
Memasuki hari kedelapan perjalanan kami di Caucasus, Jumat 4 April 2025, kami bersiap meninggalkan Georgia menuju Armenia. Sekitar jam 10 pagi, kami berangkat dari hotel Glarros Old Town menuju Armenia. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, kami tiba di Sadakho, kota perbatasan antara Georgia dengan Armenia. Hubungan politik dan bisnis antara Georgia dan Armenia cukup baik, sehingga mobil warga dari kedua negara bisa melintas di perbatasan darat ini, saat keluar dari imigrasi Georgia, kami tidak perlu menurunkan barang-barang bawaan di mobil, namun demikian, saat memasuki imigrasi Armenia, bagasi kami harus dibawa turun untuk pemeriksaan bea cukai. Proses imigrasi masuk Armenia relatif cepat, tak sampai 10 menit, keluarga kami telah melewati imigrasi Armenia. Namun untuk mobil yang kami tumpangi, harus menjalani proses asuransi, sehingga kami harus menunggu sekitar setengah jam sampai guide kami Gega menyelesaikan administrasinya.

Usai urusan asuransi, Gega mengajak kami mampir di money changer dekat perbatasan, karena dia juga perlu menukar Georgian Lari yang dia bawa ke Armenian Dram. Sekalian saya ikut menukarkan sisa Lari yang masih ada di dompet dan juga menukar uang Euro, untuk keperluan sehari-hari di Armenia. Kurs matau uang Dram saat itu sekitar Rp 43 per Dram. Tanpa saya sadari, saat saya menyerahkan Lari dan Euro ke teller, ada selembar sisa uang Manat Azerbaijan terbawa. Tellernya mengembalikan uang Manat tersebut sambil memberikan isyarat tangan menyobek uang. Armenia dan Azerbaijan memang bermusuhan. Kedua negara ini tidak punya hubungan diplomatik sejak Uni Sovyet bubar tahun 1991. Konflik Armenia dengan Azerbaijan dipicu oleh perebutan wilayah Nagorno-Karabakh di perbatasan kedua negara, perebutan wilayah ini bahkan sudah mulai terjadi di era Uni Sovyet pada tahun 1988. Pasca bubarnya Uni Sovyet, perang berlanjut hingga tahun 1994. Saat ini, dunia internasional mengakui Nagorno-Karabakh sebagai wilayah Azerbaijan, namun Armenia masih belum sepenuhnya menerima fakta tersebut.



Setelah menukar uang dan membeli minum serta snacks, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan pertama Haghbat Monastery, kompleks gereja abad ke-10 yang terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO. Bangunannya berdiri kokoh di tengah lanskap perbukitan hijau. Batu-batu hitam yang menyusun gereja tampak kokoh dan sunyi, menciptakan suasana spiritual yang kuat. Pemandangan dari sini luar biasa, lembah-lembah yang dalam dan udara pegunungan yang sejuk. Halaman gereja ini juga dipenuhi makam uskup dan pengurus gereja selama beberapa abad terakhir. Agak sungkan rasanya menginjak-injak batu makam untuk menuju gereja, tapi guide kami menyampaikan itu hal biasa di Caucasus. Biasanya saat memasuki gereja, warga sana juga berdoa kepada para uskup yang dimakamkan disana.


Tak jauh dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke Sanahin Monastery, biara “kembaran” dari Haghbat yang juga kaya sejarah. Dalam bahasa Armenia, Sanahin berarti “lebih tua”, merujuk pada sejarah gereja ini lebih dahulu dibangun dari gereja Haghbat. Lorong-lorong batunya terasa sunyi dan mistis. Di dalamnya, cahaya masuk dari celah-celah dinding dan atap, menciptakan atmosfer yang sangat khas biara-biara kuno Armenia.



Ada beberapa chapel didalam kompleks gereja ini. Aula gereja utama memiliki kubah yang disainnya memungkinkan cahaya matahari masuk dengan biasan cahaya yang indah, membuat aura religius gereja ini terasa semakin kuat. Saat kami berada di Sanahin monastery, di chapel yang lebih kecil beberapa jemaat gereja sedang melakukan peribadatan dengan menyanyikan lagu-lagu pujian dipimpin oleh seorang pendeta. Harmoni vokal yang dibawakan mengingatkan saya pada lagu-lagu group vokal Gregorian – Masters of Chant yang cukup populer diawal tahun 2000an.



