Menjadi Saksi Konser Terakhir Ozzy dan Black Sabbath

Pagi 5 Juli 2025, udara Birmingham terasa berbeda, meski cuaca sedikit mendung, suasana kota terasa lebih hangat, seolah-olah kota ini sadar bahwa hari tersebut adalah hari terakhir bagi sebuah legenda metal yang pulang ke rumah. Setelah sarapan bersama sahabat saya Indra yang tinggal di Birmingham, saya bergegas menuju Villa Park stadium. Tiba disana sekitar pukul 12 siang, antrean sudah mengular di luar Villa Park, Birmingham. Ribuan orang dari berbagai generasi rock dan metal memenuhi area stadion, mereka semua memahami bahwa malam 5 Juli 2025 bukan sekadar konser metal—ini adalah perpisahan terakhir Ozzy Osbourne dan penampilan final Black Sabbath di kota tempat semuanya dimulai. Konser ini diumumkan pada Februari 2025 dan langsung mencetak rekor, tiket seharga mulai dari £95 hingga paket “VIP Royal Box” seharga £2.000 terjual habis dalam 40 menit!. Energi penonton yang mengantri masuk stadion terasa seperti reuni keluarga besar metal sedunia. Saling sapa meski tak saling kenal, beberapa penonton yang antri di sekitar saya terlihat terkejut ketika mereka tahu saya datang dari Indonesia untuk menyaksikan perhelatan akbar ini.



Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, saya naik ke tribun atas bagian barat—spot yang sempurna untuk melihat keseluruhan panggung. Dari ketinggian, layar raksasa dan tata panggung dengan layar LED bertuliskan “Back To The Beginning” tampak jelas, memancarkan aura yang begitu ikonik untuk malam yang bersejarah ini. Lebih dari 40.000 penonton memadati stadion, dan semua tahu bahwa mereka hadir untuk menyaksikan satu bab dalam kitab sejarah metal ditutup. Dari ketinggian di tribun itu, saya melihat lautan manusia—bergetar dalam satu ritme yang sama. Rasanya seperti melihat jantung kota Birmingham berdetak melalui ribuan dada yang penuh harap. Kita semua datang membawa satu perasaan: bersyukur bisa hadir. Saya melihat ke sekeliling, orang-orang bersebelahan mengenakan kaos tour dari rentang lima dekade: Paranoid, Masters of Reality, Blizzard of Ozz, No More Tears, 13, hingga kaos event bertuliskan “Back To The Beginning — July 5, 2025”


Aktor Aquaman, Jason Momoa membuka acara dengan gaya khasnya—enerjik, humble, dan antusias seperti seorang metalhead sejati. Dia membuka acara dengan berteriak lantang, “Jutaan penggemar metal di seluruh dunia ingin hadir disini menyaksikan konser terakhir Black Sabbath, dan kalian, adalah 40.000 metalheads yang paling beruntung bisa hadir langsung disini”. Dalam pidatonya, ia menyebut Black Sabbath sebagai band yang “mengubah DNA musik dunia”, bagaimana musik Black Sabbath mempengaruhi hampir semua karakter yang dia perankan dalam film, dan menyatakan bahwa malam itu adalah bentuk penghormatan paling besar yang pernah diberikan sebuah kota kepada band yang dilahirkannya. Kalimat penutupnya mengguncang stadion: “Tonight, we go back to the beginning.” Ya, konser Black Sabbath malam ini seperti kembali ke asal Black Sabbath berdiri, ini adalah konser pertama Black Sabbath bersama drummer formasi awal, Bill Ward, dalam 20 tahun terakhir.



Perhelatan metal akbar siang itu dibuka oleh Mastodon, dengan hantaman beat yang memecahkan udara, riff berat yang meluncur sampai ke langit Birmingham. Mereka terdengar lebih primal dari biasanya, seolah sadar bahwa mereka sedang membuka panggung bersejarah. Mastodon membawakan lagu “Black Tongue” dan “Blood and Thunder.” Namun momen paling meriah adalah ketika mereka membawakan lagu Black Sabbath “Supernaut”—pertama kalinya dalam sejarah mereka—dengan dukungan tiga drummer monster yang memainkan standing toms: Mario Duplantier (Gojira), Danny Carey (Tool), dan Eloy Casagrande (Slipknot).

