
Secara geografis, Cyprus adalah pulau terbesar ketiga di Laut Mediterania setelah Sisilia dan Sardinia, dengan luas sekitar 9.251 km² dan populasi sekitar 1,25 juta jiwa. Ekonomi Cyprus bergantung pada sektor jasa, pariwisata, dan perbankan. Kota Nicosia adalah ibu kota dan satu-satunya ibu kota di dunia yang masih terbelah dua secara administratif dan militer—selatan dikuasai oleh Republic of Cyprus (berbahasa Yunani) dan utara oleh TRNC – Turkish Republic of Northern Cyprus (berbahasa Turki).

Sejarah terpecahnya Cyprus bermula dari ketegangan etnis antara komunitas Yunani dan Turki di pulau ini. Pada 1974, kudeta di Cyprus yang didukung oleh pemerintah Yunani memicu invasi militer oleh Turki, yang kemudian menduduki sepertiga bagian utara pulau. Sejak itu, Cyprus terbagi dua secara de facto. Hanya Republik Cyprus yang diakui oleh PBB, sementara TRNC hanya diakui oleh Turki. Meski begitu, kehidupan di kedua sisi tetap berlangsung, dan wisatawan seperti saya bisa merasakan dua budaya, dua sejarah, dan dua identitas dalam satu perjalanan yang penuh makna. Secara ekonomi Republik Cyprus lebih makmur dengan pendapatan per kapita sebesar USD 38.654 pada tahun 2024, sementara Cyprus Utara memiliki GDP per kapita sebesar USD 15.463.

Perjalanan saya ke Cyprus dimulai pada 10 Juli 2025, berangkat dari Malta dengan penerbangan Emirates EK110 menuju bandara Larnaca, Cyprus. Penerbangan yang memakan waktu 2 jam 25 menit ini menyuguhkan panorama Laut Mediterania yang menakjubkan. Mendarat di Bandara Internasional Larnaca pukul 18.55, saya segera menuju imigrasi. Republik Cyprus tidak termasuk dalam Schengen area, namun pemegang visa Schengen, dapat masuk Cyprus tanpa perlu memiliki visa Cyprus. saya segera naik airport shuttle menuju Nicosia dengan tarif 9 euro. Dari terminal shuttle bus, saya memesan taksi online Bolt menuju Asty Hotel, yang terletak di kawasan tenang Nicosia. Sekitar pukul 9 malam, saya tiba di hotel dan langsung menikmati makan malam hangat di restoran hotel, bersiap untuk eksplorasi esok hari.

Keesokan paginya, 11 Juli, setelah sarapan khas Cyprus di hotel, saya memulai petualangan dengan berjalan kaki menuju Ledra Street Crossing Point, perbatasan yang memisahkan Republik Cyprus dengan Northern Cyprus (TRNC – Turkish Republic of Northern Cyprus). Ledra Street sendiri adalah jalan belanja utama di Nicosia yang penuh toko, kafe, dan jejak sejarah kolonial Inggris.


Sebelum menyebrang, saya menyempatkan diri naik ke Shacolas Tower, menara pengamatan setinggi 50 meter yang menawarkan panorama kota Nicosia secara 360 derajat dengan tiket masuk hanya 2,5 euro. Dari satu sisi menara, kita bisa melihat bendera Turkish Republic of Northern Cyprus berukuran raksasa yang di tempatkan di salah satu bukit, menandakan bahwa wilayah tersebut adalah teritori Cyprus Utara. Setelah menikmati pemandangan dari atas menara, saya menyebrang ke wilayah Northern Cyprus, kawasan yang dikuasai oleh etnis Turki sejak konflik politik tahun 1974.


Untuk memasuki Turkish Republic of Northern Cyprus, warga negara Indonesia tidak memerlukan visa. Ya, kamu nggak salah baca, untuk masuk Cyprus utara, baik melalui perbatasan darat dari Republik Cyprus, ataupun jalur udara dan jalur ferry dari arah Turki, WNI bebas visa untuk memasuki TRNC. Namun, jika kita tidak punya visa Schengen atau visa Republic of Cyprus, WNI tidak bisa memasuki wilayah Republic of Cyprus dari arah Cyprus Utara.



Setelah melewati perbatasan, suasana terasa berubah drastis—arsitektur Ottoman, masjid besar, dan suasana pasar tradisional menciptakan atmosfer berbeda dari sisi selatan. Destinasi pertama saya adalah Buyuk Han, sebuah karavanserai abad ke-16 yang kini menjadi pusat budaya dan kerajinan tangan. Tempat ini dulunya menjadi penginapan para pedagang dan kini dipenuhi toko seni, galeri, serta kafe bergaya Ottoman. Di wilayah TRNC ini mata uang yang lebih banyak dipakai adalah Turkish Lira, meskipun Euro juga diterima secara luas.