Selanjutnya kami menuju kota Alaverdi, kota industri pertambangan yang menjadi persinggahan wisatawan dalam perjalanan menuju ibukota Armenia, Yerevan. Pada era Uni Sovyet, Alaverdi adalah kota industri tembaga yang menyuplai kebutuhan tembaga Uni Sovyet. Tahun 80an, populasi kota ini mencapai sekitar 30 ribu jiwa, sebagian besar bekerja di industri pertambangan. Sejak Uni Sovyet bubar, perlahan industri tembaga di kota ini meredup. Banyak pabrik tutup, karena dulunya dimiliki oleh Uni Sovyet. Akibatnya, banyak warga yang meninggalkan Alaverdi dan mencari kerja di kota lain, membuat populasi kota ini menyusut hingga sekitar 10 ribu jiwa. Hal ini membuat Alaverdi tampak seperti kota hantu. Pabrik-pabrik kosong tanpa kegiatan, puluhan gedung apartemen kosong melompong tanpa penghuni, bahkan sebuah cable car yang dulunya digunakan untuk mengangkut karyawan tambang, dibiarkan menggantung tak bergerak di kabel udara. Suasanyanya sunyi dan mencekam, seperti film-film post-apocalyptic buatan Hollywood.



Kami berhenti untuk makan siang di pinggir kota Alaverdi. Ada sebuah restoran yang terletak di tebing dekat gua alam yang juga digunakan sebagai gereja. Mendz Er cave restaurant namanya. Kami mencicipi masakan rumahan khas Armenia, seperti khorovats (barbeku daging) dan roti lavash hangat. Rasa makanan Armenia terasa lebih berbumbu dan lebih enak dibandingkan makanan Georgia dan Azerbaijan. Pemandangan dari restoran ini cantik sekali, kita bisa melihat pegunungan di sekitarnya, juga bisa melihat kota Alaverdi dari ketinggian, jika dilihat dari jauh, kota Alaverdi tidak terlalu kelihatan suasana sunyi dan mencekamnya.


Perjalanan kami sore ini berlanjut menuju Danau Sevan (Lake Sevan), danau terbesar di Armenia yang terletak di ketinggian lebih dari 1.900 meter di atas permukaan laut. Airnya berwarna biru kehijauan dan dikelilingi pegunungan. Kami singgah di tepian danau untuk menikmati angin sore, serta melihat Sevanavank Monastery yang berdiri di atas bukit kecil, menghadap langsung ke danau. Suasananya sangat damai dan fotogenik. Di sekitar danau ini banyak penjual juice delima (pomegranate). Buah delima di peras dengan mesin pres tangan, tanpa dicampur air, 100% jus murni. Untuk satu gelas juice, bisa menghabiskan 3-4 buah delima segar, rasanya manis segar dan ada sedikit rasa kesat.


Sekitar jam 7 malam kami melanjutkan perjalanan menuju Yerevan dan tiba di pusat kota sekitar jam 8 malam. Kami menginap di North Avenue Stellar hotel, yang berlokasi di kawasan pusat perbelanjaan Pushkin Street. Dari jendela kamar hotel kita bisa melihat keramaian sekitar north avenue dan pemandangan pegunungan Ararat yang mengelilingi kota Yerevan. Di hotel ini kami mendapatkan suite room dengan 2 kamar dan living room, lengkap dengan dapurnya, sehingga malam ini kami memutuskan untuk makan di kamar dengan sedikit memasak ditambah makanan takeaway.

Sabtu, 5 April 2025, kami memulai hari dengan sarapan di hotel. Sekitar jam 9.30, Gega menjemput kami di hotel, kali ini dia membawa seorang teman, local guide dari Yerevan yang akan menemani kami berwisata. Tujuan pertama pagi ini, kami meluncur ke arah timur Yerevan untuk mengunjungi Biara Geghard (Geghard Monastery), salah satu gereja paling terkenal di Armenia. Kompleks gereja ini unik, sebagian bangunannya dipahat langsung ke dinding gunung, menciptakan kombinasi luar biasa antara arsitektur dan alam.



Suasana di dalam sangat tenang, bahkan terasa mistis, dengan gema doa yang terdengar lembut. Ada dua ruang gereja di Geghard monastery ini, bangunan utama di lantai bawah dengan aula yang besar, satu lagi ruangan chapel di bagian atas batu gunung. Kedua ruangan ini terhubung dengan lubang kecil, sehingga jika kita berada di ruangan atas, kita bisa melihat aktivitas dan mendengar suara dari aula utama gereja. Kompleks Geghard ini juga termasuk dalam situs warisan budaya dunia UNESCO.



