Suatu hal luarbiasa masih kuatnya persahabatan kami semenjak di bangku SMP hampir 50 tahun grup yang kami sebut “genk halan-halan” sering melakukan perjalanan wisata bersama. Kali ini di bulan Juni 2024 lalu kami menapaki jalur wisata rohani mengunjungi beberapa masjid tertua dan tua di Jakarta.

Jalan bareng dimulai dari kumpulnya “genk halan-halan” di halte bis Bundaran HI lanjut menaiki bis arah Setasiun Kota dan berhenti di halte bis seberang “Toko Merah” di jalan Kali Besar Barat dari sini wisata sejarah dimulai. Toko Merah merupakan bangunan yang dibangun pada abad ke 18 ciri khas berwarna merah bekas kediaman Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff dengan arsitektur bergaya Baroque. Bangunan ini juga perpaduan gaya klasik Eropa dan Cina. Salah satu keunikan lainnya adalah tangga kayu hitam bergaya Baroque yang merupakan satu satunya di Jakarta. Sebelum Perang Dunia 2, bangunan ini menjadi kantor Bank Voor Indie saat ini Anda dapat menyeruput kopi di kedai lantai 2 sambil memandangi ramainya lalu lalang orang di pinggir kali, ah suatu suasana yang indah dan damai.


Kami berjalan melalui Museum Jakarta atau Museum Fatahillah, bangunan Neoklasik itu ternyata “kembaran” istana Dam di Amsterdam Belanda. Bangunan dahulunya digunakan sebagai Balai Kota Batavia dibangun tahun 1707-1712 kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah pada 30 Maret 1974. Menyusuri trotoar sepanjang museum ke arah Selatan sampai dimuseum Mandiri. Kami memasuki Museum Mandiri langsung menuju lantai 2 menikmati keindahan lukisan lima bilah kaca patri yang menggambarkan empat musim di Belanda, selain itu juga menggambarkan Nakhoda Cornelis de Houtman sebagai orang Belanda pertama yang berkunjung ke Nusantara.

Melewati Pasar Pagi daerah yang banyak dihuni etnis Tionghoa karena dianggap bagian tubuh Shiao Dragon, kaki mengarah melewati kali kecil sebagai batas benteng di masa lalu. Kampung Arab berada di luar benteng sebagai perkampungan warga kelas dua. Memasuki wilayah Pekojan. Menyeberangi kali tersebut di atas, kami memasuki gang sempit padat penduduk untuk sampai di masjid yang boleh dibilang tertua kedua di kota Jakarta (1648).

Masjid pertama telah dihancurkan oleh tentara VOC dalam serangan menggempur kota Jakarta di tahun1619. Masjid itu bernama Al-Anshor dikenal dengan sebutan “Moorshe Temple”, masjidnya orang Moor. Temple yang dimaksud disini adalah masjid. Moor merupakan sebutan untuk orang beragama Islam dari Gujarat, Hejaz, dan Bengali, India dan saat kami berkunjung masih dapat dijumpai orang berwajah India. Tak banyak peninggalan sejarah yang tersisa dari masjid ini hanya tersisa balok kayu jati dibagian langit-langit masjid yang menjadi penghubung empat tiang penyangga berupa kayu jati. Setelah termakan usia penyangga kayu jati diganti dengan beton.

Selanjutnya kami akan berkunjung ke tiga masjid lainnya di kawasan Pekojan, yaitu : masjid Azzawiyah, masjid An-Nawier dan masjid Langgar Tinggi, yang posisinya persis di pinggir kali. Tak jauh dari masjid Al-Anshor terdapat warung nasi uduk legendaris bu Amah, hari itu warung tutup karena sedang ada perbaikan saluran air tepat depan warung. Konon bu Amah hanya menyediakan 150 porsi per harinya dan untuk mendapatkannya kita harus memesannya terlebih dahulu. Begitu juga dengan Elisa Bakery di Pejagalan 3 yang juga merupakan toko roti legendaris, untuk mendapatkan roti harus dilakukan pemesan terlebih dahulu. Sebelum sampai masjid Jami An-Nawier, ada masjid Azzawiyah yang dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alattas pada tahun 1812. Habib berasal dari Hadramaut Yaman beliau dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional. Di masjid ini terdapat sumur yang airnya diyakini menyembuhkan penyakit.

Masjid An-Nawier dianggap sebagai simbol peradaban Arab di Jakarta. Nama lain dari masjid ini adalah masjid Pekojan. Pekojan diambil dari kata “khoja atau kaja” yakni daerah di India yang penduduknya beragama Islam dan sebagian besar bekerja sebagai pedagang. Masjid dibangun oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus pada 1760 di atas lahan seluas 500 meterpersegi. Arsitekturnya klasik dengan ciri khas Menara yang menjulang tinggi, masjid disangga 33 pilar sesuai jumlah tasbih. Pintu masjid dibuat lima buah yang mensimbolkan rukun Islam. Di waktu lampau, masjid An-Nawier kerap dikunjungi ulama-ulama besar. Mungkin karena dulu, masjid ini tergolong masjid besar yang terletak di daerah perkotaan yang strategis.Sebagai rumah ibadah, masjid ini bahkan merupakan bangunan masjid terbaik pada masanya. Pada bagian depan masjid yang terletak di seberang sebuah jembatan yang dulunya diberi nama Jembatan Kambing. Sesuai namanya, semula jembatan tersebut difungsikan sebagai tempat lalu lalang pedagang kambing.

Masjid Langgar Tinggi (1829) menjadi destinasi terakhir. Langgar Tinggi tepat berada di tepi kali Angke dengan area tempat sholat berada di bagian atas, bagian bawah bangunan lawas itu ada toko minyak wangi. Berdiri di lantai atas masjid kami rasakan udara yang sejuk bikin hati tentram seraya membayangkan umat Islam masa lalu datang dengan kapal kecilnya merapat ke tepi masjid. Masjid dibangun oleh seorang saudagar asal Yaman dengan bentuk panggung, bagian atas dijadikan langgar, sementara bagian bawah digunakan sebagai tempat penginapan. Mimbar Khutbah kayu berusia ratusan tahun menjadi salah satu benda unik yang merupakan pemberian Sultan Pontianak dan masih digunakan hingga kini. Keberadaan keempat masjid telah menjadi saksi sejarah bagi gencarnya syiar Islam tempo dulu di Nusantara.

Naskah dan foto : Lutfi Djoko D (lutfidjoko@gmail.com)