England Rules the Waves, berasal dari lagu patriotik Inggris berjudul Rule, Britannia! yang pertama kali dinyanyikan pada abad ke-18. ungkapan ini mencerminkan kejayaan maritim dan kekuatan angkatan laut Inggris, terutama selama era Kolonial dan kejayaan Kerajaan Inggris.

Ini juga menggambarkan dominasi Inggris dalam pelayaran perdagangan laut, dan kekuatan militer angkatan laut. Jadi keseluruhan, ungkapan ini merupakan bentuk kebanggaan nasional terhadap superioritas Inggris di laut. Di hari Sabtu 08 Pebruari 2025 lalu kami bersama komunitas Sahabat Museum menapaki sejarah keberadaan Kolonial Inggris di Batavia.

Periode awal abad ke-19 menjadi saksi dari meluasnya panggung perang Napoleon ke wilayah Timur, termasuk pulau Jawa. Pada tahun 1810, Belanda yang saat itu telah tunduk di bawah kekuasaan Perancis menyerahkan seluruh wilayah jajahannya kepada kekaisaran Napoleon, Jawa pun jatuh ke tangan Perancis. Di sisi lain, Inggris terus memerangi kekuasaan Perancis, termasuk di koloni-kolonimya.

Pada 04 Agustus 1811, Majalah National Geographic Indonesia mencatat Inggris meluncurkan ekspedisi militer lewat laut terbesar sebelum Perang Dunia II, dengan mengerahkan 12.000 tentara dan 100 kapal perang. Armada ini berlabuh di teluk Jakarta dan mendarat di Cilincing, saat itu Cilincing darah berawa disinilah menunjukkan kehandalan angkatan laut Kerajaan Inggris dalam mengatur operasi amfibi, yang mampu menyerang dari arah tak terduga.

Pasukan kemudian melintasi sungai Ancol, menembus kota Batavia yang tak lagi bertembok akibat kebijakan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), lalu bergerak menuju Meester Cornelis (Jatinegara) yang berada di Selatan Weltevreden (Sawah Besar). Satu perkampungan berbenteng dibangun Daendels di Meester Cornelis dengan tujuan sebagai pusat pertahanan utama jika serdadu Inggris menyerbu. Selokan alir membentang di belakang Jalan Matraman Raya di sepanjang Jalan Palmeriam 2 yang memotong Jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Pusat, digunakan sebagai jalan susur balatentara Inggris.

Jatinegara memegang peran penting dalam transisi kekuasaan di pulau Jawa dari tangan Belanda ke tangan Inggris. Pertempuran besar pun terjadi, terutama di kawasan pertahanan Perancis. Ledakan Gudang amunisi Perancis menyebabkan kehancuran & keheningan mencekam muncullah nama “Gang Solitude” (kesunyian), sekarang Jalan KH. Ahmad Dahlan Jakarta Timur. Wilayah Rawa Bangke yang dipenuhi jasad tentara kini dikenal sebagai Rawa Bunga Jakarta Timur. Setelah garis pertahanan Perancis jebol, sisa pasukan lari dan akhirnya menyerah di Tuntang dekat kota Salatiga Jawa Tengah.

Letkol William Campbell, perwira Inggris, gugur dalam pertempuran ini. Awalnya dimakamkan di halaman gedung kantor Pos Besar Pasar Baru, 100 tahun kemudian jasadnya dipindahkan ke Gereja Anglikan di Jakarta Pusat. Gereja yang terletak di dekat Tugu Tani ini menjadi Lembaga berbahasa Inggris tertua di Indonesia. Gereja memiliki arsitektur khas Eropa dan dikelilingi taman rindang serta gazebo, oase di tengah hiruk pikuknya kota Jakarta.

Warisan Inggris lainnya di Jakarta ialah Jakarta Cricket Club di jalan Borobudur-Menteng Jakarta Pusat dan sekarang menjadi bagian dari kampus Universitas Pancasila dulunya merupakan pusat kehidupan sosial ekspatriat. Bangunan satu lantai yang panjang itu masih dapat dikenali dari menara jam di atapnya. Bekas lapangan cricket masih difungsikan sebagai lapangan olah raga dikenal sebagai lapangan Borobudur. Menunjukkan bagaimana pengaruh Kolonial Inggris tidak hanya berdampak dalam militer, tetapi juga budaya dan arsitektur di Nusantara.

Naskah : Lutfi Doko D (lutfidjoko@gmail.com)
Foto : Lutfi Djoko D, Google maps, National Geographic Indonesia