Rival Sons menyusul dengan groove rock yang lebih bluesy, membawakan lagu mereka “Do Your Worst,” dan “Secret,” dan cover lagu klasik Black Sabbath, “Electric Funeral.” Selanjutnya, salah satu band Big 4 Thrash Metal, Anthrax meneruskan panasnya atmosfer Villa Park dengan anthem mereka “Indians”, saat lagu ini dimainkan, moshing circle pit terbentuk didepan panggung, bergerak liar nyaris non-stop, membakar semangat penonton, bahkan saya yang duduk di tribun ataspun dapat merasakan energi dahsyat tersebut. Sayangnya Anthrax hanya kebagian jatah main dua lagu, mereka menutup set pendek sore itu dengan lagu Black Sabbath “Into the Void.”. Penampilan Anthrax terlihat unik, mereka mengenakan seragam kaos hitam, sisi depan bertuliskan “Sabbath Bloody Anthrax” menggunakan font seperti di cover album “Sabbath Bloody Sabbath”, sementara sisi belakang bertuliskan nama personel Black Sabbath dan angka 666.


Berikutnya Halestorm tampil memukau dengan “Love Bites (So Do I)” dan “Rain Your Blood on Me,” lalu memberi kejutan lewat cover “Perry Mason” milik Ozzy. Lzzy Hale yang tampil dengan gitar explorernya tampak sangat bersemangat, dia mengatakan merupakan suatu kehormatan baginya bisa ikut tampil dalam konser “Back To The Beginning” ini. Lamb of God kemudian mengguncang stadion dengan “Laid to Rest,” “Redneck,” dan selanjutnya mereka membawakan lagu Black Sabbath yang bernuansa gelap, “Children of the Grave.” Energi moshpit benar-benar menggila pada momen ini.



Setelah jeda sejenak, giliran penampilan Supergroup A, all star line-up yang dikomandani Tom Morello, dengan formasi yang berganti setiap lagu. Lzzy Hale, Jake E. Lee, Nuno Bettencourt, David Ellefson, Mike Bordin, Adam Wakeman, David Draiman, Scott Ian, Frank Bello, Whitfield Crane, hingga Yungblud tampil bergantian. Mereka menyuguhkan rangkaian cover Ozzy dan Sabbath seperti “The Ultimate Sin,” “Shot in the Dark,” “Sweet Leaf,” “Believer,” hingga “Changes.” Momen mengharukan hadir saat Jake E Lee tampil bersama Lzzy Hale, Nuno Bettencourt, David Ellefson dan Mike Bordin membawakan lagu “The Ultimate Sin”. Lagu ini ditulis Jake E Lee bersama Bob Daisley, untuk album “The Ultimate Sin” pada tahun 1986. Meski album ini sukses besar, terjual diatas 2 juta kopi, saat tour album ini ketegangan antara Jake E lee dan Sharon, manajer sekaligus istri Ozzy, memuncak akibat sengketa hak penulisan lagu. Keributan ini berujung dengan dipecatnya Jake E Lee dari Ozzy Osbourne band, dan sejak itu komunikasi antara Jake E Lee dan kubu Ozzy terputus. Namun menjelang konser Back To The Beginning ini, Ozzy meminta maaf kepada Jake atas perselisihan dimasa lalu, Jake pun berbesar hati memaafkan Ozzy dan bersedia tampil di konser terakhir Ozzy. Meski permainan gitarnya tidak lagi seprima dulu akibat luka tembak yang dialaminya pada tahun 2024, dengan keterbatasannya, Jake terlihat sangat menikmati tampil kembali membawakan lagu-lagu Ozzy Osbourne. Penampilan Supergroup A ditutup dengan video “Mr. Crowley” tampil dalam bentuk video kolaborasi spesial bersama Jack Black dan sekelompok musisi remaja berseragam sekolah seperti di film School of Rock.

