disana memiliki 14 istri dan sekitar 90 anak. Suku Maasai adalah kelompok etnis yang tersebar di Kenya dan Tanzania, dikenal dengan gaya hidup tradisional mereka yang berpadu dengan alam dan kepercayaan adat yang kuat. Mereka merupakan penggembala ternak, terutama sapi, dan kehidupan mereka sangat bergantung pada hubungan harmonis dengan alam sekitar. Suku Maasai terkenal karena keterampilan mereka dalam berburu, merawat ternak, serta membuat barang-barang kerajinan tangan, seperti tas, perhiasan, dan senjata.


Salah satu hal yang sering dicari oleh wisatawan yang mengunjungi desa Maasai adalah kerajinan tangan yang cantik. Masyarakat Maasai sangat terkenal dengan keterampilan membuat perhiasan manik-manik yang rumit dan penuh warna, serta tas kulit dan senjata tradisional seperti tombak dan pedang. Banyak pengunjung yang membeli souvenir ini sebagai kenang-kenangan dari kunjungan mereka ke desa Maasai. Perhiasan Maasai, memiliki simbolisme yang mendalam dalam budaya mereka. Setiap warna dan desain memiliki makna khusus, terkait dengan status sosial, usia, atau peran tertentu dalam suku.

Desa Maasai adalah tempat yang ideal bagi siapa saja yang ingin belajar lebih dalam tentang kehidupan salah satu suku paling ikonik di Kenya. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati pengalaman budaya yang otentik tetapi juga merasakan keterhubungan yang kuat antara manusia dan alam di kawasan yang luar biasa indah ini. Kunjungan ke desa ini memberikan wawasan tentang cara hidup tradisional yang masih dijaga oleh masyarakat Maasai di tengah tantangan zaman modern. Sekitar jam 17.00 kami meninggalkan desa Maasai untuk kembali ke Nairobi. Perjalanan selama 3,5 jam terasa panjang karena hari mulai gelap. Akhirnya sekitar pukul 20.30, kami tiba kembali di hotel dengan rasa takjub akan keindahan alam dan budaya Kenya.