Kalau ngomongin kereta api, yang kebayang pertama pasti KRL yang ngebut di Jabodetabek atau suara klakson panjang dari KA jarak jauh. Tapi pernah nggak sih kamu kepikiran sejak kapan sih kereta api mulai ada di Indonesia?
Ternyata, sejarahnya sudah dimulai dari tahun 1864, lho! Waktu itu, Belanda mulai bangun jalur rel pertama dari Semarang ke Tanggung, buat angkut hasil bumi kayak kopi dan tebu ke Pelabuhan. Lama-lama jalurnya nyambung sampai ke Solo dan Yogyakarta.
Mei 2025, Genk Halan-Halan sepakati jalan “ngabuburit sejarah” keliling tiga stasiun kereta legendaris di Jakarta dan sekitarnya. Ini bukan cuma jalan-jalan biasa, tapi napak tilas yang penuh cerita.
Mulai dari Stasiun Dukuh Atas, kita ngumpul disitu di setasiun moderen yang terhubung ke MRT dan LRT, cocok buat titik awal petualangan. Dari sana, kita naik KRL ke Stasiun Kampung Bandan dan lanjut ke Stasiun Tanjung Priok, destinasi utama kami hari itu.

Setasiun Tanjung Priok : Megah, Putih, dan Penuh cerita
Begitu turun di Stasiun Tanjung Priok, langsung terasa vibes Eropa-nya. Bangunan ini udah berdiri sejak 1925 jadi kami sambil memperingati 100 tahun keberadaan stasiun ini. Desainnya mirip banget sama Amsterdam Central Station. Atapnya tinggi dan melengkung, dindingnya putih bersih. Kesan klasiknya dapet banget!

Yang bikin merinding, di masa kolonial dulu, penumpang Belanda dan pribumi dipisahkan, bahkan ruang tunggu dan restorannya beda kelas sampai juga ke menu makanannya. Hingga sekarang, sisa ruang tunggu itu masih bisa dilihat bentuk fisiknya. Bayangin deh, tempat yang sekarang kita lewati santai dulu jadi simbol pemisahan ras dan status sosial, rasialis namanya.

Lanjut ke Stasiun Jakarta Kota, alias BEOS. Dari Tanjung Priok, kita balik arah dan mampir ke Stasiun Jakarta Kota. Nah, ini dia stasiun legendaris yang mungkin udah sering kamu lewatin kalau main ke Kota Tua. Dibangun sekitar 1870, stasiun ini dulunya dikenal dengan nama BEOS-singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij. Uniknya stasiun ini bertipe terminus alias ujung jalur dan saat peresmiannya dilakukan ritual penanaman kepala kerbau-simbol lokal untuk keselamatan.
Bangunannya punya sentuhan filosofi Yunani, dan sekarang sudah jadi bangunan cagar budaya. Jadi tiap kamu ke Kota Tua, jangan cuma foto-foto, tapi ingat juga, kamu lagi berdiri di salah satu pusat sejarah perkeretaapian nasional.

Stasiun Bogor : Kolonial Tropis dan Nuansa Sejuk
Nggak lengkap rasanya kalau nggak mampir ke Stasiun Bogor, 105 menit butuh waktu dari Stasiun Beos ke Stasiun Bogor dengan KRL. Stasiun dibuka sejak 1881, desainnya bergaya Indisch Empire, khas kolonial tapi tetap cocok dengan iklim tropis. Uniknya, sejak 1930, stasiun ini sudah dilewati kereta listrik-jauh sebelum KRL semoderen sekarang. Selain jadi ujung rel KRL Jakarta-Bogor, stasiun ini juga jadi titik awal KA Pangrango menuju Sukabumi. Di dalam stasiun ada prasasti legendaris setinggi satu meter yang makin menambah aura historis. Cocok banget buat kamu yang suka jalan-jalan dengan sentuhan nostalgia.

Buat kami, perjalanan ini bukan cuma soal naik & turun KRL, tapi juga soal menyerap cerita dari tiap bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Mulai dari peron, ruang tunggu, sampai desain langit-langitnya semuanya seperti mengajak ngobrol tentang masa lalu. Kereta api di Indonesia memang udah berubah. Dari rel yang awalnya dibuat buat kepentingan ekonomi kolonial, sekarang jadi penghubung kehidupan sehari-hari rakyat.

Kamu bisa bikin “mini tur sejarah” sendiri bareng teman-teman. Karena kadang, cerita paling seru bukan yang di museum, tapi yang masih hidup di sekeliling kita.
Naskah dan Foto : Lutfi Djoko D (l.sriyono@gmail.com)