 

 

Alice in Chains kemudian menurunkan tempo ke nuansa gelap dan reflektif. Salah satu pelopor “Seattle Sound” ini membawa “Man in the Box” dan “Would?” sebelum menutup set mereka dengan mengcover lagu Black Sabbath “Fairies Wear Boots,” pertama kalinya mereka membawakan lagu itu. Setelah itu, Gojira menghadirkan intensitas khas mereka lewat “Stranded” dan “Silvera,” lalu mengejutkan semua orang dengan kolaborasi unik “Mea culpa (Ah! Ça ira!)” bersama mezzo-soprano Marina Viotti, sebelum menutup dengan Black Sabbath cover “Under the Sun.”



Salah satu momen paling memukau malam itu adalah Drum-Off yang mempertemukan tiga drummer cadas: Travis Barker, Danny Carey, dan Chad Smith, memainkan “Symptom of the Universe” dengan dukungan Tom Morello, Nuno Bettencourt, dan Rudy Sarzo. Duel ritme, kecepatan, dan improvisasi mereka benar-benar membuat stadion bergemuruh. Supergroup B kemudian tampil dengan melibatkan musisi-musisi Classic Rock, menghadirkan para legenda: Billy Corgan, K.K. Downing, Adam Jones, Rudy Sarzo, Sammy Hagar, Vernon Reid, Travis Barker, Chad Smith, hingga Steven Tyler dan Ron Wood. Setlist mereka sangat liar: dari “Breaking the Law,” “Snowblind,” dan “Flying High Again” hingga “Rock Candy,” “Bark at the Moon,” “The Train Kept A-Rollin’,” “Walk This Way,” dan “Whole Lotta Love.” Ini salah satu segmen paling “all-star” yang pernah ada di konser rock mana pun.



Setelah itu giliran deretan raksasa metal dunia tampil bergantian:
Pantera membawakan “Cowboys From Hell”, “Walk” hingga dua lagu Sabbath cover “Planet Caravan” dan “Electric Funeral.”
Tool tampil misterius dan menghanyutkan dengan “Forty Six & 2,” “Ænema,” dan cover Black Sabbath “Hand of Doom.”
Slayer menghajar stadion dengan rangkaian klasik mereka “Disciple”, “War Ensemble”, “South of Heaven”, “Raining Blood” hingga “Angel of Death,” termasuk kewajiban membawakan lagu Black Sabbath, dimana Slayer membawakan “Wicked World”.


Guns N’ Roses mengejutkan semua orang dengan formasi ramping, tanpa pemain keyboard, tanpa gitaris tambahan, tanpa deretan backing vocals, hanya 5 musisi inti di atas panggung, Axl, Slash, Duff, Fortus dan Ferrer, membawakan empat cover Black Sabbath berturut-turut, mulai dari “It’s Allright”, yang dibuka dengan dentingan piano yang dimainkan Axl. Tempo kemudian naik tinggi saat Guns N’ Roses membawakan lagu “Never Say Die”, “Junior’s Eyes” dan “Sabbath Bloody Sabbath”. lalu menutup dengan “Welcome to the Jungle” dan “Paradise City.”


Metallica tampil sebagai opening act terakhir malam itu, mereka membawakan 6 lagu, 2 lagu Black Sabbath dan 4 lagu sendiri. Set pendek Metallica dibuka dengan cover lagu Black Sabbath “Hole in the Sky,”, disusul dengan “Creeping Death” dan “For Whom The Bell Tolls”. Cover lagu Black Sabbath kembali disajikan dengan apik, kali ini Metallica memilih lagu deep cuts Sabbath “Johnny Blade”. Pilihan lagu ini membuat banyak fans berat Black Sabbath terkejut, pria berusia lanjut yang duduk di belakang saya menepuk bahu saya, saat saya menoleh, dia berkata “Black Sabbath built us all”. Meski kami tak saling kenal, saya dapat merasakan kebahagiaan pria itu melihat pengaruh Black Sabbath yang kuat melintasi berbagai generasi pengemar rock. Dan rasanya tak ada yang bisa membantah pernyataan itu, orang di sekeliling saya mengangguk-angguk setuju dan saling high five merayakan legacy Black Sabbath. Usai lagu Johnny Blade, Metallica kembali menghajar penonton dengan dan lagu-lagu mereka sendiri, “Battery” dan kemudian ditutup dengan “Master of Puppets.”



