Sore itu, menjelang maghrib, mobil yang saya tumpangi berhenti di simpang empat Pasar Cipete, Jakarta Selatan. Lampu merah menyala, jalanan masih riuh, tapi waktu seolah melambat. Di tengah jeda itu, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sebuah mural di sudut dinding-gambar kusir delman, karya siswa SMAN 6 Bulungan Jakarta. Seketika, ada rasa “klik”. Bukan Cuma karena gambarnya menarik, tapi karena sekolah itu adalah tempat saya pernah bertumbuh, jatuh-bangun, dan belajar menjadi diri sendiri.

Saya jadi terpaku. Dari satu mural sederhana itu, ingatan saya seperti membuka tab-tab lama yang lama tak disentuh. Mural demi mural yang pernah saya lihat bermunculan-dari yang klasik, berumur ratusan tahun, sampai yang kekinian. Ternyata, mural selalu punya cara unik untuk “menyapa”.
Secara sederhana, mural adalah seni melukis di atas dinding atau permukaan permanen. Tapi dalam praktiknya, mural jauh dari kata sederhana. Ia adalah kombinasi antara ruang, pesan, dan ekspresi. Biasanya hadir di ruang publik-menghadap jalan, dilihat banyak orang, dan seringkali tanpa tiket masuk. Gratis, tapi penuh makna.

Beberapa mural bahkan bukan sekedar indah, tapi juga monumental contohnya peta keramik Delft-keramieken kaart van Delft. Peta ini dibuat berdasarkan karya abad ke-17 oleh Frederick de Wit, disusun selama dua tahun, dan diresmikan pada Agustus 2020. Ukurannya sekitar 18 meter persegi-besar, detil, dan memadukan seni dengan sejarah dalam satu bidang datar.

Berbicara tentang Delft, kita juga tak bisa lepas dari delftware-keramik khas Belanda dengan warna biru kobalt di atas latar putih. Motifnya klasik : kincir angin, kapal nelayan, Bunga tulip, hingga adegan dalam Alkitab. Yang menarik, jejaknya juga ada di Jakarta. Keramik bermotif Alkitab masih bisa ditemukan di Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada-bangunan bersejarah yang dulu menjadi rumah Gubernur Jenderal Reinier de Klerk. Seni yang melintasi benua dan abad.

Lalu, kalau bicara mural kelas dunia, sulit untuk tidak menyebut “The Last Supper” karya Leonardo da Vinci di Milan. Lukisan dinding abad ke-15 ini bukan hanya ikonik, tapi juga penuh emosi dan detail. Saya sendiri beruntung pernah melihat versi reproduksi digitalnya di Museum Bank Mandiri-dan meskipun bukan yang asli, tetap terasa magis.

Ada juga “The Creation of Adam” karya Michelangelo di langit-langit Kapel Sistina, Vatikan. Dua telunjuk yang hampir bersentuhan-Tuhan dan manusia-menjadi salah satu gambar paling terkenal sepanjang masa. Simpel, tapi sangat kuat (powerful). Seperti satu frame yang merangkum makna kehidupan.

Masuk ke era modern, mural berubah jadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ernest Zacharevic, seniman asal Lithuania, membawa seni mural ke jalanan kota Penang, Malaysia. Salah satu karyanya “Anak-anak kecil di atas sepeda”, terasa hidup, hangat, dan relevan. Bahkan, mural-mural di Penang sempat dinobatkan sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Di Albania, Fasad dari Museum Sejarah Nasional Albania dihiasi mural mosaik raksasa berjudul “Bangsa Albania” (40x11m), menggambarkan tokoh-tokoh dari masa kuno hingga modern dalam sejarah Albania. Karya ini merupakan hasil karya 5 seniman Albania. Mosaik menggambarkan 13 orang yang mewakili berbagai fase sejarah Albania. Ibu Albania digambarkan sebagai seorang wanita muda dengan pakaian tradisional dan senapan sebagai tokoh sentral dalam komposisi tersebut.

Kembali pada mural Cipete, saya menyadari bahwa karya sederhana di sudut jalan itu memiliki kekuatan yang sama : menghubungkan masa lalu, menghadirkan keindahan, dan menyampaikan cerita. Mural bukan sekedar lukisan dinding-ia adalah jejak peradaban, cermin kehidupan, dan bahasa universal yang dapat dipahami oleh siapa saja yang bersedia berhenti sejenak untuk melihatnya.
Naskah & Foto : Lutfi Djoko D, lutfidjoko@gmail.com