Awal Januari 2026, menjelang malam kendaraan kami berhenti tepat di muka Palacio da Bolsa di pusat bersejarah kota Porto, Porto kota terbesar kedua setelah ibukota Lisbon. Udara musim dingin menyergap, sementara di seberang jalan terbentang Jardim do Infante Dom Henrique, taman kecil yang menghadap Sungai Douro. Di sana berdiri monumen Infante Dom Henrique, sosok yang dikenal sebagai “Bapak Navigator”.

Saya berdiri beberapa menit dihadapannya. Bukan sekedar menikmati lanskap kota tua, melainkan mencoba membayangkan bagaimana dari tiiti-titik seperti inilah sejarah global pernah digerakkan. Dari Pelabuhan-pelabuhan Portugal, armada bangsa ini berlayar mengikuti angin musim, menembus Atlantik, mengitari Afrika, lalu masuk ke Samudra Hindia-menuju Asia Tenggara.

Pikiran saya melompat ribuan kilometer ke timur, ke Malaka dan Sunda Kelapa di pesisir Jawa. Secara geografis, Malaka dan Sunda Kelapa berada di simpul Samudra Hindia dan Pasifik. Pada masa Ketika navigasi sepenuhnya bergantung pada arah angin, kedua Pelabuhan ini menjadi titik temu alami para pedagang Arab, India, Tiongkok, dan Eropa. Rempah, sutra, dan keramik berpindah tangan-bersamaan dengan bahasa, kepercayaan, dan cara hidup.

Tahun 1511, Portugis menaklukkan Malaka demi menguasai jalur perdagangan paling strategis di Asia Tenggara. Sebelas tahun kemudian mereka tiba di Sunda Kelapa, membawa ambisi besar untuk menemukan pusat rempah dan menghubungkan Asia dengan pasar dunia. Namun sejarah tidak selalu berpihak pada penjelajah.
Di Malaka, kejatuhan kesultanan membuka jalan bagi dominasi Portugis. Sebaliknya, di Sunda Kelapa, pengingkaran perjanjian justru memicu perlawanan. Pelabuhan itu akhirnya direbut Kesultanan Banten dan berganti nama menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527.

Abad berikutnya menghadirkan pemain baru : Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah kongsi dagang Belanda. Pada 1619, Jayakarta jatuh ke tangan VOC dan dinamai Batavia. Tahun 1641 , Malaka pun direbut dari Portugis. Dari sini, jejak Portugis mulai memudar, digantikan kolonialisme Belanda yang lebih sistematis.
VOC tidak sekedar berdagang, mereka membangun kota. Imaji Eropa ditanamkan di tanah tropis melalui, kanal, benteng, gereja dan balai kota, ruang-ruang simbolik kekuasaan kolonial.
Balai Kota Batavia-kini Museum Fatahillah-dibangun pada 1707 dengan fasad putih khas Belanda. Di tempat inilah saya teringat bahwa sejarah bukan hanya soal bangunan megah, tetapi juga manusia. Gedung ini pernah menjadi lokasi penahanan Untung Surapati dan Pangeran Diponegoro-sebuah ironi ketika pusat administrasi kolonial berubah menjadi ruang penderitaan pejuang lokal.
Di Malaka, Stadthuys dibangun pada 1888. Warna merahnya berasal dari masa Inggris, sementara sebelumnya bangunan ini merupakan kediaman penguasa Portugis. Satu gedung menyimpan tiga lapisan kolonial: Portugis, Belanda, dan Inggris.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa samudra bukan sekedar pemisah benua, melainkan penghubung sejarah. Dari monumen navigator di Porto hingga stadhuis Batavia dan Malaka, tersusun garis panjang tentang pelayaran, rempah, ambisi global, dan perlawanan lokal. Berdiri di hadapan bangunan-bangunan itu, saya menyadari bahwa Nusantara bukan sekedar persinggahan dalam peta dunia-melainkan panggung penting tempat sejarah global pernah dipertaruhkan.
Naskah : Lutfi Djoko D, lutfidjoko@gmail.com
Foto : Lutfi Djoko D