Panggung dikosongkan sejenak, untuk persiapan puncak konser malam itu, Ozzy Osbourne dan Black Sabbath. Setting panggung Back To The Beginning ini sangat cerdas. Panggung berbentuk lingkaran yang dapat berputar. Setengah lingkaran di depan untuk band yang sedang perform, di saat yang sama, sisi panggung belakang di set up untuk penampil berikutnya. Saat satu band selesai manggung, hanya butuh waktu beberapa menit untuk menaikkan layar LED dan memutar panggung, sampai band berikutnya siap tampil. Pergantian antar band ini hanya memerlukan waktu 7-8 menit saja. Ketika cahaya stadion mulai meredup dan musik pengantar “O Fortuna” menggelegar, Ozzy Osbourne muncul untuk set solonya. Stadion Villa Park langsung bergemuruh. Kursi singgasana Ozzy bergerak perlahan dari tepi panggung menuju tengah panggung. Sejak menderita penyakit Parkinson beberapa tahun lalu, fisik Ozzy memang melemah jauh, dia tak lagi kuat berdiri lama, kondisi kesehatan inilah yang membuat rencana tour Ozzy di Eropa dan Amerika pada tahun 2022 dan 2023 terpaksa dibatalkan. Namun 40.000 penonton di Villa Park malam itu tidak mempermasalahkan Ozzy menyanyi sambil duduk di kursi. Kita semua memahami, ini adalah penampilan terakhir Ozzy sebelum dia benar-benar pensiun dari panggung.

Ozzy membuka konser dengan lagu “I Don’t Know,”, Zakk Wylde bergerak aktif menjelajahi panggung, menutupi keterbatasan gerakan Ozzy. Mike Inez tampil kalem di sisi kiri panggung, sementara Tommy Clufetos menjaga ritme dari drum stoolsnya. Intro kibor dari Adam Wakeman menandakan lagu berikutnya adalah “Mr. Crowley,” dari album “Blizzard of Ozz”. Lagu kontroversial “Suicide Solution,” menyusul dimainkan dengan energik. Di tahun 80an lalu, lagu ini menjadi kontroversi karena diduga menjadi pemicu seorang remaja di Amerika Serikat untuk melakukan bunuh diri. Saat Zaak Wylde memainkan intro gitar “Mama, I’m Coming Home”, stadion Villa Park sontak bergemuruh. Koor massal dari penonton di stadion seolah menutupi vokal Ozzy yang mulai terdengar parau di awal lagu ini. Namun tidak ada yang peduli dengan parau dan falsnya vokal Ozzy, semua memaklumi, semua terhanyut dalam suasana haru, bahkan Ozzy sendiri terlihat mengusap mata dan terdengar terisak, satu momen yang sangat-sangat emosional bagi penonton yang hadir disana. Ozzy menutup set solonya dengan lagu yang menjadi showcase kejeniusan mendiang Randy Rhoads dalam eksplorasi gitar, “Crazy Train.” Meski gerakannya pelan dan suaranya beberapa kali bergetar, penonton memberi dukungan penuh—ini adalah salam perpisahan untuk sang legenda, Zakk Wylde mampu mengeksekusi licks dan solo Rhoads dengan amat sangat baik, satu penutup yang sempurna untuk solo set Ozzy.



Panggung kembali redup, dalam suasana remang, terlihat panggung diputar untuk penampilan puncak malam itu. Untuk penampilan Black Sabbath, panggung dibuat lebih luas, layar LED nya lebih mundur, membuat panggung terlihat lebih megah. Layar LED menyajikan video footage perjalanan karir Black Sabbath diiringi sountrack “Sabbra Cadabra”. Momentum yang bagus sekali untuk membangun hype menjelang penampilan Black Sabbath. Akhirnya, Black Sabbath tampil untuk terakhir kalinya: Tony Iommi, Geezer Butler, dan Ozzy, kembali bergabung dengan drummer original mereka Bill Ward, menjadikan malam itu sebagai penampilan pertama original members dalam 20 tahun terakhir. Suara sirene terdengar meraung, diiringi riff berat dari Iommi, tak salah lagi, Black Sabbath langsung menghantam stadion dengan lagu legendaris “War Pigs”. Ozzy menyanyikan lagu dari singgasananya, Iommi berdiri kalem di sisi kanan panggung, Geezer manteng disisi kiri, dan Bill Ward yang mengenakan kaos hitam, tampak berbeda dengan kepala plontos dan tubuh yang terlihat kurus, namun tetap powerful menghajar set drums dengan ketukan lagu ini yang ganjil dan unik.

