I Come From A Land Down Under

Road trip Australia kali ini terasa seperti mimpi yang dirangkai rapi selama seminggu penuh, dimulai pada pagi musim panas tanggal 21 Desember 2025 ketika pesawat kami mendarat di Sydney Airport tepat pukul 07.00. Udara pagi Sydney terasa segar, kontras dengan rasa lelah setelah penerbangan panjang.

Ritual wajib langsung dimulai: sarapan cepat di McDonald’s bandara—menu simpel tapi terasa spesial karena menjadi gigitan pertama di Australia. Setelah itu kami mengambil mobil rental di Europcar, sebuah Toyota Camry putih yang nantinya menjadi “rumah berjalan” selama ribuan kilometer perjalanan.


Perjalanan pertama menuju Ibis Styles Sydney Central sekaligus menjadi momen adaptasi dengan lalu lintas khas Australia yang tertib luar biasa. Tak lama setelah check-in, teman lama Des Purwa menjemput kami untuk memulai eksplorasi pesisir selatan Sydney. Destinasi pertama adalah Stanwell Park, kawasan tepi tebing dengan panorama Samudra Pasifik yang dramatis. Dari sana perjalanan berlanjut ke Wollongong Beach yang terkenal dengan pasir putihnya serta budaya surfing yang santai khas kota pantai.


Tak jauh dari sana, kami mengunjungi Kiama Blowhole, salah satu blowhole terbesar di dunia yang terbentuk dari aktivitas vulkanik jutaan tahun lalu. Setiap semburan air laut yang menghantam celah batu kapur memancing sorak pengunjung. Makan siang terasa sempurna di Levendi dengan fish and chips renyah ditemani angin laut. Malamnya kembali ke Sydney untuk makan malam elegan di Meta, menutup hari pertama dengan suasana kota besar yang hidup.


Tanggal 22 Desember diisi perjalanan menuju Blue Mountains National Park, kawasan warisan dunia UNESCO yang terkenal dengan kabut kebiruan dari minyak eukaliptus di udara. Trek ringan menuju Wentworth Falls menghadirkan pemandangan air terjun bertingkat yang spektakuler. Sore harinya kami kembali ke pesisir menuju Bondi Beach, ikon gaya hidup santai Australia, lalu berhenti di The Gap Lookout yang memperlihatkan tebing batu pasir curam menghadap lautan lepas.


Malam di Sydney terasa magis ketika kami berjalan kaki mengelilingi pusat kota, dari Sydney Tower hingga Sydney Harbour Bridge yang sejak 1932 menjadi simbol rekayasa teknik Australia. Langkah akhirnya berhenti di depan Sydney Opera House, mahakarya arsitek Jørn Utzon yang bentuknya terinspirasi layar kapal. Malam ditutup dengan taksi menuju Chinatown untuk menikmati bubur hangat dan nasi goreng ketan—comfort food Asia di negeri seberang.


Hari ketiga dimulai di Wild Life Sydney Zoo, tempat terbaik melihat fauna khas Australia tanpa harus masuk pedalaman. Foto bersama koala menjadi highlight, karena hewan ini tidur hingga 20 jam sehari akibat diet daun eukaliptus yang rendah energi. Setelah itu kami berjalan santai di Royal Botanic Garden Sydney menuju Mrs Macquarie’s Chair, bangku batu tahun 1810 yang menawarkan salah satu sudut foto paling ikonik dengan latar pelabuhan Sydney.


Malamnya kami mengunjungi Queen Victoria Building, gedung bergaya Romanesque Revival dari tahun 1898 yang dulunya hampir dihancurkan sebelum akhirnya direstorasi menjadi pusat perbelanjaan elegan. Makan malam di Hungry Jack’s—versi Australia dari Burger King—menjadi pengalaman unik karena nama berbeda ini muncul akibat konflik merek dagang saat franchise pertama dibuka di Perth pada 1970-an.


Tanggal 24 Desember kami checkout dan menuju Paddy’s Markets Haymarket, pasar legendaris sejak abad ke-19 yang awalnya merupakan pasar hasil tani. Setelah berburu souvenir, makan siang autentik Thailand di Thai Huamoom sebelum perjalanan panjang menuju Canberra. Setibanya di ibu kota Australia, kami bertemu Firman dan Aco makan malam di Via Dolce yang hangat dan penuh suasana Natal.


Canberra ternyata jauh lebih menarik dari ekspektasi. Dari puncak Mount Ainslie Lookout terlihat tata kota simetris rancangan arsitek Walter Burley Griffin. Kami juga singgah di Weston Park, National Carillon yang memiliki 55 lonceng raksasa, serta Parliament House Canberra dengan tiang bendera setinggi 81 meter. Malamnya check-in di Ibis Styles Canberra untuk beristirahat sebelum perjalanan panjang berikutnya.


Hari Natal, 25 Desember, menjadi etape terpanjang menuju Melbourne melalui jalur pegunungan yang sunyi namun indah. Berhenti makan siang di kota kecil Traralgon memberi gambaran kehidupan regional Australia yang tenang. Setibanya di Melbourne kami check-in di Ibis Melbourne Glen Waverley lalu naik metro menuju pusat kota. Federation Square menyambut dengan pohon Natal raksasa, diikuti kunjungan ke Melbourne Arts Centre Spire, St Paul’s Cathedral Melbourne, dan National Gallery of Victoria yang merupakan museum seni tertua di Australia.


Tanggal 26 Desember diisi eksplorasi pesisir Melbourne. St Kilda Beach menghadirkan suasana santai dengan dermaga klasik, sementara Brighton Beach Bathing Boxes terkenal dengan deretan pondok warna-warni yang sudah ada sejak abad ke-19. Kami mampir ke Monash University (Uni Ras) untuk makan siang sebelum lanjut ke Royal Botanic Gardens Victoria dan Shrine of Remembrance, monumen penghormatan bagi tentara Australia. Hari ditutup dengan makan malam pho hangat di pusat kota.


Tanggal 27 Desember diawali sarapan dimsum di Hong Kong Dim Sim Glen Waverley sebelum berburu oleh-oleh di Queen Victoria Market, pasar terbuka terbesar di belahan bumi selatan yang berdiri sejak 1878. Tepat pukul 13.00 kami memulai perjalanan epik kembali ke Sydney sejauh lebih dari 800 km melalui highway utama Australia—jalanan panjang lurus yang terasa meditatif, ditemani langit luas dan radio mobil sepanjang perjalanan malam hingga check-in di Ibis Budget St Peters dekat bandara, lalu makan malam sederhana di KFC.


Keesokan paginya, 28 Desember, perjalanan resmi berakhir. Mobil rental dikembalikan di Sydney Airport dengan total odometer sekitar 2.300 km—angka yang terasa seperti ringkasan petualangan kami. Setelah check-in di counter Qantas dan melewati imigrasi, pesawat lepas landas pukul 14.00 meninggalkan Australia. Road trip ini bukan sekadar perjalanan antar kota, tapi rangkaian cerita tentang pantai, kota modern, alam liar, makanan lintas budaya, dan persahabatan—jenis perjalanan yang selalu membuat kita ingin kembali lagi ke jalan raya.

Tinggalkan komentar