For Those About To Rock.. We Salute You!

Berawal dari obrolan saya dan Bayu di aplikasi Whatsapp, Bayu yang tinggal di Brisbane membantu saya mencarikan tiket konser AC/DC di Suncorp Stadium, Brisbane, untuk show tanggal 18 Desember 2025. Show ini adalah konser terakhir AC/DC di Australia dalam rangkaian PWR/UP tour 2025. Menonton konser AC/DC sudah lama saya impikan, sayangnya mereka tak pernah mampir ke Indonesia. Bahkan tour terakhir mereka di Australia pun sudah 15 tahun lalu, pada tahun 2010. Karenanya, saat AC/DC mengumumkan homecoming tour mereka di Australia pada akhir tahun 2025, saya mengontak sahabat saya Bayu, yang kebetulan juga tertarik nonton legenda rock Australia ini.

Saya janjian ketemu dengan Bayu di depan stasiun kereta Milton, jam 14.30. Setelah bertemu Bayu, kami jalan kaki sekitar 300 meter menuju Suncorp Stadium. Udara Brisbane sore itu hangat, tapi atmosfernya terasa electric—ribuan orang memakai kaos hitam AC/DC, bando tanduk merah menyala berkedip di kepala mereka. Saya dan Bayu saling pandang sambil ketawa kecil; rasanya surreal akhirnya benar-benar nonton AC/DC, bukan cuma dari DVD atau YouTube.


Hal pertama yang kami lakukan tentu saja berburu official merchandise. Booth merch penuh sesak, antrian panjang mengular—di dinding merchandise booth terpajang beragam disain kaos Power Up Tour, hoodie hitam dengan logo petir merah, sampai topi klasik Angus Young. Saya akhirnya membeli kaos tur edisi Brisbane, sementara Bayu memilih topi AD/DC dengan logo vintage. Harga merchandise jelas “stadium price”, tapi malam itu rasanya semua worth it. Saat kami mengantri merchandise, band pembuka pertama, Headsend, terdengar memulai penampilan mereka, menghangatkan suasana stadium.

Kelar belanja merchandise, kami bergegas masuk stadium. Setelah melewati pemeriksaan e-ticket, kami beli makan malam dulu untuk suplai energi. Selesai makan, saya dan Bayu memasuki area festival, kami dapat posisi sekitar 20 meter dari panggung, cukup dekat untuk menikmati konser.

Setelah jeda singkat, giliran band pembuka kedua, Amyl & The Sniffers mengambil alih panggung. Amy Taylor muncul seperti badai kecil—liar, karismatik, dan tanpa filter. Set mereka cepat, kasar, dan penuh attitude punk. Stadion mulai benar-benar hidup; bahkan penonton yang awalnya duduk ikut berdiri. Dari titik itu terasa jelas: malam ini bukan sekadar konser nostalgia, tapi perayaan rock Australia lintas generasi. Meski saya belum pernah mendengar musik Amyl & The Sniffers sebelumnya, penampilan  yang enerjik membuat saya mengangguk-angguk mengikuti hentakan musik mereka.

Lampu stadion akhirnya padam total sekitar pukul delapan malam. Intro industrial mengalun, layar menampilkan animasi mesin raksasa, dan ketika riff pembuka “If You Want Blood (You’ve Got It)” menghantam udara, AC/DC muncul tanpa basa-basi. Line-up tur ini menampilkan Brian Johnson di vokal, Angus Young pada lead guitar, Stevie Young di rhythm guitar, Chris Chaney pada bass, dan Matt Laug di drum—formasi yang menjaga identitas klasik band tetap utuh sekaligus stabil secara musikal.


Brian Johnson tampil sederhana: flat cap abu-abu, vest hitam, dan jeans—tanpa pretensi, hanya suara serak legendaris yang langsung memimpin stadion. Sebaliknya, Angus Young tetap setia pada ikonografinya: seragam sekolah celana pendek lengkap dengan blazer gelap, dasi merah, topi dengan huruf A, dan sepatu putih. Di festival area, setiap gerakan kecil Angus terasa dekat; setiap duck walk memicu gelombang sorakan yang bergerak seperti domino di antara penonton.


Setlist malam itu hampir tanpa jeda emosi: “Back in Black,” “Thunderstruck,” “Shot Down in Flames,” hingga “Hells Bells” dimainkan dengan presisi brutal. Saat lonceng raksasa turun untuk “Hells Bells,” getaran bass terasa langsung di dada—keuntungan utama berada di area standing. Tidak ada jarak antara musik dan tubuh; suara menjadi pengalaman fisik.


Bagian tengah konser menunjukkan kekuatan utama AC/DC: konsistensi riff. “Highway to Hell,” “Dirty Deeds Done Dirt Cheap,” dan “You Shook Me All Night Long” berubah menjadi karaoke stadion berskala puluhan ribu orang. Dari posisi festival, suara crowd sering kali sama kerasnya dengan sistem PA, menciptakan sensasi kolektif yang jarang tercapai bahkan oleh band stadion lain.


Klimaks artistik datang saat “Let There Be Rock.” Lagu ini berkembang menjadi panggung pribadi Angus Young. Solo gitar panjangnya terasa nyaris absurd dalam durasi—belasan menit eksplorasi blues-rock yang liar namun terkendali. Ia berlari menyusuri catwalk, rebahan di panggung, berputar sambil terus memainkan riff tanpa kehilangan presisi. Diujung solo gitarnya, Angus naik ke tengah platform bulat yang perlahan naik tinggi, menjulang ditengah panggung. Kamera layar raksasa menangkap ekspresinya yang setengah nakal, setengah transendental.


Encore dimulai dengan “T.N.T.,” memicu lompatan massal di festival pit. Namun puncak emosional hadir pada “For Those About to Rock (We Salute You).” Meriam panggung ditembakkan sinkron dengan musik, diikuti hujan confetti merah-emas dan kembang api yang menerangi langit Brisbane. Dari bawah, serpihan confetti jatuh seperti salju rock ‘n’ roll—momen teatrikal yang terasa besar namun tidak pernah terasa berlebihan.

Ketika lampu menyala kembali, festival area berubah menjadi kumpulan wajah lelah namun puas. AC/DC tidak mencoba menjadi band modern atau relevan secara trend; mereka hanya menjadi versi paling murni dari diri mereka sendiri. Dan justru di situlah kekuatannya. Di usia lebih dari lima dekade, mereka masih terdengar seperti mesin rock paling sederhana sekaligus paling efektif di dunia—keras, langsung, dan sepenuhnya hidup.

Tinggalkan komentar