Lagu kedua diambil dari album perdana mereka “N.I.B.,” dentuman solo bass Geezer diawal lagu seakan menghipnotis penonton, sebagian penonton menggumam mengikuti nada bass, membuat stadion terasa bergetar pelan. Menjelang akhir lagu, Ozzy mengajak penonton bertepuk tangan mengikuti ritme bass dan drums, semua patuh mengikuti titah The Prince of Darkness. Selesai lagu ini, Bill Ward terlihat melepas kaos hitam yang dia kenakan. Ozzy terlihat mengucapkan sesuatu, namun tidak terdengar di sound system. Belakangan, saya membaca bahwa Ozzy meledek Bill Ward terlihat seperti Gollum, karakter dalam film The Lord of The Rings.

Tanpa banyak basa-basi, Black Sabbath melanjutkan setnya dengan “Iron Man,” Di lagu ini Iommi terlihat lebih aktif menjelajahi sisi kanan panggung, sementara Geezer tetap santai disisi kiri panggung. Usai lagu Iron Man, Iommi memainkan riff legendaris “Paranoid”, stadion langsung bergemuruh, namun hati saya seperti diremas, saya sadar, inilah lagu pamungkas malam ini, inilah lagu terakhir yang dimainkan Black Sabbath diatas panggung sebagai penutup atas karir panjang mereka selama 55 tahun. Black Sabbath, the founding father of Heavy Metal, menuntaskan lagu terakhirnya, di kampung halaman dimana mereka dibesarkan, Birmingham. Sepanjang lagu “Paranoid” saya menatap lekat ke arah panggung, merekam setiap detiknya kedalam memory, penampilan yang tidak akan pernah terulang lagi.

Begitu Paranoid selesai, langit Birmingham meledak oleh kembang api yang gemerlap. Ozzy terlihat tetap duduk di tengah panggung, tangan terangkat, kepala tengadah ke arah langit, siluet di tengah cahaya yang tak ada habisnya, Ditengah hujan confetti yang menutupi pandangan, samar-samar terlihat Iommi dan Geezer mendekati Ozzy, namun Bill Ward tidak terlihat. Dan ketika kembang api terakhir memudar, saya baru sadar bahwa saya bukan hanya baru selesai menyaksikan konser, saya menyaksikan sejarah kembali ke titik awal—dan memberi salam perpisahan kepada legenda yang membawa saya hingga ke sini.

Dua minggu setelah konser akbar Back To The Beginning, tanggal 23 Juli 2025, Ozzy Osbourne meninggal dunia. Metalheads seluruh dunia berduka, dunia musik berduka. Semua merasakan kehilangan Ozzy, The Madman of Metal. Konser Back To The Beginning menjadi salam perpisahan Ozzy untuk selamanya. Meski kondisi kesehatannya sangat menurun, Ozzy berkomitmen penuh untuk menuntaskan karirnya di kampung kelahirannya. Ozzy melupakan berbagai konflik dimasa lalu dengan Bill Ward, dengan Jake E Lee, dia meminta maaf dengan tulus atas permasalahan dimasa lalu, sebelum dia akhirnya berpulang. Ozzy seperti memiliki firasat bahwa hidupnya tidak lama lagi, dengan kondisi kesehatan yang memburuk, dia memaksakan diri membuat acara Back To The Beginning, ikut sesi latihan yang melelahkan, dan dengan sisa energi terakhirnya, Ozzy menyempatkan diri berpamitan pada penggemarnya di seluruh dunia. Farewell legend..!

 

Tinggalkan komentar