Tak jauh dari situ, saya mengunjungi Selimiye Camii, masjid terbesar di wilayah Cyprus Utara yang dulunya adalah Katedral Santa Sophia dari era Gothic. Bangunan ini merupakan simbol sejarah panjang Cyprus—dari era Kristen Katolik hingga Ottoman. Beruntung, saya tiba tepat waktu untuk mengikuti salat Jumat di masjid ini, memberikan pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam. Uniknya, karena Selimiye Camii ini juga merupakan obyek wisata utama di Nicosia Utara, selama jamaah shalat Jumat mendengarkan khutbah Jumat dan saat shalat, wisatawan silih berganti masuk ke area dalam masjid, melihat-lihat keindahan arsitektur masjid.


Karena bulan Juli adalah musim panas (summer), sebagian wisatawan wanita yang melihat-lihat masjid menggunakan tanktop dan celana pendek, namun sepertinya jamaah shalat Jumat di masjid ini sudah terbiasa, mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran wisatawan di dalam masjid. Meskipun masjid ini merupakan masjid terbesar di Nicosia Utara, saat saya shalat Jumat disitu jamaahnya tidak banyak, mungkin hanya sekitar 20% kapasitas masjid yang terisi.


Setelah shalat Jumat, saya melanjutkan kunjungan ke Belediye Pazari, pasar tradisional yang menjual rempah, buah kering, hingga kerajinan tangan, dan menikmati suasana lokal di Ataturk Square serta Nicosia Open Market. Untuk makan siang, saya mampir ke Kelebek Restaurant, restoran sederhana namun otentik yang menyajikan kuliner khas Turki. Saya memesan chicken kebab yang disajikan dengan nasi, roti pipih, dan salad segar—porsi besar dengan rasa yang kaya rempah.

Setelah makan siang, saya kembali ke Ledra Street untuk menyebrang kembali ke sisi selatan Cyprus. Proses imigrasi berjalan lancar, petugas hanya memeriksa apakah saya memiliki visa Schengen, dan mengembalikan paspor tanpa di cap. Sayapun kembali menjelajah bagian kota bagian selatan yang dikuasai Republik Cyprus.


Di sisi selatan Nicosia, saya mengunjungi Famagusta Gate, salah satu dari tiga gerbang utama yang dulunya merupakan bagian dari sistem pertahanan Venesia pada abad ke-16. Gerbang ini kini difungsikan sebagai pusat kebudayaan dan pameran. Dari sana, saya berjalan menuju Cyprus Museum, museum arkeologi terbesar di pulau ini yang menyimpan artefak dari zaman Neolitikum hingga era Romawi. Koleksi patung, keramik, dan alat-alat kuno memberikan gambaran jelas tentang sejarah panjang peradaban di Cyprus.


Tidak jauh dari museum, saya melanjutkan perjalanan ke Arcbishop’s Palace, kompleks arsitektur megah yang merupakan kediaman Uskup Agung Ortodoks Cyprus. Di dalamnya juga terdapat Byzantine Museum dengan koleksi ikon dan manuskrip kuno. Saya juga sempat mengunjungi St. John Cathedral, gereja bergaya Bizantium yang sederhana di luar namun penuh lukisan dinding indah di bagian dalam. Menutup sore itu, saya mampir ke Hamam Omerye, pemandian Turki dari abad ke-14 yang kini berfungsi sebagai spa dan tempat relaksasi.


Hari ketiga, 12 Juli 2025, dimulai dengan sarapan santai di Asty Hotel sebelum saya naik bus menuju Ayia Napa pukul 09.00. Kota resort ini berada di tenggara Cyprus, terkenal dengan pantainya yang berpasir putih dan air laut biru jernih. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, saya tiba di pusat Ayia Napa dan langsung menuju Hard Rock Cafe untuk makan siang. Interior penuh memorabilia musik dan menu klasik Amerika menjadi perpaduan unik di tengah kota pantai Mediterania.



Setelah makan siang, saya menjelajahi Ayia Napa, berjalan santai di Harbour Promenade, area pelabuhan yang ramai dengan kafe dan toko cenderamata. Tak ketinggalan, saya menyempatkan diri menikmati pemandangan laut yang menjadi favorit wisatawan untuk berfoto dan snorkeling.


Sekitar sore hari, saya naik airport bus kembali ke Larnaca untuk mengejar penerbangan pulang ke Jakarta via Dubai. Di pesawat saya cukup beruntung, 3 deret bangku hanya terisi saya sendiri, bisa selonjor di poor man’s business class. Perjalanan kali ini bukan hanya membawa kenangan visual dan rasa, tetapi juga pelajaran sejarah dan pemahaman geopolitik yang unik—karena Cyprus bukan sekadar pulau liburan, melainkan juga simbol pembagian budaya dan identitas di kawasan Mediterania.