Kompleks gereja ini terletak di tepi sungai Azat. Diatas sungai Azat ini ada sebuah jembatan batu yang menghubungkan Geghard monastery dengan area taman di seberang sungai. Bentuk jembatan yang unik terbuat dari batu yang disusun melengkung menjadikan jembatan ini sebagai satu spot foto favorit. Untuk berfoto di jembatan ini pengunjung musti antri.

Sekitar 5 menit dari Geghard monastery, kami diajak mampir ke kedai warga yang membuat roti tradisional Armenia, lavash. Ibu-ibu di kedai ini mengolah adonan terigu dengan cara tradisional dan rotinya dipanggang di tungku tanah liat. Rasanya gurih dan sedikit asin dengan tekstur tipis dan crunchy.

Selanjutnya kami mengunjungi obyek wisata Symphony of Stones (Symphony of Garni). Komplek ini merupakan formasi batuan alami yang menyerupai deretan pipa organ raksasa. Batuan basalt berbentuk kolom-kolom heksagonal ini merupakan hasil dari aktivitas vulkanik dan erosi yang unik, terbentuk selama jutaan tahun. Pemandangannya menakjubkan dan sangat cocok untuk foto-foto, saat kami disana, ada sepasang pengantin yang menjadikan lokasi ini sebagai lokasi wedding photo mereka. Kompleks wisata Symphony of Stones juga merupakan salah satau lokasi hiking favorit bagi warga Armenia. terdapat beberapa hiking trails dengan tingkat kesulitan dan waktu tempuh yang berbeda. Namun karena waktu kami di lokasi ini tidak banyak, saya tidak sempat mencoba hiking trail yang ada disana.



Kami lanjut ke Garni Historical and Cultural Museum, lokasi Kuil Garni, satu-satunya kuil bergaya Yunani-Romawi di kawasan Caucasus. Berdiri megah di tepi tebing, kuil ini menjadi simbol warisan pra-Kristen Armenia. Diperkirakan, kuil ini dibangun sekitar 100 tahun sebelum masehi, sebagai kuil pemujaan kepada dewa matahari, Mihr. Pada abad 17, kuil ini runtuh akibat gempa bumi. Kuil ini lama dibiarkan runtuh, dan baru digali kembali pada abad 20. Restorasi penuh berlangsung antara tahun 1969-1976 oleh pemerintahan Uni Sovyet. Sejak kuil ini selesai direstorasi, sebagian penganut neo-paganism di Armenia menjadikan kuil ini sebagai kuil utama mereka. Di sekitar kuil ini juga terdapat reruntuhan pemandian Romawi dan reruntuhan gereja yang terletak persis di sebelah kuil Garni. Gereja ini turut hancur akibat gempa pada abad ke 17, menyisakan pondasi dan bagian tembok setinggi 1 meter, hingga saat ini gereja ini tidak direstorasi. Di beberapa bagian dari kuil ini, kita bisa melihan pahatan aksara arab, yang menandakan wilayah ini pernah dikuasai kerajaan Persia, salah satu teori sejarah menyebutkan kuil ini pernah dikonversi menjadi masjid pada abad 10-11.




Siang harinya kami kembali ke pusat kota dan makan siang di Shererep Restaurant. Guide kami merekomendasikan beberapa makanan khas Armenia, antara lain Ghapama Lavash, daging sapi dan kacang merah yang dimasak dalam buah labu. Saat memesan menu ini kami diinformasikan bahwa memasaknya lama, perlu sekitar 45 menit, namun karena penasaran, kami tetap memesan menu tersebut. Rasanya, aduhai lezatnya, bagi saya, ini adalah makanan paling enak selama perjalanan kami di Caucasus ini. Kami juga memesan fried khinkali Armenia, yang sedikit berbeda dengan steamed khinkali yang banyak tersedia di Georgia.


Usai makan siang (yang kesorean), kami diantar kembali ke hotel dan selanjutnya acara bebas. Kami memanfaatkan waktu sore ini dengan berjalan kaki di sekitar pusat kota Yerevan, menikmati atmosfer kosmopolitan khas ibukota Armenia. Alun-alun Republic Square yang luas, air mancur musikal, bangunan theater bergaya Soviet-klasik, serta jalan-jalan yang ramai dengan toko dan kafe.


Kami juga mampir ke Hard Rock Cafe Yerevan, satu-satunya Hard Rock Cafe yang masih tersisa di wilayah Caucasus. Sebelumnya pernah ada Hard Rock Cafe di Baku dan Tbilisi, namun keduanya telah tutup sejak beberapa tahun lalu. Hard Rock Cafe Yerevan juga menjadi salah satu testamen atas kontrbusi bangsa Armenia untuk musik rock dunia. Beberapa penyanyi dan band rock terkenal, merupakan keturunan Armenia, seperti Cher, band System of A Down dan juga keluarga Kardashian. Beberapa memorabilia yang dipajang di Hard Rock Cafe Yerevan ini merupakan sumbangan dari Cher dan juga Serj Tankian, vokalis dari band System of A Down.



Hari terakhirdi Caucasus, Minggu 6 April 2025, kami isi dengan tur kota Yerevan yang lebih santai namun tetap menarik. Kami mengunjungi patung Mother of Armenia, simbol kekuatan dan perlindungan negara. Di kompleks ini juga dipajang berbagai peralatan militer Armenia, mulai dari pesawat tempur, tank, canon dan truk miiter. Dari sini, kami bisa melihat panorama kota yang dikelilingi pegunungan, termasuk Gunung Ararat yang terkenal, meski letaknya kini di wilayah Turki, gunung ini tetap sangat bermakna bagi rakyat Armenia. Di teras depan patung mother of Armenia ini terdapat api abadi, yang merupakan simbol kekuatan dan semangat bangsa Armenia yang tak pernah padam.


Kami lalu menuju Cascade Complex, tangga raksasa yang menghubungkan bagian bawah dan atas kota Yerevan. Ratusan anak tangga yang sangat lebar menjadikan tempat ini unik dan fotogenik. Kompleks ini juga menjadi galeri seni terbuka, dengan patung-patung kontemporer, air mancur, dan taman-taman yang tertata rapi. Gega mengajak kami naik ke atas. Setelah melewati ratusan anak tangga dan kira-kira sudah menempuh 3/4 perjalanan menuju puncak, anak saya Rizki iseng melihat ke jendela kaca galeri seni di sisi kiri tangga. Ternyata di dalamnya ada eskalator. Rupanya pengunjung yang malas mendaki ratusan anak tangga bisa naik dari bawah menggunakan eskalator sampai ke puncak. Akhirnya kami meneruskan 1/4 perjalanan ke puncak dengan eskalator ini. Dari puncak Cascade, pemandangan Yerevan terlihat sangat indah. Tidak sia-sia ngos-ngosan berusaha mencapai puncak dengan naik tangga. Rasa kesal dan lelah hilang sirna setelah melihat pemandangan indah dari puncak Cascade ini.


City tour kami di Yerevan berlanjut ke Vernissage Market, pasar seni terbuka yang menjual segala macam kerajinan tangan, lukisan, perhiasan, dan suvenir. Ini tempat yang sempurna untuk mencari oleh-oleh khas Armenia. Selain souvenir, di pasar ini juga banyak terdapat penjual barang bekas, mulai dari buku, piringan hitam sampai peralatan rumah tangga. Sayang kami tak punya banyak waktu untuk mengeksplorasi pasar yang cukup luas ini. Kami masih harus makan siang, dan untuk makan siang terakhir di Caucasus, kami memilih Lavash Restaurant, restoran elegan yang menyajikan kuliner tradisional Armenia dengan presentasi modern. Rasanya luar biasa, boleh dibilang, dari ketiga negara Caucasus yang telah kami kunjungi, makanan yang paling enak adalah makanan Armenia, sebuah penutup manis sebelum perjalanan berakhir.



Sore hari sekitar jam 14.00 kami menuju Bandara Internasional Yerevan, dengan hati yang penuh cerita dan mata yang masih menyimpan panorama indah dari tiga negara Caucasus yang luar biasa ini. Sampai di bandara, kami berpisah dengan Gega yang telah mengantar dan menemani kami selama 7 hari di Georgia dan Armenia. Semoga bisa bertemu lagi dengan sahabat baru kami ini di lain waktu. Kami segera menuju counter check in Air Arabia. Pesawat kami dijadwalkan bertolak dari Yerevan jam 17.20 sore menuju Sharjah, dilanjutkan dengan penerbangan dari Sharjah ke Bangkok, Thailand.

Armenia menyuguhkan kekayaan sejarah yang dalam, lanskap alam yang dramatis, dan pengalaman spiritual yang menyentuh. Dalam tiga hari, kami merasa telah menelusuri jejak zaman kuno, merasakan ketenangan biara-biara gunung, hingga menikmati nuansa urban modern kota Yerevan. Makanan khas Armenia yang lezat memperkaya pengalaman kuliner kami dan merupakan highlight dari perjalananan kami di Caucasus. Armenia menutup petualangan Caucasus kami dengan sempurna, penuh kenangan yang hangat dan tak terlupakan.